Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Intermittent Fasting, Tren Pola Makan yang Kian Digemari Generasi Milenial

METROJATENG.COM, SEMARANG – Belakangan ini, istilah intermittent fasting semakin akrab di telinga masyarakat, terutama kalangan milenial dan profesional muda yang sibuk. Metode pengaturan pola makan ini dianggap lebih fleksibel dibanding diet ketat, karena tidak melulu soal mengurangi porsi atau menghitung kalori, melainkan tentang mengatur kapan tubuh diberi asupan dan kapan dibiarkan beristirahat.

Prinsip sederhananya, ada periode berpuasa dan ada periode makan. Selama fase puasa, tubuh belajar memanfaatkan cadangan energi dengan lebih efisien. Menariknya, metode ini diklaim mampu membantu menurunkan berat badan, menstabilkan gula darah, hingga menjaga kesehatan jantung.

Tidak hanya untuk penampilan, intermittent fasting juga membawa manfaat kesehatan yang semakin diperkuat riset:

  • Menurunkan berat badan: tubuh dipaksa membakar cadangan lemak saat asupan kalori berkurang.

  • Menstabilkan gula darah: cocok untuk mencegah risiko diabetes tipe 2, meski penderita diabetes tetap perlu pengawasan medis.

  • Baik untuk jantung: membantu menurunkan kolesterol jahat (LDL) serta tekanan darah.

  • Detoks alami: saat puasa, proses perbaikan sel dan pembuangan zat sisa metabolisme bekerja lebih optimal.

Namun, manfaat ini tidak selalu sama untuk semua orang. Respons tubuh bisa berbeda, tergantung kondisi kesehatan dan gaya hidup masing-masing.

Pilihan Metode yang Populer

Ada beberapa cara intermittent fasting yang kini populer di kalangan masyarakat dunia:

  1. Puasa 16/8: puasa 16 jam, lalu makan di jendela waktu 8 jam. Contoh: hanya makan dari pukul 12.00–20.00.

  2. Puasa 5:2: makan normal lima hari, lalu dua hari membatasi asupan hanya 500–600 kalori.

  3. Eat-Stop-Eat: berpuasa penuh 24 jam, sekali atau dua kali seminggu.

  4. Alternate-Day Fasting: sehari berpuasa rendah kalori (sekitar 500 kalori), sehari berikutnya makan normal.

Meski terdengar menjanjikan, para ahli menekankan pentingnya menjalani intermittent fasting dengan bijak. Tidak disarankan untuk dilakukan oleh ibu hamil, penderita penyakit tertentu, atau mereka yang punya riwayat gangguan makan. Tren pola makan ini kini tidak hanya menjadi gaya hidup sehat, tetapi juga simbol kesadaran generasi muda untuk menjaga tubuh tanpa ribet. Apakah Anda tertarik mencoba?

Comments are closed.