Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Tingginya Angka Perceraian, Fraksi PKS Dorong Penguatan Ketahanan Keluarga di Banyumas

METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Kasus perceraian di Kabupaten Banyumas kian mengkhawatirkan. Bayangkan saja, setiap dua jam sekali, satu rumah tangga kandas di meja hijau. Dalam sehari, rata-rata tercatat 12 hingga 13 kasus perceraian. Fenomena ini mendorong DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Banyumas untuk memperjuangkan penguatan ketahanan keluarga sebagai fokus utama perjuangan politiknya.

Anggota Fraksi PKS DPRD Banyumas, Atik Luthfiyah, menyampaikan keprihatinannya dalam sebuah acara silaturahmi DPD PKS Banyumas, Jumat (16/5/2025). Menurutnya, keluarga adalah benteng pertama masyarakat yang kini mulai rapuh.

“Saya tadi pagi mendapat kabar menyedihkan. Seorang ibu muda mencoba mengakhiri hidupnya karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia menikah di usia sangat muda karena alasan kecelakaan, dan kini hidupnya terpuruk. Ini bukan hanya soal individu, tapi berdampak besar pada tumbuh kembang anak-anaknya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Atik membeberkan bahwa 78% perceraian disebabkan oleh masalah ekonomi, dan mayoritas penggugat adalah perempuan. Ironisnya, sebagian besar rumah tangga yang hancur ini baru berusia lima hingga enam tahun, dengan rata-rata usia pasangan di kisaran 35 tahun.

Sebagai Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPD PKS Banyumas, Atik mendorong adanya payung hukum khusus untuk ketahanan keluarga. Ia menegaskan pentingnya menjadikan isu perempuan dan keluarga sebagai basis dalam setiap kebijakan publik.

“Salah satu misi saya di DPRD Banyumas adalah memperjuangkan lahirnya perda ketahanan keluarga. Alhamdulillah, ini mendapat dukungan dari rekan-rekan di Komisi IV dan sedang dalam proses menjadi perda inisiatif,” jelasnya.

Tak hanya soal perceraian, Atik juga menyoroti tingkat kemiskinan di Banyumas yang masih mencapai 11,95%, namun pola konsumsi masyarakat menunjukkan ironi. Konsumsi rokok justru menempati urutan keempat, setelah beras.

“Kita harus mulai membenahi bukan hanya dari sisi fisik, tapi juga dari fondasi keluarga. Ini butuh waktu, kesabaran, dan edukasi yang berkelanjutan. Hasilnya mungkin tidak instan, tapi sangat penting untuk masa depan generasi kita,” tegasnya.

Comments are closed.