Faktor Lain di Balik Kenaikan Berat Badan: Tak Hanya dari Makanan, Ini Penjelasan Ahli
METROJATENG.COM, SEMARANG – Kenaikan berat badan sering kali dikaitkan dengan kebiasaan makan berlebih. Namun para ahli kesehatan menegaskan, penyebabnya jauh lebih kompleks. Sejumlah faktor seperti stres, kurang tidur, konsumsi obat-obatan tertentu, hingga gaya hidup modern berperan besar dalam memperlambat metabolisme dan memicu penumpukan lemak.
Fenomena ini kembali banyak dibahas setelah berbagai riset menunjukkan bahwa masyarakat modern semakin rentan mengalami peningkatan berat badan meskipun sudah merasa “makan sedikit”. Berikut rangkuman faktor-faktor penting yang kerap tidak disadari.
Dalam kondisi tertekan, tubuh memproduksi hormon kortisol yang memicu rasa ingin makan, terutama makanan manis dan tinggi kalori. Para psikolog menyebut kondisi ini sebagai emotional eating, di mana makanan dijadikan pelarian untuk meredakan ketegangan. Jika berlangsung terus-menerus, lonjakan berat badan sulit dihindari.
Penelitian kesehatan menegaskan bahwa kurang tidur mengacaukan dua hormon penting: ghrelin (pemicu rasa lapar) dan leptin (pengatur rasa kenyang). Akibatnya, orang yang tidur terlalu larut akan:
-
Lebih mudah lapar
-
Cenderung mengonsumsi camilan malam berkalori tinggi
-
Mengambil pilihan makanan tidak sehat seperti gorengan atau makanan tinggi gula
Kombinasi ini membuat timbunan kalori meningkat dengan cepat.
Kenaikan berat badan tak melulu soal gaya hidup. Beberapa penyakit memicu perubahan hormon yang membuat tubuh cenderung menyimpan lemak, seperti:
-
Hipotiroidisme: metabolisme melambat karena kurangnya hormon tiroid.
-
Sindrom Cushing: tubuh memproduksi terlalu banyak kortisol, membuat lemak terkumpul di wajah, leher, dan pinggang.
-
Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK): membuat tubuh resisten terhadap insulin sehingga lemak lebih banyak tertimbun, terutama di perut.
Kemajuan teknologi membuat masyarakat menghabiskan banyak waktu di depan layar. Aktivitas fisik yang minim sering dibarengi kebiasaan ngemil makanan tinggi kalori. Kombinasi inilah yang mempercepat kenaikan berat badan pada orang-orang yang bekerja di kantor atau memiliki rutinitas sedentari.
Nikotin mempercepat detak jantung sehingga tubuh membakar lebih banyak kalori. Saat seseorang berhenti merokok, nafsu makan akan meningkat dalam beberapa minggu pertama. Namun ahli kesehatan menegaskan, kenaikan ini bersifat sementara dan manfaat berhenti merokok jauh lebih besar dibanding kekhawatiran soal berat badan.
Banyak orang tergoda menurunkan berat badan secara cepat. Namun diet ekstrem terbukti tidak efektif. Ketika asupan kalori terlalu rendah, tubuh justru menurunkan laju metabolisme. Akibatnya, berat badan mudah naik kembali (efek yo-yo). Konsumsi lemak berlebih, bahkan dari sumber sehat seperti alpukat juga dapat memicu kelebihan kalori.
Kenaikan berat badan tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa banyak seseorang makan, tetapi juga oleh faktor hormonal, psikologis, penggunaan obat-obatan, hingga pola hidup modern. Ahli kesehatan menyarankan pendekatan menyeluruh dengan memperbaiki kualitas tidur, mengelola stres, memahami efek obat, serta meningkatkan aktivitas fisik untuk menjaga berat badan tetap ideal.
Comments are closed.