Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Pelatihan SI APIK Jadi Titik Balik Arneta Sabela Mengelola Usaha Batik

METROJATENG.COM, SEMARANG – Di balik setiap lembar batik yang indah, ada kisah perjuangan seorang perajin yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Begitu pula dengan Arneta Sabela, pemilik Batik Puspa Laras, yang kini tak lagi pusing mencatat keuangan secara manual berkat pelatihan aplikasi keuangan digital SI APIK ( Sistem Informasi Aplikasi Informasi Keuangan).

Sebagai alumni MIPA Jurusan Kimia Universitas Muhamadiyah Semarang (Unimus), Arneta terbiasa berpikir analitis. Namun, saat mengelola keuangan usahanya, ia sempat kewalahan.

“Dulu saya mencatat keuangan manual di Excel. Capek banget, kadang sampai lupa input, dan akhirnya data keuangan saya berantakan,” tuturnya sambil tersenyum mengenang masa-masa itu.

Perubahan besar terjadi ketika Arneta mengikuti pelatihan SI APIK yang digelar oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) kota Semarang. Dari situlah ia mengenal aplikasi SI APIK yang dikembangkan oleh Bank Indonesia untuk membantu pelaku UMKM mencatat keuangan secara digital, sederhana, dan transparan.

“Begitu tahu ada pelatihan ini, saya langsung daftar. Mentor bilang, kalau mau naik kelas, keuangan harus sehat dulu. Dan itu benar banget,” kata Arneta.

Selama tiga bulan pendampingan, Arneta mulai belajar memasukkan data pemasukan dan pengeluaran harian ke dalam aplikasi. Awalnya terasa rumit, tapi perlahan ia menemukan ritmenya.

“Awal-awal sempat bingung dan sempat minus, saya pikir rugi, padahal untubg. Ternyata dalam perhitungan  ada salah input,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Kesalahan demi kesahana  dapat diatasi ,karena setiap pelatihan ada  sesi evaluasi rutin setiap minggu. Mentor langsung membantu melakukan pengecekan  dan mengkoreksi  setiap ada kesalahan.

“dari evaluasi yang dilakukan oleh mentor setiap pelatihan, akhirnya  saya makin paham.” katanya usai menerima hadiah sebagai juara 1 pada pelatihan SIAPIK di Quest Hitel Semarang, Kamis (23/25/2025)

Kini, ia bisa melihat laporan keuangan, neraca, hingga grafik keuntungan setiap bulan hanya lewat ponsel. Bagi Arneta, hal itu menjadi titik balik dalam pengelolaan bisnis batiknya.

“Dulu saya cuma merasa usaha saya jalan aja. Tapi sekarang saya tahu jelas,  bulan ini untung, bulan itu turun, kenapa bisa begitu. Jadi saya bisa ambil keputusan lebih cepat,” jelasnya.

Selain memudahkan pencatatan, SI APIK juga membuka peluang baru. Arneta mulai berani berbicara dengan pihak bank untuk mengakses permodalan karena sudah punya laporan keuangan yang rapi.

“Bank pasti lebih percaya kalau data kita lengkap. Ini modal besar untuk berkembang,” ujarnya.

Dua tahun menekuni Batik Puspa Laras, Arneta kini bukan hanya dikenal karena motif batiknya yang elegan, tetapi juga sebagai contoh UMKM yang berani bertransformasi digital. Ia berharap semakin banyak pelaku usaha yang mengikuti jejaknya.

“Sekarang semua serba digital, jadi kita juga harus adaptif. SI APIK itu bukan cuma soal angka, tapi tentang bagaimana kita belajar jadi pengusaha yang profesional,” tutupnya dengan senyum yakin.

Arneta dalam mengelola bisnisnya mengajak para mahasiswa untuk belajar membatik. Menurutnya banyak juga mahasiswa yang tertarik belajar membatik, untuk menambah uang saku.

“Ada sekitar 6 mahasiswa Unimus yang membantunya. Disaat tidak ada kuliah, para mahasiswa ini membantu membatik dan memasarkan hasil jerih payahnya,” ungkap Arneta dengan bangga. (*)

 

Comments are closed.