Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Petani di Lereng Sumbing Bertahan dengan ‘Tumpangsari’ di Tengah Anjloknya Harga Sayur

METROJATENG.COM, MAGELANG – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Magelang, dalam beberapa pekan terakhir membuat harga berbagai komoditas sayuran di tingkat petani turun drastis. Meski begitu, para petani di Desa Sukomakmur, Kecamatan Kaliangkrik, punya cara tersendiri agar tetap bisa bertahan, sistem tumpangsari, atau menanam beberapa jenis tanaman sekaligus dalam satu lahan.

Mugiyo, salah satu petani di desa tersebut, menuturkan bahwa strategi tumpangsari telah menjadi penyelamat di tengah cuaca yang sulit diprediksi.

“Sejak awal saya tanam cabai, selada, loncang, dan sawi sendok biar panennya bergantian,” ujarnya,

Menurut Mugiyo, hujan yang turun hampir setiap hari diikuti cuaca panas terik membuat banyak tanaman tidak tumbuh optimal. Dampaknya, harga sayuran di tingkat petani merosot. Saat ini, harga daun selada hanya sekitar Rp2.000 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp3.500.

“Murah sekarang, tapi untung masih bisa dari daun loncang, harganya Rp8.000 sampai Rp10.000 per kilo,” katanya optimis.

Sementara itu, cabai keriting kini berada di kisaran Rp17.000/kg, sedangkan daun sawi hanya Rp2.000/kg. Meskipun keuntungan tidak besar, Mugiyo tetap bersyukur karena hasil dari tanaman lain bisa menutup kerugian dari komoditas yang harganya jatuh.

“Masih bisa dapat modal lagi buat tanam berikutnya, karena tumpangsari ini,” ujarnya tersenyum.

Desa Sukomakmur dan wilayah sekitar Kaliangkrik memang dikenal sebagai “Nepal van Java”,  julukan yang menggambarkan keindahan lanskap lereng Sumbing yang dipenuhi kebun sayur berundak. Dari kawasan berhawa sejuk ini, berbagai jenis sayuran seperti kubis, selada, cabai, hingga daun loncang didistribusikan ke pasar-pasar di Magelang, Muntilan, dan kota-kota lain di Jawa Tengah.

Abdul Soim, pedagang sayuran asal Kaliangkrik, menuturkan bahwa fluktuasi harga sudah berlangsung sejak awal musim tanam akibat cuaca ekstrem. Selain itu, pasokan melimpah dari daerah lain turut membuat harga semakin tidak stabil.

“Kalau pas banyak daerah panen bareng, pembelian di pasar jadi lesu. Jadi harga di petani otomatis turun,” ungkapnya.

Namun Soim memperkirakan harga akan mulai naik dalam waktu dekat. Menurutnya, hasil panen petani mulai berkurang karena sebagian lahan baru ditanami kembali.

“Kalau hujan mulai berkurang dan tanamannya tumbuh bagus, harga biasanya ikut naik,” ujarnya.

Setiap hari, Soim bisa membeli hingga satu ton daun loncang dari petani sekitar untuk dijual kembali ke Pasar Muntilan sebelum didistribusikan ke kota lain.

Bagi petani lereng Sumbing, tumpangsari bukan sekadar strategi bertani, melainkan cara bertahan hidup di tengah cuaca ekstrem dan fluktuasi harga pasar. Dengan cara itu, mereka belajar bahwa diversifikasi tanaman bukan hanya menjaga hasil panen, tapi juga menjaga harapan.

Comments are closed.