Dari Tetes Limbah Minyak Goreng ke Langit, Tumbuh Harapan Baru
Langkah Nyata Pertamina Patra Niaga Gerakkan Energi Bersih Indonesia
Ketika minyak jelantah yang dulu dibuang ke selokan kini mengantarkan pesawat melintasi langit Indonesia. Sebuah gerakan kecil dari rumah tangga yang menyalakan masa depan energi bersih negeri.
METROJATENG.COM, SEMARANG – Siapa sangka, sisa minyak goreng dari dapur rumah tangga bisa bisa menjadi energi baru bagi masyarakat dan ikut mengantarkan pesawat terbang melintasi langit nusantara.
Di tangan PT Pertamina (Persero), limbah yang selama ini dianggap kotor dan tak berguna justru disulap menjadi bahan bakar bernilai tinggi menjadi bioavtur atau energi bersih masa depan yang lahir dari minyak jelantah.
Inovasi ini bukan sekadar eksperimen laboratorium. Tetapi merupakan kolaborasi antara kesadaran lingkungan, dan harapan baru bagi masa depan energi Indonesia.
Pertamina menunjukkan, transisi energi hijau tidak harus dimulai dari proyek besar dan rumit, tetapi bisa dilakukan dari hal yang sederhana misalnya dari minyak bekas di dapur rumah tangga, pedagang UMKM, restoran dan lainya.
Mendengar minyak jelantah banyak dicari, Ariesta, warga kelurahan Meteseh, Semarang kini rajin mengumpulkan minyak jelantah dari sisa dapur di tempatnya tinggalnya. Setiap rumah didatangi untuk mendapatkan minyak jelantah.
Dari rumah ke rumah Ariesta berhasil mengumpulkan minyak jelantah dan menuangkan minyak goreng berwarna kecoklatan ke dalam botol bekas air mineral. Minyak bekas ini bukan untuk dibuang, tetapi untuk disetor ke UCollect Box (UCo) Pertamina Patra Niaga di SPBU daerah Kedung Mundu.
“Dulu minyak bekas saya buang ke selokan. Sekarang saya kumpulkan. Tiap liter katanya bisa dapat saldo enam ribu rupiah dan poin MyPertamina,” ujarnya tersenyum.
Ia mengaku senang karena langkah kecilnya juga membantu menjaga lingkungan, bahkan ikut dalam gerakan energi bersih. Meski belum banyak, hasil penukaran minyak jelantah akan digunakan untuk wisata bersama ibu-ibu Dasa Wisma PKK.
“ lumayan sehari kadang dapat 2-3 liter, kalau sudah banyak baru disetor ke ke UCollect Box milik Pertamina,” katanya.

Nusantara dan langit menjadi makin
bersih dan biru. (tya/redmetrojateng)
Ariesta, bukan satu-satunya, ibu rumah tangga yang mengumpulkan minyak jelantah. Kini, ratusan warga di berbagai kota ikut berpartisipasi dalam Program Green Movement UCO (Used Cooking Oil) yang digagas Pertamina Patra Niaga. Program ini mengajak masyarakat mengelola limbah minyak goreng bekas rumah tangga agar tak mencemari lingkungan, sekaligus menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang sedang dikembangkan Pertamina.
Hal yang sama juga dikatakan Nur Hidayah. Ia mengumpulkan minyak jelantah dengan membeli dari ibu rumah tangga Rp 5.000 per liter. Minyak jelantah yang terkumpul selanjutnya dijual ke pengepul.
“Harga dari pengepul, naik turun. Kalau tahu Pertamina bisa menampung lewat mesin UCO, saya akan ikut menyetornya,” kata Nur dengan mata berbinar.
Ariesta kini tak lagi membuang minyak bekas ke saluran air. Ia menyimpannya di botol dan rutin menyetorkannya setiap minggu. “Kalau dikumpulkan terus, lumayan bisa buat belanja harian,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Namun yang membuatnya bangga bukan hanya insentif yang didapat, melainkan makna di baliknya. “Siapa tahu pesawat yang lewat di atas rumah saya itu terbang dengan minyak dari dapur ini. Rasanya bangga sekali,” ucapnya pelan.
Dari rumah-rumah sederhana seperti milik Ariesta dan Nur Hidayah harapan baru tumbuh. Tetes minyak bekas kini tak lagi berakhir di saluran air, tetapi melesat tinggi ke langit, menggerakkan pesawat, membuka masa depan energi hijau Indonesia.
Dari dapur ke langit, dari limbah ke bahan bakar, Pertamina Patra Niaga membuktikan bahwa energi tidak harus dimulai dari langkah besar, cukup dari kesadaran kecil yang dilakukan masyarakat, sehingga langit menjadi lebih bersih.
Area Manager Communication & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, belum lama ini menyampaikan, Program Green Movement UCO pertama kali diluncurkan Desember 2024. Di wilayah Jateng-DIY, program ini hadir pada Juni 2025 dan telah berhasil mengumpulkan 3.361 liter minyak jelantah.
Pengumpulan ini melibatkan 335 warga aktif, dengan total 9.471 transaksi. Dari jumlah itu, Pertamina Patra Niaga telah menyalurkan insentif lebih dari Rp18 juta kepada masyarakat.
“Angkanya memang belum besar, tapi yang penting adalah kesadaran masyakat. Bahkan Masyarakat kini melihat, menjaga bumi bisa dilakukan dari dapur sendiri,” ujar Taufiq Kurniawan.
Taufiq menambahkan Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan Noovoleum Indonesia Investama, penyedia UCollect Box (UCO) bersertifikasi internasional. Saat ini di Jateng ada 4 yang tersebar diantaranya di SPBU Sultan Agung, di SPBU Srondol, SPBU Kedungmundu dan SPBU di Tugu.
“Jumlah ini tentunya akan ditambah, mengingat animo masyarakat untuk menukarkan limbah minyak goreng dengan rupiah sangat tinggi, tambahnya.
Sedangkan secara nasional saat ini sudah ada 35 titik pengumpulan di berbagai kota besar, seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Gresik, Bali, hingga Palembang. Lokasinya tersebar di SPBU, rumah sakit IHC, dan kantor Pertamina Patra Niaga Regional
Warga yang menyetorkan minyak jelantah akan menerima saldo e-wallet Rp6.000 per liter, serta bonus 5 poin MyPertamina. Prosesnya mudah, cukup membawa minyak jelantah yang sudah disaring dan dikemas, lalu menyetorkannya ke UCollect Box terdekat.
Menurut Taufiq, program ini tak hanya memberi nilai ekonomi, tapi juga membangun kebanggaan baru bagi masyarakat.
“Dulu limbah dapur hanya menambah beban lingkungan. Sekarang justru memberi nilai tambah. Dari rumah tangga kecil, kita mulai menggerakkan transisi energi nasional,” katanya.
Dari rumah-rumah sederhana seperti milik Ariesta dan Nur Hidayah harapan baru tumbuh. Tetes minyak bekas kini tak lagi berakhir di saluran air, tetapi melesat tinggi ke langit, menggerakkan pesawat, membuka masa depan energi hijau Indonesia.
“Dari dapur ke langit, dari limbah ke bahan bakar, Pertamina Patra Niaga membuktikan bahwa energi tidak harus dimulai dari langkah besar, cukup dari kesadaran kecil yang dilakukan masyarakat, sehingga langit menjadi yang lebih bersih.” ungkapnya.
Pertamina dalam program penukaran minyak jelantah dengan rupiah, juga bekerjasama dengan PKK. Melalui PKK diharapkan program ini berjalan lancar , sehingga jumlah minyak jelantah yang terkumpul dari rumah ke rumah semakin banyak dan bermanfaat dan energi bersih makin membuat langit Indonesia semangkin biru.
“Menjaga bumi bisa dimulai dari hal sederhana. Setiap liter jelantah yang disetorkan berarti satu langkah menuju langit yang lebih biru,” ujarnya.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang, Listyati Purnama Rusdiana mengapresiasi kepada PT. Pertamina, karena gerakan ini membuat kota Semarang menjadi bersih dari limbah minyak jelantah.
“Gerakan pengumpulan minyak jelantah telah dimulai dari gerakan PKK dengan melakukan pilah sampah. Gerakan pilah sampah di kota Semarang dilakukan secara berjenjang dari Kecamatan, Kelurahan , RW, RT hingga Dasa Wisma,” katanya.
Listyati Purnama menambahkan, program pilah sampah akan lebih dimudahkan dengan akan hadirnya 4 titik SPBU di Kota Semarang. Ibu ibu yang ada di 16 kecamatan akan lebih mudah dan cepat menyalurkan minyak jelantah menjadi rupiah.
“Program penukaran minyak jelantah program perguliran ekonomi , pendapatan, kesejahteraan bagi ibu – ibu PKK kota Semarang. Program yang bermanfaat bagi masyarakat ini terus dapat dilakukan berkelanjutan sehingga dapat menyelesaikan permasalahan sampah di kota Semarang,” tegasnya
Sementara itu Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, menjelaskan bahwa Green Movement UCO merupakan bentuk nyata implementasi ekonomi sirkular di level masyarakat.
“Minyak jelantah yang dikumpulkan tidak berhenti di tong penampung. Setelah melalui proses pengolahan di Kilang Cilacap, anak perusahaan Pertamina Group, bahan tersebut akan diubah menjadi biofuel, seperti HVO (Hydrotreated Vegetable Oil) dan SAF (Sustainable Aviation Fuel),” jelasnya.
Menurut Heppy, konsumsi minyak goreng rumah tangga di Indonesia mencapai lebih dari 2,6 juta ton per tahun. Jika sebagian kecil saja bisa dikumpulkan, dampaknya sangat besar, baik bagi lingkungan maupun ketahanan energi.
“Bayangkan, setiap tetes yang dulunya mencemari sungai kini bisa menjadi energi yang menggerakkan pesawat. Itu bukan hanya solusi teknologi, tapi juga perubahan perilaku,” tambahnya.

Penerbangan Perdana dengan SAF dari Jelantah
Langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam menghadirkan energi bersih tercermin pada penerbangan perdana Pelita Air rute Jakarta–Bali yang menggunakan Pertamina SAF berbahan baku minyak jelantah, pada Agustus 2025.
Pesawat itu lepas landas dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, membawa misi besar. Ini menjadi bukti Indonesia mampu memproduksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan dari sumber daya lokal.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyebut momen itu sebagai tonggak bersejarah.
“Kami memastikan distribusi Pertamina SAF berjalan lancar, dari pengumpulan bahan baku hingga pengiriman ke maskapai. Lebih dari itu, kami ingin melibatkan masyarakat dalam rantai energi berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Mars Ega, SAF bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi cerminan komitmen Pertamina untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.
“Bahan bakar ini ramah lingkungan, rendah emisi, dan bisa diproduksi dari bahan yang kita miliki sendiri. SAF adalah masa depan energi penerbangan Indonesia,” tegasnya.
Komitmen Pertamina Patra Niaga juga diperkuat lewat penyelenggaraan Pertamina Sustainable Aviation Fuel Forum 2025 di Jakarta. Forum ini mempertemukan pelaku industri penerbangan, regulator, hingga lembaga sertifikasi untuk membahas percepatan penggunaan SAF di Indonesia.
Tony Sham, Country Manager Cathay Pacific Airways Indonesia, menyoroti pentingnya dukungan kebijakan dan ekosistem SAF di Asia.
“Cathay Pacific menargetkan 10% penggunaan SAF pada 2030. Indonesia punya potensi besar menjadi pemasok strategis berbasis minyak jelantah bila tantangan harga dan pasokan bisa diatasi bersama,” ujarnya
Dari sisi regulasi, Sokhib Al Rokhman, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub memastikan pemerintah tengah menyiapkan roadmap SAF nasional, mekanisme pengawasan emisi (MRV), dan regulasi implementasi skema CORSIA sesuai standar ICAO.
“Dengan sertifikasi yang sesuai dan insentif yang proporsional, adopsi SAF bisa tumbuh cepat di dalam negeri,” katanya.
Sementara itu, Malcom An dari Boeing menilai, upaya dekarbonisasi sektor penerbangan tak bisa hanya bertumpu pada teknologi.
“Diperlukan kolaborasi lintas industri dan negara. Asia Tenggara punya peluang besar, dengan sumber daya minyak jelantah dan limbah pertanian yang melimpah,” jelasnya.
Dari sisi sertifikasi, Ryanza Prasetya menegaskan pentingnya penerapan International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) CORSIA untuk menjaga integritas rantai pasok SAF.
“Sertifikasi memastikan asal bahan baku, perhitungan emisi, dan ketelusuran setiap tahap produksi berjalan transparan dan sesuai standar global,” ujarnya.
Sementara itu SVP Business Development PT Pertamina (Persero), Wisnu Medan Santoso, menegaskan bahwa pengembangan SAF adalah bagian dari strategi jangka panjang Pertamina dalam mendukung ketahanan energi nasional dan dekarbonisasi sektor aviasi.
“SAF bukan sekadar inovasi, tapi solusi strategis untuk menggerakkan ekonomi sirkular. Indonesia punya potensi besar dari limbah minyak jelantah, dan Pertamina berkomitmen memanfaatkannya menjadi energi bernilai tinggi,” ujarnya.
Pertamina telah melakukan riset dan pengembangan SAF selama lebih dari satu dekade, dari konversi bahan baku hingga sertifikasi kualitas produk. Kini, SAF Pertamina telah memenuhi standar internasional yang diakui dalam industri penerbangan global.
“Forum ini menegaskan bahwa Indonesia siap berada di garis depan pengembangan energi bersih bagi industri penerbangan. Kolaborasi menjadi kunci agar SAF bisa bersaing secara komersial,” tambah Mars Ega yang menyebut langkah ini sebagai gerakan sosial yang membangun kesadaran kolektif.
“Menjaga bumi bisa dimulai dari hal sederhana. Setiap liter jelantah yang disetorkan berarti satu langkah menuju langit yang lebih biru,” ujarnya. (tya)
Comments are closed.