Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kasus HIV/AIDS di Jateng Meningkat, Wakil Ketua DPRD Dorong Tes Dini dan Hapus Stigma

METROJATENG.COM, SEMARANG – Kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah kembali menjadi perhatian serius. Data Dinas Kesehatan mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2025, tercatat 3.028 kasus baru. Sementara itu, 22.410 orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) masih rutin menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).

Kondisi ini membuat Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Setya Arinugroho, menegaskan pentingnya penguatan langkah pencegahan sebagai kunci utama menekan penularan.

“Kasus baru masih terus bermunculan. Ini berarti upaya pencegahan belum sepenuhnya optimal. Pencegahan harus diperkuat agar laju penularan bisa ditekan,” ujar Setya Ari.

Menurutnya, pencegahan yang efektif tidak cukup hanya dengan kampanye, tetapi juga perlu memperluas layanan tes sukarela (VCT) dan mobile VCT agar masyarakat dapat melakukan deteksi dini. Tes ini dinilai penting karena masih banyak orang yang tidak mengetahui status kesehatannya akibat rasa takut atau malu.

“Fenomena gunung es bisa saja terjadi. Angka yang tercatat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak yang enggan tes. Layanan tes dan edukasi harus berjalan bersama agar rantai penularan bisa cepat diputus,” jelasnya.

Caption Foto : Wakil Ketua DPRD Jateng, Setya Arinugroho. (Foto : Dok. Tim Setya Ari).

 

Hapus Stigma Negatif

Selain perluasan layanan, Setya juga menyoroti tantangan besar berupa stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Stigma sosial kerap membuat orang takut untuk memeriksakan diri atau menjalani pengobatan, padahal keterbukaan menjadi langkah awal pencegahan.

“ODHIV berhak atas layanan kesehatan dan kehidupan sosial tanpa stigma. Dukungan masyarakat menjadi kunci agar mereka tidak terpinggirkan,” tegasnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menambahkan bahwa penanggulangan HIV/AIDS perlu dilakukan secara lintas sektor. Pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), serta komunitas pegiat HIV/AIDS harus bergerak bersama agar intervensi pencegahan lebih efektif.

“Sinergi ini perlu diperluas sampai tingkat kabupaten dan kota agar upaya pencegahan lebih terarah,” ujar Taj Yasin.

Selain memperluas akses layanan, Taj Yasin juga menekankan pentingnya penguatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di daerah, agar mampu menjadi garda terdepan dalam edukasi dan pelayanan masyarakat.

Edukasi, Kunci Menuju “Three Zero” 2030

Pemerintah menargetkan pencapaian “Three Zero” pada tahun 2030: nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol diskriminasi terhadap ODHIV. Untuk mencapainya, Setya Arinugroho menilai perlu konsistensi program pencegahan, pemerataan layanan tes, dan edukasi publik.

“Jika masyarakat berani memeriksakan diri, memahami cara penularan, dan menghentikan stigma, maka kita bisa memutus mata rantai penularan lebih cepat,” ujarnya menutup pernyataan.

Dengan penguatan kolaborasi lintas sektor, dukungan sosial, serta keberanian masyarakat untuk peduli dan terbuka, Jawa Tengah diharapkan dapat menjadi daerah yang lebih sehat, inklusif, dan bebas dari stigma HIV/AIDS.

Comments are closed.