Irwan Hidayat Gaungkan “Menabung Saham”, Ubah Cara Masyarakat Kelola Uang
METROJATENG.COM, SEMARANG — Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, DR (HC) Irwan Hidayat, kembali mendorong perubahan pola pikir masyarakat dalam mengelola keuangan. Ia mengajak publik tidak hanya menabung, tetapi mulai beralih ke kebiasaan “menabung saham” sebagai langkah membangun masa depan finansial yang lebih kuat.
Menurut Irwan, selama ini masyarakat sudah terbiasa menyisihkan penghasilan setiap bulan. Namun, dana tersebut umumnya hanya disimpan tanpa memberikan hasil yang optimal.
Ide mengajak masyarakat menabung saham berawal ketika pembantu rumah tangganya akan mudik lebaran dan meminta gaji. Melihat gaji yang diterima banyak Irwan menanyakan untuk apa uang tersebut yang dijawab akan ditabung.
Dari situlah muncul ide untuk mengajak masyarakat menabung saham. Ini dikarenakan menabung saham untungnya lebih banyak.
“Orang Indonesia itu sebenarnya rajin menabung. Ada yang Rp100 ribu, Rp200 ribu, bahkan jutaan. Tapi kalau hanya disimpan, hasilnya kecil. Sayang kalau uangnya tidak berkembang,” ujarnya saat memberikan sosialisasi menabung saham kepada karyawannya, di kawasan wisata Agro Sido Muncul Semarang, Senin (30/3/2026).
Ia mencontohkan, banyak orang baru menyadari besarnya dana yang dimiliki saat momen tertentu seperti Lebaran, ketika kebutuhan meningkat dan simpanan mulai digunakan. Dari situ, muncul kesadaran, uang yang selama ini tersimpan sebenarnya memiliki potensi lebih jika dikelola dengan tepat.
Dorong Investasi Produktif
Irwan menilai, salah satu solusi yang bisa ditempuh adalah mengalihkan kebiasaan menabung ke instrumen yang lebih produktif, seperti saham. Terlebih jika investasi dilakukan pada perusahaan yang memiliki rekam jejak kuat, kinerja stabil, dan rutin membagikan dividen.
“Menabung tetap penting, tapi perlu ditingkatkan menjadi investasi. Pilih perusahaan yang sudah terbukti puluhan tahun, yang terus berkembang dan memberi keuntungan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti masih rendahnya partisipasi masyarakat Indonesia dalam investasi dibandingkan negara maju. Kondisi ini, menurutnya, menjadi peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan literasi keuangan.
Di Indonesia masyarakat yang menginvestasikan untuk saham baru 3-4 persen. Sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat sudah mencapai 62 persen.
Edukasi Lewat Contoh Nyata
Tidak hanya mengajak, Irwan memilih memberi contoh langsung. Ia memulai gerakan menabung saham dari internal perusahaan, dengan mendorong karyawan Sido Muncul untuk ikut berinvestasi.
Dari sekitar 4.000 karyawan, baru sebagian kecil yang memiliki saham. Hal ini menjadi perhatian sekaligus titik awal edukasi yang ingin ia bangun.
“Saya tidak mau hanya bicara. Yang paling penting itu praktik. Kalau karyawan sudah mulai, nanti akan menular ke masyarakat luas,” katanya.
Ia menegaskan, investasi saham tidak harus dimulai dengan nominal besar. Kuncinya adalah konsistensi dan kedisiplinan dalam menyisihkan sebagian penghasilan.
“Dari gaji bulanan, pasti bisa disisihkan. Mau Rp200 ribu, Rp500 ribu, atau lebih, itu tergantung kemampuan. Yang penting rutin dan sabar,” tambahnya.
Irwan berharap, gerakan menabung saham ini dapat menjadi langkah awal membangun kemandirian finansial masyarakat Indonesia. Dengan investasi yang tepat, uang tidak hanya tersimpan, tetapi juga berkembang dan memberikan nilai tambah dalam jangka panjang.
“Ini soal mengubah kebiasaan. Dari yang hanya menyimpan, menjadi mengembangkan. Kalau itu bisa dilakukan, dampaknya besar bagi masa depan,” tegasnya.
Melalui pendekatan sederhana namun konsisten, Irwan optimistis semakin banyak masyarakat yang akan memahami pentingnya investasi dan mulai mengambil langkah nyata untuk meningkatkan kesejahteraan finansial mereka. (*))
Comments are closed.