Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun, Empat Segmen Bisnis Tumbuh Positif
METROJATENG.COM, JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk terus menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika industri telekomunikasi dan percepatan transformasi digital. Hingga kuartal III 2026, perusahaan pelat merah tersebut membukukan pendapatan konsolidasi Rp113,5 triliun atau tumbuh 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut ditopang kontribusi empat segmen bisnis utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Bisnis Data, Internet & IT Services menjadi salah satu motor penggerak dengan pendapatan mencapai Rp71,5 triliun, meningkat 8,3 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Dari sisi profitabilitas, Telkom mencatatkan EBITDA Rp55,5 triliun atau tumbuh 2 persen YoY, dengan margin 48,9 persen. Sementara laba bersih tercatat Rp14,4 triliun. Jika dinormalisasi, laba bersih perseroan mencapai Rp16,5 triliun atau meningkat 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, perusahaan terus memperkuat bisnis inti sekaligus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30.
Menurut dia, meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap layanan data dan kebutuhan layanan digital yang semakin andal menjadi peluang bagi TelkomGroup untuk memperluas bisnis.
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Tren peningkatan konsumsi data menjadi peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki,” ujar Nanang dalam keterangan resminya, Senin (2/11/2026).
Bisnis Digital dan Infrastruktur
Pada segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, Telkom membukukan pendapatan Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen YoY.
Sementara itu, Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun, meningkat 1,8 persen. Kontribusi terbesar berasal dari bisnis digital yang tumbuh 7,7 persen menjadi Rp60,7 triliun.
Penguatan monetisasi layanan seluler juga terlihat dari kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) sebesar 7,1 persen menjadi Rp45.400. Data yield atau pendapatan rata-rata per satuan konsumsi data turut meningkat 6,5 persen.
Di bisnis fixed broadband, pendapatan IndiHome tercatat Rp19,1 triliun. Meski masih melakukan penataan basis pelanggan, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan. Hingga kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome mencapai 9,63 juta atau naik 1,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. ARPU juga meningkat 3,2 persen menjadi Rp217.700.
Pertumbuhan juga terlihat pada segmen B2B Infrastructure. Pendapatan bisnis ini mencapai Rp7,1 triliun atau meningkat 5,5 persen YoY, ditopang layanan data center, konektivitas, dan penyewaan infrastruktur.
Mitratel, misalnya, membukukan pendapatan Rp7,01 triliun dari bisnis menara telekomunikasi dan fiber to the tower (FTTT), tumbuh 1,8 persen. Perusahaan tersebut juga mencatatkan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun.
Sementara itu, bisnis data center melalui NeutraDC mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Hingga September 2026, pendapatannya mencapai Rp1,39 triliun atau meningkat 17 persen YoY. EBITDA bahkan tumbuh 35 persen dengan margin 40,9 persen.
Peningkatan tersebut didukung kontribusi data center di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan terhadap layanan komputasi, termasuk yang berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). TelkomGroup juga menjajaki kemitraan strategis untuk memperkuat kemampuan teknis, akses pasar, dan pendanaan.
Segmen B2B dan Internasional Ikut Menguat
Di segmen B2B ICT, Telkom membukukan pendapatan Rp11,2 triliun atau tumbuh 3,1 persen YoY. Segmen usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi salah satu pendorong utama dengan pertumbuhan pendapatan 10,2 persen menjadi Rp3,3 triliun.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan bertambahnya pelanggan Indibiz sebesar 10,9 persen menjadi 771.100 pelanggan. Sementara bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution tumbuh 6,2 persen.
Adapun segmen International mencatatkan pendapatan Rp8,9 triliun atau meningkat 5,8 persen YoY. Kenaikan terutama ditopang pendapatan jaringan yang melonjak 50,2 persen menjadi Rp1,37 triliun.
Untuk memperkuat konektivitas global, Telin terus mengembangkan jaringan kabel laut internasional. Salah satunya melalui proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026 serta proyek INSICA yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pengembangan tersebut sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai hub kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.
Nanang mengatakan, pengembangan jaringan internasional menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital nasional agar Indonesia memiliki peran lebih besar dalam ekosistem konektivitas regional maupun global.
Percepat Transformasi
Selain mengejar pertumbuhan bisnis, Telkom juga mempercepat transformasi perusahaan melalui strategi TLKM 30. Program ini bertumpu pada empat pilar, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Salah satu fokus utama tahun ini adalah penataan portofolio bisnis atau streamlining. Hingga kuartal III 2026, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas, terdiri atas divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas.
Perseroan juga merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun, dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen. Sebanyak 94,3 persen belanja modal dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure.
Tonggak penting lainnya adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui langkah tersebut, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia. Penataan ini diharapkan membuat pengelolaan infrastruktur lebih optimal melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access, sekaligus membuka peluang komersialisasi serta kemitraan strategis.
Nanang menegaskan, transformasi tersebut diarahkan untuk membangun organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan adaptif dalam menghadapi persaingan industri digital.
“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile,” katanya.
Dengan pertumbuhan di empat segmen bisnis serta percepatan transformasi, Telkom optimistis dapat menjaga momentum kinerja hingga akhir 2026. Perusahaan juga berkomitmen meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan seiring penguatan ekosistem digital nasional. [*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.