Gus Nasrul: Korupsi dan Perusakan Alam Bentuk Kufur Nikmat Kemerdekaan
*Khutbah Jumat di Polda Jateng
METROJATENG.COM, SEMARANG- Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, khatib Salat Jumat di Masjid Polda Jawa Tengah, Jumat (31/7/2026), DR. KH. Nasrulloh Afandi, LC, MA yang akrab disapa Gus Nasrul, mengingatkan bahwa rasa syukur atas kemerdekaan tidak cukup diwujudkan melalui seremoni. Menurutnya, rasa syukur harus dibuktikan dengan pengabdian kepada bangsa, menjaga amanah, serta menjauhi segala bentuk tindakan yang merusak negara.
Dalam khutbah bertema “Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan dan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT”, Gus Nasrul yang juga Ketua Pusat Persatuan Guru NU (Pergunu) menegaskan korupsi, pembalakan liar (illegal logging), penambangan ilegal, hingga berbagai bentuk perusakan lingkungan merupakan perilaku yang mencerminkan kufur nikmat terhadap anugerah kemerdekaan yang diberikan Allah SWT.
Ia menjelaskan, peringatan 17 Agustus bukanlah bentuk pengkultusan terhadap tanggal maupun simbol negara. Pengibaran Bendera Merah Putih dan berbagai kegiatan masyarakat merupakan ekspresi syukur kepada Allah SWT atas nikmat kemerdekaan selama dilakukan dengan niat yang benar.
“Amal itu bergantung pada niatnya. Karena itu, memperingati Hari Kemerdekaan dengan niat bersyukur kepada Allah SWT merupakan bagian dari ibadah,” ujarnya, sembari mengutip hadis Rasulullah SAW riwayat Bukhari dan Muslim.
Gus Nasrul mengatakan, pandangan tersebut juga selaras dengan kaidah fikih al-umuru bi maqashidiha, yakni setiap perbuatan bergantung pada tujuan dan niat pelakunya.
Ia kemudian mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 7 yang menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur dan ancaman azab bagi mereka yang mengingkarinya. Menurutnya, para ulama menafsirkan ayat itu sebagai dorongan agar setiap nikmat, termasuk kemerdekaan, dijaga dengan amal saleh dan pengabdian kepada masyarakat.
Memasuki usia ke-81 kemerdekaan Indonesia, Gus Nasrul mengajak seluruh elemen bangsa melakukan introspeksi. Ia mempertanyakan apakah bangsa ini benar-benar telah mensyukuri kemerdekaan atau justru mulai mengabaikan amanah yang diwariskan para pendiri bangsa.
Ia menuturkan, wujud syukur dapat dilakukan melalui pelaksanaan tugas secara maksimal dan penuh tanggung jawab. Aparat TNI-Polri, aparatur sipil negara, pegawai perbankan, tenaga pendidik, hingga pejabat publik harus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Demikian pula masyarakat wajib menjaga kebersihan, menaati aturan, melestarikan gotong royong, serta menjaga persatuan.
Namun, menurutnya, realitas saat ini menunjukkan masih banyak penyimpangan yang mencederai makna kemerdekaan. Praktik korupsi yang terus terjadi, penyalahgunaan jabatan, hingga eksploitasi alam tanpa tanggung jawab menjadi ancaman bagi masa depan bangsa.
“Korupsi dan perusakan alam bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga bentuk kufur nikmat terhadap kemerdekaan yang Allah anugerahkan kepada bangsa Indonesia,” tegasnya.
Gus Nasrul menambahkan, setiap warga negara memiliki kewajiban membangun Indonesia sesuai profesi dan kemampuannya masing-masing. Paling tidak, tidak melakukan perbuatan yang merugikan negara, masyarakat, maupun lingkungan.
“Menjadi pejabat yang amanah, warga negara yang taat, serta menjaga bumi Indonesia dari kerusakan adalah bentuk nyata mensyukuri nikmat kemerdekaan. Itulah cara kita mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mengisi kemerdekaan dengan amal terbaik,” pungkasnya.(ris)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.