Pasar Banjarsari Pekalongan Siap Bangkit Lebih Modern, Aman, dan Tertib Usai Tragedi 2018
METROJATENG.COM, KOTA PEKALONGAN – Setelah sempat luluh lantak akibat kebakaran hebat pada 2018, Pasar Banjarsari kini bersiap membuka lembaran baru sebagai pasar rakyat yang lebih modern, aman, dan tertib. Pemerintah Kota Pekalongan menyulap pasar tradisional ini menjadi pusat perdagangan yang tidak hanya fungsional, tapi juga mengedepankan keselamatan dan kenyamanan bagi semua.
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, menegaskan bahwa desain baru Pasar Banjarsari merupakan hasil refleksi dari insiden kelam enam tahun lalu. Infrastruktur pasar kini dilengkapi dengan sistem proteksi kebakaran mutakhir—mulai dari pipa air bertekanan tinggi hingga sensor asap otomatis di setiap kios.
“Kami tidak ingin tragedi serupa terulang. Teknologi yang diterapkan sudah sangat lengkap. Tapi tetap, faktor kewaspadaan dari pedagang juga penting,” ujar Mas Aaf, sapaan akrab wali kota, saat meninjau langsung pembangunan lapak dan jembatan penghubung antarzona pasar.
Ia pun mengingatkan pedagang untuk tidak menutup kios dengan bahan permanen demi menjaga efektivitas sensor asap. “Tolong gunakan bahan seperti jaring atau ram. Sensor kebakaran ada tepat di atas kios,” tegasnya.
Tak hanya soal keamanan, Pemkot juga menata manajemen pasar agar lebih tertib. Ia menugaskan Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Dindagkop-UKM) bersama Satpol-P3KP untuk memastikan area depan pasar bebas dari pedagang kaki lima.
“Kita ingin pasar ini ramai, tapi tetap rapi. Steril dari PKL di depan pasar. Ini penting agar wajah pasar tetap bersih dan nyaman,” tambahnya.
Pasar Tradisional dengan Sentuhan Modern
Berbeda dari konsep pasar terpadu yang mencampuradukkan fungsi pasar dan mal, Pasar Banjarsari kini berdiri sebagai pasar tradisional murni. Tidak ada supermarket, bioskop, atau pusat hiburan modern yang melebur dalam fungsinya. Fokusnya tetap pada pedagang rakyat, tapi dengan fasilitas modern.
Kepala Dindagkop-UKM Kota Pekalongan, Supriono, menjelaskan bahwa pasar ini terbagi menjadi empat blok besar, masing-masing dirancang untuk mempermudah evakuasi dan pemadaman jika terjadi kebakaran.
“Setiap kios dilengkapi sensor asap yang langsung terhubung ke sistem pemadam otomatis. Kapasitas sumber air internalnya mencapai 400 meter kubik, jadi petugas pemadam tidak perlu bawa air dari luar,” katanya.
Pasar ini memiliki total 2.940 unit dagang, terdiri dari 349 toko, 687 kios, dan 1.904 los. Zonasi pun dibuat dengan cermat: lantai dasar diperuntukkan bagi kebutuhan pangan, sedangkan lantai dua dan tiga untuk produk non-pangan seperti batik, konveksi, dan sepatu.
Blok D menghadirkan wajah unik di antara zona lain. Di lantai dua, tersedia kios daging dan ayam, sedangkan lantai tiga dirancang sebagai foodcourt, tempat nongkrong sekaligus menikmati aneka kuliner khas.
“Sudah ada wacana menambahkan fasilitas hiburan di area ini, masih kita kaji. Tapi yang jelas, konsepnya tetap untuk menarik pengunjung tanpa menghilangkan identitas pasar rakyat,” pungkas Supriono.
Comments are closed.