Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Member Cuanki Dorong Lompatan Omset UMKM di Banyumas, Basreng Budhe Raup Rp10 Juta per Bulan

BERITA ADVETORIAL

METROJATENG.COM, PURWOKERTO — Terobosan inovatif dari Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM (Dinnakerkop UKM) Kabupaten Banyumas berhasil membuka peluang emas bagi pelaku UMKM lokal. Melalui program “Member Cuanki” (Membangun Jejaring dan Cara Berjualan Menggunakan Katalog Inyong), para pengusaha kecil kini dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ritel modern dan sektor perhotelan.

Salah satu UMKM yang merasakan langsung manfaat program ini adalah Basreng Budhe, produk camilan basreng racikan Dea Ega Saputri. Dea sudah menggeluti bisnis camilan basreng hampir tiga tahun. Selama ini, pemasaran dilakukan dengan mengandalkan jejaring pertemanan dan saudara serta penjualan melalui platfom digital. Hasilnya, sudah ada perkembangan, dari semula omset hanya kisaran Rp 500 ribu per bulan, meningkat menjadi jutaan rupiah.

Namun, ada keinginan Dea yang belum bisa diwujudkan, yaitu merambah market toko modern serta hotel-hotel. Keinginan tersebut, baru bisa terealisasi dalam dua bulan terakhir, setelah adanya inovasi Member Cuanki dari Dinnakerkop UKM Banyumas.

“Sudah lama sekali saya ingin bisa memasukan produk ke toko-toko modern, bahkan saya pernah menawarkan langsung ke salah satu toko modern di sini, tetapi mereka minta agar produk saya dikonsultasikan dulu dengan dinas terkait, agar dikurasi, terkait packaging dan sebagainya,” terangnya.

Setelah Member Cuanki diterapkan dua bulan lalu, Dea bisa bernafas lega. Bahkan, hasilnya sungguh di luar ekspektasi, tak hanya merambah toko modern, tetapi produk Basreng Budhe juga masuk ke 13 hotel besar di Kota Purwokerto. Tak hanya itu, katalog Member Cuanki yang tersebar di berbagai perkantoran hingga kecamatan dan desa, membuat Dea kebanjiran pesanan.

“Alhamdulillah, sekarang omset sudah mencapai kisaran Rp 10 juta per bulan, untuk yang di hotel-hotel sudah dua kali restok. Keberadaan Member Cuanki sangat membantu kami, para pelaku UMKM untuk merambah pasar lebih luas,” ucapnya.

Dari Camilan Iseng Jadi Produk Profesional

Kisah Basreng Budhe bermula dari hobi sederhana Dea yang gemar ngemil. Ia mulai bereksperimen membuat basreng rumahan yang pada saat itu menjadi tren di kalangan penikmat camilan. Respons positif dari keluarga dan rekan kerja mendorongnya serius mengembangkan usaha ini.

Berawal dari dua varian rasa, original dan pedas manis, kini Basreng Budhe hadir dengan tambahan dua varian baru, yaitu pedas asin dan jagung pedas. Inovasi rasa ini disambut baik oleh pelanggan dari berbagai kalangan, termasuk tamu hotel berbintang.

“Dulu saya hanya menjual lewat teman dan media sosial. Tapi ketika ingin masuk toko modern, saya kesulitan karena diminta berkonsultasi dulu dengan dinas. Untungnya sekarang ada Member Cuanki yang bantu kurasi produk dan distribusinya,” jelas Dea, yang juga bekerja di salah satu dealer mobil di Purwokerto.

Dinnakerkop UKM Banyumas Hadir Sebagai Mitra UMKM

Program Member Cuanki bukan sekadar katalog digital. Ini adalah ekosistem yang dirancang untuk memperkuat branding, memperluas jejaring, dan mempermudah distribusi produk UMKM lokal. Inovasi karya Kabid UMKM Dinnakerkop UKM Banyumas, Dr.Ani Widosari S.Pd.M.Pd ini, disebarluaskan secara strategis ke kantor-kantor pemerintahan, kecamatan, desa, bahkan mitra sektor swasta seperti hotel dan ritel.

Selain dukungan promosi, para pelaku UMKM juga mendapat pelatihan tentang pengemasan, legalitas produk, serta strategi pemasaran dari Dinnakerkop UKM.

“Kami ingin UMKM Banyumas bisa bersaing di pasar modern. Dengan Member Cuanki, kami bantu dari hulu ke hilir, mulai dari peningkatan kualitas hingga akses ke pasar potensial,” ungkap Ani Widosari.

Kesuksesan Basreng Budhe menjadi bukti nyata bahwa dengan dukungan program yang tepat, UMKM lokal bisa tumbuh besar dan berdaya saing tinggi. Member Cuanki telah membuka jalan bagi banyak pelaku usaha kecil untuk tampil profesional dan menjangkau konsumen lebih luas. Seperti Basreng Budhe, dari Banyumas untuk lidah Indonesia.

Comments are closed.