Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Dari Perenungan di Kolam Ikan, Keranjang Serat Alam Kebumen kini Tembus Pasar Dunia

METROJATENG.COM, KEBUMEN – Hamparan kolam ikan menjadi saksi kegalauan Rudi Hermawan, warga Pekisen, Selang, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, saat usaha kolam ikannya tak kunjung menghasilkan. Harapan menuai panen setelah membeli bibit ikan nila 15.000 ekor, terhempas oleh kenyataan tiap bulan harus mengambil ikan untuk dijual dan dipakai membeli pakan.

Ayah dua anak ini memandang area kolam dan tatapan terhenti pada pohon pisang serta enceng gondok yang banyak tumbuh di area kolam. Entah apa yang menggerakan, Rudi kemudian menggambil serat-serat pohon pisang yang mulai mengering dan enceng gondok, lalu kembali ke tempat duduknya dan mulai menganyam.

Eceng gondok, yang sering dianggap sebagai rerumputan liar yang mengganggu, ternyata memiliki potensi yang luar biasa untuk dijadikan bahan kerajinan tangan yang kreatif dan ramah lingkungan.

Pada dasarnya, eceng gondok adalah tumbuhan air yang tumbuh subur di perairan dangkal dan lamban. Meskipun sering dianggap sebagai masalah lingkungan yang perlu diberantas, sebenarnya eceng gondok dapat dimanfaatkan dengan beragam cara, salah satunya adalah sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan.

Sebuah keranjang tempat ikan, merupakan hasil anyaman pertamanya. Melihat hasil anyaman yang cukup indah dipandang, Rudi meneruskan kebiasaan menganyam hingga menghasilkan beberapa produk untuk keperluan rumah. Saudara dan teman mulai tertarik dan Rudi memberikannya secara gratis.

“Saya asli Kebumen dan merantau ke Jakarta, bekerja sebagai konsultan dan istri saya, Novita juga bekerja sebagai kontraktor. Kemudian saya pulang ke kampung halaman, dengan tujuan ingin menghabiskan masa tua di desa dan sekaligus juga membangun kampung halaman,” cerita mulai mengalir dalam perbincangan dengan Metrojateng.com.

Namun, pulang ke kampung halaman tidak seindah mimpi Rudi. Untuk mendapatkan pekerjaan di Kebumen dengan gaji setara di Jakarta sangatlah sulit. Hingga akhirnya, Rudi memutuskan untuk membangun usaha. Kolam ikan menjadi pilihannya untuk menata masa depan dan sang istri juga tetap membantu dengan membuat bisnis catering.

Rudi membeli 15.000 bibit ikan nila, dengan harapan bisa panen setiap 3-4 bulan sekali. Tetapi, pada kenyataannya, untuk memenuhi pakan ikan, ia harus menjual ikan-ikan yang sudah bisa dipanen. Sehingga panen besar yang diharapkan tidak pernah terwujud. Beruntung, usaha catering Novita berkembang pesat, dengan banyaknya pesanan dari dinas maupun istansi pemerintahan serta masyarakat.

“Di tengah perenungan, saya melihat banyak enceng gondok dan serat pohon pisang, iseng saya anyam dan ternyata ini menjadi pintu usaha yang saya tekuni sampai saat ini dan mampu merambah pasar ekspor,” tuturnya.

Caption Foto : Perwakilan dari PT Agrominafiber, Rahajeng Amalia saat mengikuti Hetero Fest 2025 di Kabupaten Banyumas. (Foto : Hermiana E. Effendi)

 

Ikut Pelatihan dan Pameran

Setelah hasil anyaman serat pohon pisang dan enceng gondok mulai dikenal masyarakat Kebumen, Rudi mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi produk dari Provinsi Jawa Tengah yang difasilitasi oleh Pemkab Kebumen. Dari momen inilah kemudian lahir PT Agrominafiber Jawa Indonesia yang kini produk-produknya sudah menembus pasar dunia.

“Saya masih ingat betul, event pertama produk saya dikenal masyarakat luas adalah saat mengikuti Kebumen Internasional Expo (KIE) Tahun 2023 yang disponsori oleh Pertamina. Pada acara tersebut juga ada coaching untuk ekportir pemula, financial education dan lainnya, sehingga kami para pelaku UMKM tidak hanya berjualan produk saja, tetapi juga mendapat pengetahuan baru terkait bisnis,” terang Rudi.

Tak hanya Rudi yang bergerak, sang istri, Novita juga turut mengembangkan bisnis kerajinan serat alam ini dan menjadi salah satu pengrajin binaan Pertamina.

Hingga pada tahun yang sama, PT Agrominafiber berkesempatan mengikuti event internasional di Jakarta. Dari Kebumen ada tiga UMKM yang diberangkatkan dengan jenis kerajinan yang berbeda, serat alam, lukisan dan kerajinan bambu. Dan hasilnya menjadi angin sengar bagi Rudi, selama 4 hari mengikuti pameran, 90 persen produknya laku. Pembelinya tak hanya dari dalam negeri saja, tetapi sebagian besar justru dari orang Nigeria, Amerika, Argentina dan negara lainnya. Di sinilah pintu ekspor mulai terbuka.

Baru-baru ini, produksi PT Agrominafiber juga turut meramaikan Hetero Fest 2025 di Kabupaten Banyumas, sebuah ajang bagi komunitas serta pelaku UMKM hingga kelompok kreatif. Perwakilan dari PT Agrominafiber, Rahajeng Amalia mengatakan, selain untuk mengenalkan kerajinan serat alam, ajang ini juga menjadi salah satu syarat mengikuti Pertamina UMK Academy.

“Kita sedang mengikuti Pertamina UMK Academy, dari tahap seleksi Jawa bagian tengah, kita lolos dan maju ke tingkat nasional. Untuk pameran di Hetero Space ini, kita membawa beragam produk dari keranjang serat alam, mulai dari tas, dompet, keranjang dan lain-lain,” terangnya.

Lebih lanjut Ajeng bertutur, program Pertamina UMK Academy 2025 mengusung tema “Beri Energi Baru Menuju UMK Maju”. Peserta diseleksi secara bertahap melalui pelatihan regional, lalu akan dipilih yang terbaik untuk lanjut ke tingkat nasional. Banyak keuntungan bagi pelaku UMKM dari program ini, dimana peserta dibekali kurikulum yang mencakup Go Modern, Go Digital, Go Online dan Go Global.

Caption Foto : Seremonial pelepasan ekspor perdana produk keranjang anyaman serat alam oleh PT Agrominafiber Java Indonesia ke Amerika Serikat, Selasa (16/9/2025). Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan (TJSL) Pertamina, untuk mengembangkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan wirausaha. (Foto : Dok. Pertamina).

 

Pemberdayaan Masyarakat

Dari pekerja swasta yang memilih pensiun dini dan  pulang ke kampung halaman masih dalam kebingungan untuk mencari peluang usaha, Rudi dan Novita kini sudah menjadi pengusaha sukses yang produknya melanglang buana hingga berbagai negara. Namun, kesuksesan tersebut bukan tujuan akhir dari Rudi. Ia tetap konsisten dengan tujuan awal pulang kampung, yaitu ingin membangun kampung halaman dan membawa manfaat bagi masyarakat. Karenanya, Rudi kini dikenal tak hanya sebagai pengusaha saja, tetapi juga sebagai seorang entrepreneur yang tanpa kenal lelah berbagi ilmu dan ketrampilan.

Tidak hanya untuk orang-orang sekitar saja, Rudi juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai event nasional untuk memberikan motivasi kepada para pelaku UMKM. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan menjadi pembicara di acara sekelas kementerian.

“Tahun 2024 lalu, saya diundang oleh Kementerian Perdagangan untuk menjadi narasumber acara di Solok, Sumatera Barat, kemudian kemarin juga mengisi acara Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Solo dan istri saya, Novita diminta memberikan pelatihan untuk UMKM oleh Pemprov Jateng di Magelang dan banyak udangan lainnya, baik dari kementerian, Pemprov Jateng ataupun dari kota-kota lain. Sebisa mungkin, saya penuhi undangan tersebut, karena berbagi ilmu juga salah satu tujuan saya membangun bisnis di kampung halaman ini,” ucap Rudi.

Usaha kerajinan serat alam yang dibangun Rudi dan Novita juga membuka lapangan kerja baru, tak hanya untuk warga Kebumen, tetapi juga untuk para suplayer dari berbagai wilayah. Saat ini PT Agrominafiber memiliki mitra pengrajin warga hingga ratusan orang, yang sebagian besar ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak muda. Sedangkan untuk mitra suplayer bahan baku ada sekitar 150 orang.

Untuk memenuhi pasar ekspor, Rudi mengaku harus ektra kerja keras. Mulai dari mencari bahan baku, mengajari orang-orang untuk menganyam, hingga membuat tim khusus untuk memantau kualitas hasil pekerjaan para pengrajin. Sebab, jika dari sisi ukuran saja tidak sesuai, maka akan kesulitan dalam packing produk.

“Pasar ekspor ini yang banyak dipesan adalah keranjang dengan berbagai ukuran. Sehingga kita produksi sesuai dengan permintaan mereka. Kemarin kita baru kirim 6 kontainer untuk ekspor, dimana 1 kontainer berisi 1.600-1.800 piece, sehingga kolaborasi dengan pengrajin lokal mutlak dibutuhkan, termasuk juga dengan para penyuplai bahan baku,” ungkapnya.

Harga keranjang beragam, mulai dari 18 dollar hingga 23 dollar per piece. Selain ramah lingkungan, produk keranjang dari serat enceng gondok dan pohon pisang ini sangat diminati pasar ekspor, karena nilai estetiknya. Meskipun terbuat dari serat alam, daya tahannya cukup lama.

“Walaupun tahan lama, tetapi biasanya konsumen repeat order saat pergantian musim, jadi rata-rata sekitar 6 bulan sudah pesan lagi,” kata Rudi.

Caption Foto : Dua produk dari PT Agrominafiber Kebumen yang paling banyak diminati pasar ekspor. (Foto : Hermiana E. Effendi).

 

Konsisten pada Potensi Lokal

Dalam menentukan UMKM binaan, Pertamina memiliki proses penilaian sendiri, dari tahapan kurasi produk hingga semangat usahanya. Area Manager Communication Relation dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah dan DIY, Taufiq Kurniawan mengatakan, usaha yang dibangun PT Agrominafiber, selain sejalan dengan komitmen Pertama pada pelestarian alam, juga merupakan usaha yang mengangkat potensi lokal dan memberdayakan masyarakat sekitar.

“Tentu ada proses kurasi untuk produk dan sebagainya. Tetapi yang juga menjadi konsen kita adalah bagaimana semangatnya dalam membangun usaha, serta kebermanfaatannya untuk masyarakat dan lingkungan,” terangnya.

Lebih lanjut Taufik memaparkan, berbagai support yang diberikan Pertamina untuk pelaku UMKM mulai dari pembinaan, memfasilitasi untuk memperdalam skill hingga pendampingan sampai UMKM naik kelas. Tahapannya mulai dari memberikan kesempatan mengikuti pameran, kemudian memberikan keilmuan dasar usaha, sampai dengan pelatihan legalisasi produk dan ekspor, ada proses skoring pada tiap tahapnya.

“Di Kabupaten Kebumen ada beberapa pengrajin serat alam yang menjadi binaan Pertamina dan yang sudah pecah telor, salah satunya Pak Rudi dan Bu Novita ini,” jelasnya.

Pertamina, lanjut Taufik, selalu mendorong pelaku UMKM untuk mengangkat potensi-potensi yang ada di wilayahnya. Dan Pertamina siap untuk mendampingi UMKM, supaya tumbuh bersama dan naik kelas.

“Pak Rudi dan Bu Novita sudah membuktikan bahwa potensi lokasi, jika digarap dengan gigih dan serius, bisa membawa ke gerbang kesuksesan,” ucapnya.

Kini, deru suara mesin mobil pengangkut bahan baku dan kerajinan menjadi bunyi yang dinanti warga desa. Dari serat pohon pisang dan enceng gondok, lahir keranjang bernilai estetika tinggi dengan harga ekspor mencapai 18–23 dolar per unit.

Lebih dari sekadar produk, setiap anyaman keranjang membawa cerita tentang ketekunan, kegigihan, dan mimpi membangun kampung halaman. Dari kolam ikan yang gagal, kini tumbuh harapan baru yang tak hanya menghidupi keluarga Rudi, tetapi juga ratusan warga Kebumen, bahkan mengangkat nama daerah hingga ke panggung dunia.

Comments are closed.