DPR RI Ingatkan Pemerintah: Jangan Gegabah Tarik Beras dari Pasar, Bisa Picu Harga Naik
METROJATENG.COM, JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, mengingatkan pemerintah agar tidak sembarangan menarik beras dari pasar terkait maraknya temuan beras tidak sesuai mutu atau yang kerap disebut “beras oplosan”. Ia menilai langkah tersebut justru bisa memicu kepanikan, kelangkaan, dan lonjakan harga di kalangan konsumen.
“Penindakan terhadap pengusaha nakal sudah cukup bagus, tinggal tegakkan hukum. Tapi jangan sampai semua beras di pasar ikut ditarik. Ini bisa membingungkan masyarakat dan memperparah situasi harga,” ujar Riyono.
Menurut politisi Fraksi PKS ini, sektor pangan adalah hal yang sangat sensitif. Kesalahan sedikit saja dalam penanganannya bisa berdampak luas terhadap kestabilan ekonomi, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Riyono turut menyoroti kondisi anomali harga yang terjadi di pasar. Meski harga Gabah Kering Panen (GKP) sudah menyentuh Rp6.500 per kilogram, angka yang cukup baik bagi petani namun harga beras di pasar masih bertahan tinggi, antara Rp12.000 hingga Rp14.000 per kilogram.
“Ini janggal. Di gudang Bulog katanya stok cukup, petani pun sudah dapat harga bagus. Tapi kenapa harga beras untuk rakyat kecil tetap mahal?” katanya, merujuk hasil pantauannya di daerah Ngawi dan Ponorogo.
Istilah ‘Oplosan’ Dinilai Menyesatkan
Ia juga mempertanyakan penggunaan istilah “beras oplosan” yang dinilainya mengandung konotasi negatif. Menurutnya, dalam dunia penggilingan dan perdagangan beras, pencampuran antar jenis beras dengan kadar patahan atau kadar air berbeda adalah hal lumrah, selama tidak menyesatkan konsumen.
“Masalahnya bukan pada pencampuran, tapi ketidaksesuaian antara label dengan isi. Itu bukan oplosan, tapi beras yang tidak sesuai mutu,” jelasnya.
Riyono menyarankan agar pemerintah tidak mengambil langkah reaktif yang bisa memperburuk situasi. Alih-alih menarik beras dari pasar, ia meminta agar beras yang tidak sesuai mutu tersebut diberi label terbuka dan dijual dengan harga yang lebih rendah.
“Jelaskan ke masyarakat soal kualitasnya, lalu jual dengan harga lebih murah. Kalau malah ditarik, stok bisa menipis dan harga makin melonjak,” tegasnya.
Comments are closed.