Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Atasi Trauma Tuna Daksa, Dirut RSI Sultan Agung Gagas Terapi ‘Ujianto Compassion Score’ dan Shalat Dhuha

 

METROJATENG.COM, SEMARANG- Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang kembali menorehkan terobosan besar dalam dunia kedokteran integratif nasional yang menjembatani sains kedokteran modern dengan nilai-nilai luhur kepesantrenan.

Direktur Utama RSI Sultan Agung, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUA., berhasil merumuskan sebuah model terapi komplementer baru yang mengintegrasikan pendekatan psikologi modern Barat dengan spiritualitas Islam yang aplikatif. Inovasi ilmiah yang menyelaraskan dimensi medis, psikologis, dan teologis ini lahir secara otentik dari hasil riset doktoralnya di Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

 

Penelitian ini secara khusus memberikan solusi atas penderitaan psikologis yang dialami oleh para pasien yang terbaring lemah di rumah sakit, terutama kelompok tuna daksa yang mengalami keterbatasan fisik. Di saat masyarakat sehat beraktivitas produktif di pagi dan siang hari, para pasien ini sering dirundung rasa ketidakmampuan, kesepian, hingga trauma mendalam akibat kondisi tubuh mereka.

Untuk mengatasi kecemasan klinis tersebut, dr. Agus menggagas sebuah instrumen klinis baru bernama Ujianto Self-Compassion Score (USCS). Instrumen ini mengadaptasi konsep Self-Compassion Scale kembangan psikolog Barat terkemuka Kristin Neff, lalu mentransformasikannya secara radikal melalui penguatan aktivitas Shalat Dhuha yang dilakukan secara istiqamah oleh pasien.

Kombinasi medis-spiritual ini dirancang secara konkret sebagai terapi tambahan (adjuvant therapy) di RSI Sultan Agung Semarang yang sangat adaptif bagi kebutuhan praktisi kesehatan, dapat dipertanggungjawabkan di dunia akademik, serta diselaraskan dengan standar mutu pelayanan Syariah Islam berdasarkan survei istiqamah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

 

Kebaruan ilmiah (novelty) dari riset dr. Agus Ujianto ini terletak pada keberhasilannya melakukan dekonstruksi teosentris terhadap teori psikologi Barat. Jika konsep self-compassion konvensional selama ini bersifat antroposentris atau berpusat pada kekuatan ego manusia, USCS membuktikan bahwa welas asih dan kedamaian batin tertinggi justru tercapai saat manusia berserah diri secara total kepada Allah SWT.

Melalui USCS, Shalat Dhuha tidak lagi dipandang sebatas ritual ibadah mahdhah, melainkan diwujudkan sebagai intervensi medis-psikologis klinis yang dampak biologisnya dapat dihitung (quantifiable) terhadap penurunan hormon kortisol (stres) serta pengaktifan saraf parasimpatis yang mempercepat pemulihan fisik pasien.

Dalam konteks penyandang tuna daksa, Shalat Dhuha berfungsi sebagai instrumen manajemen diri yang sistematis melalui kerangka kerja ilmiah yang disebut Spiritual Agency Integration (SAI).

Melalui kerangka SAI ini, terjadi proses integrasi yang kokoh antara kemandirian motivasi—berdasarkan Self-Determination Theory (SDT)—dan internalisasi nilai afektif Islam. Di sinilah terjadi lompatan psikologis yang luar biasa: individu bertransformasi dari sekadar objek medis atau penerima dukungan eksternal yang pasif, menjadi ‘agen’ atau penggerak utama yang memegang kendali penuh atas nilai spiritual dan pertumbuhan batinnya sendiri.

Proses internalisasi afektif ini mengolah motivasi yang awalnya bersifat ekstrinsik seperti dorongan dari perawat atau keluarga menjadi motivasi intrinsik yang menyatu erat dengan identitas diri hamba yang bertauhid. Hasil akhirnya adalah sebuah keberdayaan psikospiritual di mana pasien tidak lagi memandang disabilitas fisik sebagai hambatan hidup. Mereka mampu mengelola badai emosinya melalui self-compassion yang kokoh, sekaligus membuktikan bahwa kedaulatan jiwa untuk menentukan arah pertumbuhan diri tetap dapat dicapai secara otentik melampaui segala batasan fisik yang ada.

 

Secara metodologis, indikator Ujianto Self-Compassion Score (USCS) ini diukur menggunakan skala klinis Likert dengan rentang skor 1 sampai 5 pada empat elemen utamanya, di mana skor 1 merepresentasikan kondisi “sangat jarang atau tidak pernah merasakan” aspek positif, sedangkan skor 5 menunjukkan bahwa pasien “sangat sering atau selalu merasakan” aspek tersebut sebagai tanda keberhasilan integrasi SAI ke dalam jiwanya.

Keempat elemen penilaian terukur tersebut meliputi:

Elemen Kebaikan Diri (Self-Kindness): Menilai sejauh mana pasien mampu bersikap lembut dan memahami keterbatasan dirinya sendiri. Pada skor maksimal (skor 5), pasien aktif sebagai agen yang merangkul tubuhnya dengan penuh kasih sayang tanpa menghukum diri (self-judgment) atas kondisi tuna daksa yang dialaminya.

Elemen Kemanusiaan Universal (Common Humanity): Mengukur tingkat kesadaran transendental pasien bahwa rasa sakit dan musibah adalah bagian tak terpisahkan dari garis takdir seluruh umat manusia. Skor yang tinggi menandakan keberhasilan pasien mengikis perasaan terisolasi atau merasa menderita sendirian di dunia.

Elemen Kesadaran Penuh (Mindfulness) Menilai kemampuan regulasi emosi pasien dalam menghadapi trauma fisik secara objektif, sehingga mereka mampu menerima realitas saat ini tanpa melebih-lebihkan kesedihan (over-identification) demi menjaga stabilitas biologis tubuh.

 

Elemen Penguatan Transendental melalui Integrasi SAI (Dhuha Habituation): Menjadi sumbu utama untuk menilai tingkat kedekatan vertikal pasien dengan Allah SWT setelah merutinkan Shalat Dhuha.

Skor tertinggi dicapai ketika ibadah tersebut berhasil memicu munculnya rasa syukur yang tulus, keikhlasan batin yang mendalam, serta sikap qana’ah (merasa cukup dan rida) bahwa ujian fisik ini adalah bagian suci dari perjalanan spiritual hidupnya.

Hadirnya inovasi Ujianto Self-Compassion Score berbasis Shalat Dhuha dengan manifestasi klinis Spiritual Agency Integration ini membawa angin segar bagi ormas Islam, praktisi medis, dan akademisi dalam memperkaya khazanah hospital healing environment yang paripurna di tanah air. Terobosan ini menegaskan komitmen RSI Sultan Agung Semarang bahwa menyembuhkan pasien tidak hanya dilakukan sebatas intervensi pisau bedah dan obat kimia, tetapi juga dilakukan dengan melahirkan manajemen diri yang tangguh, memicu rasa syukur, ikhlas, dan qana’ah, serta merangkul kemuliaan jiwa pasien untuk mencapai derajat kesehatan yang hakiki: sehat jasmani, matang psikologis, dan tenang secara spiritual di bawah payung syariat Islam.(**)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.