Jawa Tengah Genjot Pembangunan Embung untuk Perkuat Lumbung Pangan Nasional
METROJATENG.COM, BREBES – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memasang target tinggi dalam penguatan infrastruktur pertanian pada 2025. Salah satunya melalui pembangunan jaringan embung di berbagai wilayah sebagai langkah strategis menjaga pasokan air irigasi dan menghadapi ancaman kekeringan yang kerap terjadi di sejumlah daerah sentra produksi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jateng, Henggar Budi Anggoro, menjelaskan bahwa pada tahun anggaran 2025 pemerintah daerah mengalokasikan dana sebesar Rp118 miliar untuk 24 paket pekerjaan, termasuk pembangunan delapan embung baru serta rehabilitasi dua embung yang telah ada.
Menurut Henggar, keberadaan embung menjadi instrumen penting dalam mendukung stabilitas produksi pangan. Selain memperkuat sistem irigasi, embung juga membantu menjaga suplai air saat musim kemarau, sehingga petani tetap dapat berproduksi tanpa bergantung pada sumber air sungai yang biaya operasionalnya lebih tinggi.
“Pembangunan embung ini merupakan bagian dari penguatan ketahanan pangan dan kami pastikan seluruh proyek rampung tahun ini,” jelasnya.
Delapan embung baru tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dengan kapasitas tampung bervariasi, antara lain Embung Salam (10.916 m³), Embung Selur (25.693 m³), Embung Rondo Kuning (24.292 m³), Embung Geblok (6.450 m³), Embung Karangjati (70.875 m³), Embung Kemurang Wetan (12.468 m³), Embung Tegalwulung (10.747 m³), dan Embung Plosorejo (25.145 m³).
Upaya ini juga sejalan dengan komitmen Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi untuk memperkuat infrastruktur pertanian secara berkelanjutan dan mengokohkan Jawa Tengah sebagai daerah penyangga pangan nasional.
Embung Kemurang Wetan
Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah pembangunan Embung Kemurang Wetan di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, yang kini telah mencapai 80 persen. Keberadaan embung ini disambut baik masyarakat, khususnya petani bawang merah yang selama ini sangat bergantung pada sumber air terbatas.
Kepala Desa Kemurang Wetan, Dustam, mengatakan pembangunan embung tersebut menjadi solusi nyata atas permasalahan kekurangan air yang selalu muncul saat kemarau.
“Biasanya petani hanya bisa menanam dua kali karena air sangat minim. Embung ini menjadi jawaban agar kebutuhan air irigasi tetap terpenuhi,” ujarnya.
Embung berkapasitas lebih dari 12 ribu meter kubik itu diperkirakan mampu mengairi lebih dari 40 hektare lahan pertanian di sekitarnya.
Petani bawang setempat, Sukim, juga merasakan manfaat yang besar dari proyek tersebut. Menurutnya, selama ini petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengambil air dari sungai, bahkan sebagian terpaksa tidak menanam di musim kemarau.
“Kalau kemarau kami sering berhenti tanam karena air susah dan biayanya tinggi. Sekarang ada embung, kami punya harapan baru,” tuturnya.
Comments are closed.