Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Jejak Niskala Hadir di CFD Simpang Lima, Ajak Warga Kenali Urban Legend Semarang Lewat Literasi Horor

 

METROJATENG.COM, SEMARANG- Suasana Car Free Day (CFD) di Simpang Lima Semarang, Minggu (7/6/2026), tampak berbeda dari biasanya. Di tengah keramaian warga yang berolahraga dan menikmati akhir pekan, sebuah booth bernama Jejak Niskala menarik perhatian pengunjung dengan nuansa horor yang unik. Lentera redup, dekorasi bernuansa mistis, serta alunan gamelan yang berpadu dengan efek suara angin menciptakan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang melintas.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB ini merupakan kampanye budaya bertema horor yang bertujuan mengenalkan kembali urban legend Indonesia, khususnya yang berkembang di Kota Semarang. Selain menjadi sarana edukasi budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan minat baca masyarakat melalui pendekatan yang kreatif dan menarik.

Di dalam booth, pengunjung dapat membaca berbagai kisah urban legend yang disajikan dalam bentuk buku dan pamflet secara gratis. Beragam cerita seperti Wewe Gombel, Noni Belanda, Mbah Kudu, hingga kisah-kisah dari lorong tua Kota Semarang dikemas dalam narasi ringan sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Salah satu panitia, Diana Kartika, mengatakan bahwa penyajian cerita dilakukan dengan bahasa yang mengalir agar masyarakat lebih tertarik membaca.

“Kami sengaja mengemas cerita-cerita ini dalam bahasa yang mengalir agar masyarakat dari berbagai kalangan mau dan senang membacanya,” ujarnya.

Tidak hanya membaca, pengunjung juga disuguhi penampilan karakter Wewe Gombel dan Noni Belanda yang diperankan oleh panitia dengan kostum khas. Kehadiran dua sosok tersebut menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak yang tampak antusias berfoto bersama.

Koordinator kegiatan, Nasywa Farida, menegaskan bahwa Jejak Niskala bukanlah kegiatan untuk menakut-nakuti masyarakat. Menurutnya, urban legend merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang patut dihargai keberadaannya.

“Urban legend adalah cerita yang diwariskan turun-temurun dan cukup kita hargai keberadaannya. Kita tidak perlu mempercayainya secara berlebihan. Ada logika dan ada rasa, keduanya perlu berjalan beriringan,” jelasnya.

Melalui pendekatan yang edukatif dan menghibur, Jejak Niskala diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih mengenal, membaca, dan menggali kekayaan budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat Semarang. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa literasi dapat dikembangkan melalui berbagai cara kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.(ris)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.