Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kasus Balita Cacingan di Seluma Jadi Evaluasi Mendalam Kemenkes

METROJATENG.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan kasus cacingan berat yang menimpa seorang balita di Kabupaten Seluma, Bengkulu, bukan sekadar insiden klinism melainkan pemicu evaluasi mendalam terhadap efektivitas program pencegahan, kualitas lingkungan, dan mekanisme pemantauan di lapangan.

“Kasus ini memberikan pelajaran berharga. Investigasi bersama sudah dilakukan, dan tindak lanjut akan difokuskan pada efektivitas program, perbaikan lingkungan, serta pemantauan kesehatan anak,” kata Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman.

Sebagaimana diketahui, balita berinisial KNS (1 tahun 8 bulan) dirawat intensif sejak 14 September 2025 dengan gejala berat: demam, sesak napas, serta keluarnya cacing dari hidung dan feses. Dokter mendiagnosis bronkopneumonia (sindrom Loeffler), ascariasis, gizi buruk, dan anemia defisiensi besi.

Investigasi awal mengungkap sejumlah faktor pemicu di tingkat rumah tangga: kondisi tempat tinggal tidak layak (lantai tanah, tanpa jendela, kelembaban tinggi), jarak sumber air bersih yang terlalu dekat dengan septic tank (kurang dari tiga meter), serta keluarga berstatus sosial ekonomi rendah. Selain itu, KNS tercatat tidak pernah dibawa ke Posyandu.

Tim juga menemukan kakak KNS (4 tahun) mengalami kondisi serupa dan saat ini dirawat di RS Ummi dengan diagnosis ascariasis dan gizi kurang.

Ironisnya, cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) untuk cacingan di Seluma tercatat mencapai 99 persen. Kemenkes menilai angka cakupan semata belum menjamin keberhasilan pencegahan bila kepatuhan, praktik pemberian obat, dan kondisi lingkungan tidak terpantau dengan baik. “Karena itu, evaluasi akan diarahkan pada pemantauan kepatuhan minum obat di masyarakat,” tambah Aji.

Investigasi gabungan yang berlangsung pada 17 September 2025 melibatkan Kemenkes, Kemenko PMK, Pemerintah Provinsi Bengkulu, Pemerintah Kabupaten Seluma, hingga Baznas, langkah yang menjadi bukti bahwa penanganan kasus ini membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Sebagai hasil evaluasi awal, Kemenkes dan mitra lintas sektor merumuskan serangkaian langkah prioritas:

  • Perkuat POPM: memastikan obat diminum langsung di depan petugas (observed dosing) untuk meningkatkan kepatuhan nyata.

  • Pemantauan Posyandu: kunjungan rumah bagi balita yang tidak hadir di Posyandu dan pencatatan ketat peserta.

  • Penyuluhan berkala: edukasi perilaku hidup bersih dan sehat kepada keluarga dan komunitas.

  • Perbaikan lingkungan: program bedah rumah oleh pemerintah daerah bersama Baznas untuk memperbaiki hunian yang memicu risiko infeksi.

  • Koordinasi berkelanjutan: Kemenko PMK dan pemda diminta memastikan program berjalan berkelanjutan, tidak hanya aksi sementara.

Kemenkes menekankan bahwa capaian program berbasis angka harus diiringi pemantauan kepatuhan dan intervensi lingkungan. Kasus di Seluma menjadi pengingat bahwa pencegahan penyakit pada anak memerlukan kombinasi intervensi medis, lingkungan, dan sosial-ekonomi.

Comments are closed.