Tingkatkan Citra Diri, Dosen FIB dan FISIP UNSOED Latihan Gamelan Jawa
METROJATENG.COM, PURWOKERTO- Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman melakukan pelatihan gamelan di Sanggar Seni Larasati. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk sarana pelesatarian dan penguatan citra diri untuk siswa dan siswi sanggar. Sanggar Seni Larasati ialah salah satu sanggar yang terletak di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga.
Sanggar yang berfokus pada bidang seni pertunjukan tardisional ini dibentuk oleh Hening Pamudi Larasati. Penari yang sekaligus berprofesi sebagai guru ini memfasilitasi anak-anak yang cinta terhadap seni pertunjukan tardisonal, khususnya pada bidang tari, musik, dan drama.
Kegiatan pelatihan gamelan Jawa dilaksanakan pada tanggal 25 bulan Juni 2024. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen-dosen di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman.
Pada kegiatan ini terbagi menjadi pertemuan teori dan praktik. Pada pertemuan teori, siswa dan siswi sanggar belajar tentang notasi gamelan Jawa serta teori-teori tentang penguatan citra diri. Gendhing atau lagu yang dipelajari oleh siswa dan siswi ini adalah gendhing atau lagu berjenis lancaran.
Kegiatan diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh ketua sanggar, yakni Hening Pamudi Larasati. Hening menyampaikan antusiasnya dalam kolaborasi antara Sanggar Seni Larasati dengan Universitas Jenderal Soedirman.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penyemangat untuk siswa dan siswa sanggar yang belajar di sana.
“Saya sangat menyambut baik kegiatan kolaborasi ini. Semoga kegiatan ini menjadi kegiatan yang positif dan dapat menyemangati siswa dan siswi di sini untuk berjuang melestarikan kebudayaan tradisional. Saya juga berharap semoga kegiatan ini dapat berlangsung secara kontinyu.” Tutur Hening saat memberi sambutannya.
Kegiatan pelatihan gamelan Jawa didampingi oleh Exwan Andriyan Verrysaputro dan Sulung. Exwan ialah salah satu dosen yang mengajar mata kuliah budaya di Fakultas Ilmu Budaya.
Dalam kesempatan itu, Exwan memberikan pelatihan untuk memainkan gamelan berjenis lancaran. Lancaran yang dibuat oleh Exwan diberi judul Wiji Jiwa Jawi. Lagu yang berjenis lancaran tersebut dibuat khusus untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.
Exwan berharap agar kegiatan di Sanggar Seni Larasati dapat terus berjalan sehingga dapat menjadi wadah untuk penyaluran bakat dan minat masyarakat terhadap perkembangan dan pelestarian seni tradisi.
“Malam ini teman-teman akan berlatih memainkan lagu berjenis lancaran. Lagu tersebut berjudul Wiji Jiwa Jawi. Lagu ini dibuat khusus dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Semoga isi dalam lagu ini menjadi penyemangat untuk teman-teman sanggar berlatih seni pertunjukan tradisional dan siap untuk menjadi agen pelestari dan pengembang seni tradisi lokal”, Kata Exwan saat memberi sambutan malam itu
Setelah kegiatan pelatihan, dilanjutkan pengenalan dalam penguatan citradiri. Pelatihan penguatan citra diri ini dilakukan untuk menambah kepercayaan diri siswa dan siswi sanggar dalam meneruskan perjuangan-perjuangan seniman dan seniwati dalam memperjuangkan keberadaan seni dan budaya lokal.
Kegiatan penguatan citradiri ini diawali dengan pemaparan dari Kilau Riksaning Ayu. Kilau adalah salah satu dosen yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman.
Kilau menyampaikan tentang pembentukan jati diri kita tidak melalui proses yang instant. Namun, harus melalui proses-proses Panjang. Ada jatuh dan bangun, sakit dan bangkit, serta suka dan duka. Keadaan-keadaan tersebut hendaknya tidak membuat siswa dan siswa sanggar minder, namun malah menjadikan itu sebagai penyemangat dalam hidup.
“Citradiri tidak dapat dibentuk melalui proses yang instant, namun harus melalui proses Panjang yang ada fase jatuh – bangun, sakit – bangkit, dan suka – duka. Kita harus bisa menjadikan itu sebagai penyemangat dan motivasi dalam diri kita”. Jelas Kilau saat menyampaikan paparan materinya.
Pemaparan materi selanjutnya dilakukan oleh Ashlikhatul Fuaddah. Ia adalah dosen komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman. Ashlikh menyampaikan bahwa citradiri kita tidak hanya dapat kita kembangkan dalam dunia nyata saja, namun juga pada dunia digital. Misalnya menggunakan sosial media.
Sosial media menjadi suatu sarana yang sangat tepat untuk menguatkan citradiri kita di masyarakat. Sosial Media ini dapat dijadikan sebagai sarana dalam menunjukan kepada dunia bahwa kita bangaa terhadap budaya tradisi kita.
“Sosial Media sangat ampuh digunakan untuk menyampaikan kepada masyarakat umum tentang siapa diri kita sebenarnya. Sosial Media juga dapat dijadikan sebagai sarana dalam menunjukan kepada dunia bahwa kita bangaa terhadap budaya tradisi kita” tutup Ashlikh saat memberikan paparan informasinya.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tajuk Penguatan Citra Diri dan Pelestarian Budaya melalui Pelatihan Gamelan Jawa ini diikuti secara antusias oleh siswa dan siswi sanggar yang berjumlah 27 orang. Mereka ialah agen penerus, pelestari, dan pengembang kebudayaan yang semestinya harus kita jaga keberadaannya.
Comments are closed.