Ribuan Umat Buddha Jalan Kaki Penuh Khidmat dari Mendut ke Borobudur Meski Diguyur Gerimis
METROJATENG.COM, MAGELANG – Ribuan umat Buddha tampak khusyuk berjalan kaki dalam prosesi Pujayatra dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Meski langit mendung dan gerimis turun perlahan, langkah-langkah penuh perenungan mereka tak goyah sedikit pun. Sebanyak 11.000 umat Buddha dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan mancanegara, memadati jalan sejauh 3 kilometer yang menghubungkan dua candi bersejarah itu.
Langkah kaki mereka tak sekadar berpindah tempat. Pujayatra adalah perjalanan batin, sebuah ziarah spiritual menyambut hari suci Asadha. Derap langkah diselaraskan dengan keheningan jiwa, tanpa banyak bicara, tanpa penutup kepala, dengan satu tujuan: memuliakan ajaran Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Pemandangan menjadi makin sakral ketika 2.000 peserta Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2025 turut bergabung dalam prosesi. Barisan mereka tampil rapi mengenakan kaus putih, celana hitam, dan selempang merah. Sebuah gambaran ketertiban dan kebersamaan dalam kebajikan.
Sekitar pukul 13.00 WIB, prosesi dimulai dari pelataran Candi Mendut. Empat kereta kencana megah yang sebelumnya dipamerkan di Taman Lumbini ikut diarak dalam barisan utama. Kereta-kereta ini bukan sembarang kendaraan, masing-masing memiliki makna simbolik, seperti Stambha Vijaya, Dhammacakka, Tipitaka, dan Mahadhatu. Dirancang langsung oleh Bhante Sri Pannavaro, kereta-kereta itu memancarkan aura kebesaran spiritual.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, turut berada di barisan depan, membopong bunga sebagai simbol persembahan suci. Di belakangnya, jajaran tokoh-tokoh Buddha dan Sangha Theravada Indonesia turut berjalan dengan penuh penghormatan. Barisan bendera Merah Putih, Bendera Buddhis, dan simbol Bhinneka Tunggal Ika memperkuat suasana nasionalisme dan harmoni antarumat.
Yang menarik, di sepanjang jalur kirab, masyarakat disuguhi atraksi kesenian rakyat. Musik tradisional, tarian, dan pertunjukan budaya lokal menyambut umat dengan riang, menciptakan suasana syahdu dan semarak dalam satu waktu.
Di bagian belakang, ribuan umat, anak-anak, orang dewasa, hingga lansia ikut melangkah perlahan sambil membawa bunga dan pin. Mereka berjalan dalam hening, merenungkan ajaran luhur Buddha. “Ini bukan jalan-jalan biasa, tapi perjalanan batin. Setiap langkah adalah persembahan pada Sang Guru Agung,” ujar Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera, Minggu (6/7/2025).
Ia menekankan bahwa pujayatra bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum untuk menjernihkan pikiran. “Pikiran yang jernih akan membimbing kita menjauh dari keburukan dan mendekat pada kebajikan,” tambahnya.
Dirjen Supriyadi pun mengajak umat untuk tidak berhenti pada ritual, melainkan meneruskan makna Pujayatra dalam kehidupan sehari-hari. “Ketika kita sampai di Borobudur, semoga keyakinan kita semakin menguat. Mari renungkan kembali khotbah pertama Sang Buddha yang membuka jalan pencerahan,” tuturnya.
Comments are closed.