Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Perbankan Nasional Tetap Solid, Kredit Tumbuh dan UMKM Mulai Pulih

METROJATENG.COM, JAKARTA – Industri perbankan nasional kembali menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit, penghimpunan dana masyarakat, hingga kualitas pembiayaan tetap berada dalam tren positif sepanjang Maret 2026.

Di tengah gejolak pasar global akibat kenaikan harga energi dan tingginya volatilitas ekonomi dunia, fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal. Kredit perbankan tercatat tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.659,05 triliun, lebih tinggi dibanding Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut kondisi tersebut menunjukkan industri perbankan nasional masih berada dalam kondisi sehat dan resilien.

“Industri perbankan Indonesia memiliki tingkat permodalan yang kuat serta likuiditas yang memadai untuk menghadapi potensi tekanan akibat dinamika global,” kata Dian.

Tak hanya pertumbuhan kredit, kualitas aset perbankan juga terus membaik. Rasio Loan at Risk (LAR) turun menjadi 8,94 persen, sedangkan Non Performing Loan (NPL) Gross tercatat 2,14 persen dan NPL Net sebesar 0,83 persen. Angka tersebut membaik dibanding posisi Februari 2026.

Di sisi penghimpunan dana masyarakat, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh signifikan sebesar 13,55 persen yoy menjadi Rp10.230,81 triliun. Pertumbuhan ditopang kenaikan giro 21,37 persen, tabungan 11,57 persen, dan deposito 8,36 persen.

Likuiditas industri juga dinilai masih longgar. Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 84,64 persen, memberikan ruang bagi perbankan untuk terus memperluas penyaluran kredit ke sektor produktif.

Pertumbuhan kredit terbesar berasal dari sektor konstruksi yang melonjak 46,67 persen atau Rp181,98 triliun. Selain itu, sektor rumah tangga dan industri pengolahan juga menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh paling tinggi sebesar 20,85 persen yoy, diikuti Kredit Konsumsi sebesar 5,88 persen dan Kredit Modal Kerja 4,38 persen.

Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan adalah mulai pulihnya kredit UMKM. Setelah sebelumnya mengalami kontraksi, kredit UMKM pada Maret 2026 kembali tumbuh positif  0,12 persen yoy menjadi Rp1.498,64 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kredit mikro dan menengah, dengan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi penyumbang terbesar. Selain itu, sektor aktivitas keuangan dan asuransi serta akomodasi dan makan minum juga mencatat pertumbuhan signifikan.

OJK menilai pemulihan kredit UMKM menjadi sinyal positif bagi penguatan ekonomi nasional yang lebih inklusif. Untuk mendukung hal tersebut, OJK telah menerbitkan POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM. Regulasi itu diharapkan dapat mempercepat akses pembiayaan yang lebih mudah, cepat, murah, dan inklusif bagi pelaku usaha kecil.

Selain dukungan regulasi, pemerintah juga menyiapkan berbagai stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas usaha, mulai dari insentif pajak UMKM hingga PPh Ditanggung Pemerintah bagi sektor padat karya dan pariwisata.
Dengan dukungan kebijakan tersebut, OJK optimistis pertumbuhan kredit UMKM maupun sektor perbankan secara keseluruhan akan terus membaik sepanjang 2026. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.