Pendidikan Aswaja Sejak Dini Jadi Benteng Karakter Anak di Era Digital
METROJATENG.COM, TEMANGGUNG – Pendidikan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sejak usia dini dinilai penting untuk membangun karakter anak di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Penanaman nilai toleransi, keseimbangan, keadilan, dan kecintaan terhadap tanah air perlu dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar hafalan dan pengetahuan agama.
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, H. Wibowo Prasetyo, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Festival Aswaja Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Muslimat NU Kabupaten Temanggung di Pendopo Pengayoman Temanggung, Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPMNU) itu diikuti sekitar 500 anak dan guru pendamping dari berbagai RA dan PAUD se-Kabupaten Temanggung.
Menurut Wibowo, pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting dalam membentuk kepribadian generasi mendatang. Karena itu, nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah perlu diperkenalkan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak agar mudah dipahami dan diterapkan.
“Anak-anak mungkin belum memahami apa arti toleransi, tetapi mereka bisa belajar berbagi mainan. Mereka belum mengerti makna persatuan, tetapi mereka bisa belajar bermain bersama tanpa membeda-bedakan teman. Dari kebiasaan sederhana itulah karakter anak mulai terbentuk,” ujar Wibowo.
Ia menjelaskan, nilai tawassuth atau moderat, tasamuh atau toleransi, tawazun atau keseimbangan, serta i’tidal atau keadilan harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Penanaman nilai tersebut diharapkan membentuk anak yang mampu menghargai perbedaan, bersikap adil, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Tantangan pendidikan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital yang membuat anak semakin mudah mengakses berbagai informasi dan konten. Menurutnya, pendampingan keluarga dan guru menjadi penting agar penggunaan teknologi tidak menggeser interaksi sosial serta proses pembentukan karakter anak.
“Jangan sampai anak-anak kita lebih akrab dengan layar telepon daripada dengan cerita orang tuanya. Jangan sampai mereka lebih mengenal tokoh di media sosial daripada keteladanan guru dan keluarganya,” katanya.
Dorong Bantuan Alat Peraga Edukasi
Selain penguatan karakter, Wibowo menyoroti kebutuhan sarana pembelajaran di lembaga Raudhatul Athfal (RA) dan PAUD, terutama Alat Peraga Edukasi (APE). Sarana tersebut berperan dalam mendukung perkembangan kognitif, motorik, kreativitas, serta kemampuan sosial anak.
Menurutnya, anak usia dini membutuhkan metode pembelajaran konkret, interaktif, dan menyenangkan. Ketersediaan APE yang memadai karena itu menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar pelengkap kegiatan belajar mengajar.
“Anak-anak usia dini belajar melalui permainan, warna, bentuk, gerak, dan pengalaman langsung. Karena itu, RA dan PAUD membutuhkan dukungan Alat Peraga Edukasi yang memadai. Saya berharap Kementerian Agama memberikan perhatian lebih besar terhadap kebutuhan tersebut, terutama bagi lembaga yang sarana pembelajarannya masih terbatas,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Agama, Wibowo menyatakan akan mendorong agar kebutuhan APE bagi RA mendapat perhatian dalam perencanaan program dan penganggaran kementerian. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan lembaga PAUD lainnya memerlukan koordinasi dengan instansi yang berwenang.
Ia menilai, banyak lembaga pendidikan anak usia dini tumbuh dari prakarsa masyarakat dan organisasi keagamaan, termasuk Muslimat NU. Kontribusi tersebut perlu diimbangi dukungan pemerintah, baik melalui peningkatan kualitas pendidik maupun penyediaan sarana pembelajaran.
“Jangan sampai kita menuntut pendidikan anak usia dini semakin berkualitas, tetapi kebutuhan dasar pembelajarannya justru kurang mendapat perhatian. Investasi pendidikan harus dimulai sejak anak-anak berada pada usia emas pertumbuhannya,” ujarnya.
Wibowo juga mengapresiasi Festival Aswaja yang memadukan pendidikan agama, kreativitas, keterampilan sosial, dan aktivitas fisik. Menurutnya, perlombaan bagi anak usia dini seharusnya lebih mengutamakan proses belajar dan keberanian mencoba daripada mengejar kemenangan semata.
“Anak yang hari ini belum menjadi juara bukan berarti kalah. Keberanian mencoba, tampil, dan belajar bersama teman-temannya merupakan kemenangan tersendiri. Jangan sampai ambisi orang tua mendapatkan piala justru menghilangkan kegembiraan anak,” katanya.
Muslimat NU Tekankan Pendidikan yang Menggembirakan
Sementara itu, Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Temanggung, Nyai Hj. Su’ad Jauharoh, menekankan pentingnya menghadirkan pendidikan agama yang menggembirakan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Festival Aswaja menjadi sarana memperkenalkan tradisi serta nilai-nilai keagamaan Nahdlatul Ulama melalui kegiatan edukatif yang menyenangkan.
Menurutnya, lembaga PAUD Muslimat NU memiliki tanggung jawab mengembangkan kemampuan dasar anak sekaligus menanamkan akhlakul karimah dan kecintaan terhadap ajaran Islam yang ramah serta menghargai perbedaan.
Ia juga menilai dukungan sarana pembelajaran, termasuk APE, diperlukan untuk membantu guru mengembangkan metode belajar yang lebih kreatif dan efektif. Kerja sama antara organisasi, pemerintah, pendidik, dan orang tua menjadi faktor penting dalam memperkuat keberadaan lembaga pendidikan yang tumbuh dari partisipasi masyarakat.
Su’ad menambahkan, keberhasilan pendidikan anak tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter karena anak cenderung menyerap keteladanan yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Festival Aswaja PAUD Muslimat NU Kabupaten Temanggung diselenggarakan YPMNU Kabupaten Temanggung yang diketuai Hj. Kurnia Atiullah, M.Pd. Berbagai perlombaan digelar, mulai dari tartil Al-Qur’an, bercerita, senam Anak Indonesia Hebat, hingga permainan estafet menyusun menara gelas.
Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap pendidikan Aswaja dapat semakin dekat dengan kehidupan anak sejak usia dini. Generasi yang dibangun melalui pendidikan tersebut diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga berakhlak baik, percaya diri, menghargai keberagaman, dan peduli terhadap sesama.
“Membangun Indonesia yang kuat harus dimulai dari membesarkan anak-anak yang berakhlak baik, cerdas, percaya diri, dan mencintai bangsanya,” pungkas Wibowo.(ris)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.