Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Pertamax Green Makin Diminati, Wujud Nyata Transisi Energi Bersih di Jawa Tengah

METROJATENG.COM, SEMARANG — Langkah Pertamina menghadirkan bahan bakar ramah lingkungan melalui Pertamax Green 95 mulai membuahkan hasil positif.

Sejak diluncurkan, antusiasme masyarakat terhadap bahan bakar yang mengandung campuran etanol ini terus meningkat, terutama di wilayah Jawa Tengah.

Menurut Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication, Relation, dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah dan DIY, penjualan Pertamax Green di wilayah tersebut telah mencapai 348 kiloliter, atau 228 persen di atas target awal tahun 2025.

“Awalnya kami hanya menyalurkan Pertamax Green di delapan SPBU. Karena tingginya minat masyarakat, kini sudah tersedia di 14 SPBU di wilayah Jawa bagian tengah,” ungkap Taufiq di Semarang.

Meski sempat muncul isu negatif terkait kandungan etanol, masyarakat justru semakin penasaran dan mencobanya.

“Etanol bukan hal baru dalam dunia energi. Negara seperti Brasil, Amerika Serikat, hingga Uni Eropa sudah lama menggunakannya sebagai campuran bahan bakar. Jadi aman dan efisien,” jelasnya.

Etanol dalam Pertamax Green berasal dari bahan nabati seperti tebu, jagung, dan singkong, yang difermentasi sebelum dicampur ke bahan bakar. Campuran ini mampu menghasilkan pembakaran yang lebih bersih, efisien, dan ramah lingkungan. Pada Pertamax Green 95, kadar etanolnya mencapai lima persen.

Selain menekan emisi karbon, penggunaan etanol juga terbukti tidak merusak komponen kendaraan.

“Pembakaran lebih sempurna, mesin tetap aman, dan yang terpenting, jejak karbon lebih rendah. Ini pilihan yang bijak bagi pengguna kendaraan yang ingin ikut menjaga lingkungan,” kata Taufiq.

Taufiq juga menegaskan keaslian kualitas Pertamax Green di tengah keraguan sebagian masyarakat soal angka oktan. Ia menjelaskan, alat ukur oktan portabel yang banyak beredar di pasaran tidak memiliki validasi dan kalibrasi resmi, sehingga hasilnya tidak akurat.

“Pengujian yang benar dilakukan dengan metode CFR (Cooperative Fuel Research Engine) di laboratorium kami di Cilacap dan Cepu. Hanya metode itu yang memenuhi standar internasional ASTM D2699,” tegasnya.

Lebih lanjut, Taufiq mengingatkan  beberapa alat portabel bahkan dapat menampilkan angka oktan untuk cairan yang bukan bahan bakar, sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman publik.

“Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap Pertamax Green, Pertamina optimistis langkah menuju transisi energi bersih akan semakin kuat. Pertamax Green bukan sekadar produk baru, tapi bagian dari komitmen kami untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutup Taufiq.

Comments are closed.