Sebuah festival tidak hanya menjadi tempat memamerkan produk. Lebih dari itu, festival seharusnya menjadi ruang untuk menguji kemampuan, memperluas wawasan, dan membuka jalan menuju kesempatan yang lebih besar.
Itulah yang patut diharapkan dari keikutsertaan Jawa Tengah dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, 14–18 Oktober. Ada pelaku usaha pangan dan fesyen yang membawa produk unggulan. Ada pula peserta kompetisi koki halal dengan latar belakang yang beragam. Mereka datang dengan kemampuan, pengalaman, dan harapan masing-masing.
Tiga nama dari Jawa Tengah tercatat sebagai peserta kompetisi koki halal. Mohamad Rozikin merupakan praktisi kuliner dari Jepara. Bonifasius Savio Yudhatama masih menempuh pendidikan di SMK Theresiana Semarang, sedangkan Naila Ziyadatil Husna berasal dari Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Semarang.
Perbedaan latar belakang ketiganya menarik untuk dicermati. Dapur profesional, ruang praktik sekolah kejuruan, dan lingkungan pesantren menjadi tempat mereka mengasah keterampilan. Mereka menempuh jalan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu bidang yang sama: kuliner halal.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa ekonomi syariah bukan semata-mata urusan label halal, sertifikat, atau besarnya transaksi. Di baliknya, ada manusia yang perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan menghasilkan produk yang bermutu serta dipercaya konsumen.
Keterampilan di Balik Produk
Kita sering kali hanya melihat hasil akhir. Masakan tersaji cantik di atas piring. Busana tampil menarik di panggung peragaan. Produk pangan dikemas rapi dan dipajang di ruang pamer.
Namun, tidak banyak orang melihat pekerjaan panjang di baliknya. Ada proses memilih bahan, menjaga kebersihan, menyempurnakan resep, memperbaiki desain, menghitung biaya, hingga memastikan kualitas produk tetap konsisten.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), proses itu tidak selalu mudah. Keterbatasan modal, peralatan, tenaga kerja, dan akses pasar kerap menjadi tantangan. Memenuhi standar halal merupakan langkah penting, tetapi pekerjaan tidak berhenti di sana. Produk juga harus memiliki kualitas yang baik, harga bersaing, kemasan menarik, dan kemampuan memenuhi permintaan konsumen.
Karena itu, pengembangan ekonomi syariah perlu berjalan lebih jauh daripada sekadar mendorong sertifikasi halal. Keterampilan sumber daya manusia, pengelolaan usaha, inovasi produk, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar juga harus mendapat perhatian.
Dalam konteks ini, kehadiran pelaku usaha seperti Rorokenes, Maludra Batik, dan PT Adarasa Putra Jaya dalam partisipasi Jawa Tengah di ISEF menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas. Mereka bergerak di bidang berbeda, tetapi menghadapi kebutuhan serupa: menjaga mutu, memperkuat kapasitas produksi, dan menemukan cara agar produknya menjangkau pasar yang lebih luas.
Produk yang baik membutuhkan proses yang baik pula. Dan proses yang baik hanya bisa tumbuh apabila pelakunya memperoleh kesempatan untuk terus belajar dan berkembang.
Festival Bukan Garis Akhir
ISEF menyediakan ruang pertemuan melalui pameran produk halal, kegiatan fesyen, kompetisi, forum pesantren, hingga pertemuan bisnis. Bagi peserta dari daerah, kesempatan ini tentu berharga. Mereka dapat memperkenalkan produk, membangun jejaring, mempelajari tren, sekaligus mengamati standar yang diterapkan pelaku usaha lain.
Namun, kita perlu menempatkan festival secara proporsional. Kehadiran di ajang besar tidak otomatis membuat sebuah usaha berkembang. Bertemu calon mitra belum tentu berujung transaksi. Produk yang dipamerkan pun belum tentu langsung menemukan pasar baru.
Nilai sebuah festival justru perlu dilihat dari apa yang terjadi setelah acara berakhir.
Apakah peserta memperoleh pengetahuan baru? Apakah ada peluang kerja sama yang berlanjut? Apakah pelaku usaha mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki? Apakah peserta muda semakin yakin untuk menekuni bidang yang dipelajarinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena kebutuhan setiap peserta berbeda. Pelaku usaha makanan mungkin memerlukan teknologi pengemasan agar produknya tahan dikirim ke luar kota. Perajin fesyen bisa jadi membutuhkan akses bahan baku atau strategi pemasaran digital. Sementara itu, usaha yang mulai berkembang mungkin memerlukan tambahan mesin, tenaga kerja, atau pembiayaan untuk meningkatkan produksi.
Artinya, tidak cukup hanya membuka pintu pertemuan. Harus ada pendampingan yang membantu peserta melangkah setelah mereka pulang.
Bank Indonesia, pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah, sekolah, pesantren, dan komunitas usaha dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Pelatihan, akses pembiayaan yang sesuai kebutuhan, penguatan manajemen, serta perluasan pasar perlu berjalan beriringan.
Dengan begitu, ISEF tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari proses panjang membangun pelaku ekonomi syariah yang lebih tangguh.
Dari Daerah, Menuju Pasar yang Lebih Luas
Jawa Tengah sebenarnya memiliki modal untuk melangkah ke arah itu. Rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa menjadi salah satu pintu menuju ISEF. Kegiatan di daerah memberi ruang bagi pelaku usaha dan peserta kompetisi untuk memperkenalkan karya, menguji kemampuan, serta membangun kepercayaan diri sebelum berhadapan dengan pasar yang lebih luas.
Modal tersebut perlu dijaga melalui pembinaan yang berkesinambungan. Jangan sampai semangat peserta hanya tumbuh menjelang festival, lalu meredup ketika panggung dibongkar dan stan pameran ditutup.
Pelaku usaha membutuhkan ekosistem yang memungkinkan mereka berkembang setiap saat, bukan hanya ketika ada agenda promosi. Demikian pula peserta muda. Mereka membutuhkan ruang belajar, kesempatan berkompetisi, dan akses menuju dunia kerja agar keterampilan yang dimiliki tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat.
Di sinilah ekonomi syariah memiliki peluang untuk memberikan manfaat yang lebih nyata. Prinsip kehalalan dapat berjalan bersama dengan mutu, profesionalisme, keadilan dalam transaksi, dan keberlanjutan usaha. Dengan fondasi itu, produk halal tidak hanya memenuhi ketentuan, tetapi juga mampu bersaing karena kualitasnya.
Apa yang Dibawa Pulang?
Keberhasilan ISEF tidak harus diukur dari banyaknya kontrak bisnis yang ditandatangani atau ramainya pengunjung yang mendatangi stan. Hasil semacam itu memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.
Bagi seorang pelajar, pengalaman bertemu praktisi profesional mungkin membuka pandangan baru tentang masa depan. Bagi santri, kompetisi dapat menjadi kesempatan membuktikan bahwa keterampilan yang dipelajari di pesantren juga memiliki ruang di dunia usaha. Bagi pelaku UMKM, satu masukan tentang kualitas produk, kemasan, atau pengelolaan biaya bisa menjadi bekal untuk memperbaiki usahanya.
Tentu, kita berharap partisipasi Jawa Tengah di ISEF menghasilkan jejaring, transaksi, dan peluang pasar baru. Namun, ada sesuatu yang tak kalah penting untuk dibawa pulang: pengetahuan yang bisa diterapkan, pengalaman yang memperkuat kemampuan, dan hubungan yang dapat ditindaklanjuti.
Dari Jepara hingga Semarang, para peserta membawa beragam keterampilan ke Jakarta. Mereka datang bukan hanya untuk menunjukkan apa yang telah dikuasai, tetapi juga untuk belajar tentang apa yang masih perlu diperbaiki.
Pada akhirnya, kemajuan ekonomi syariah tidak cukup ditandai oleh semakin banyaknya produk halal atau meriahnya festival. Kemajuan itu akan lebih terasa ketika pelaku usaha mampu tumbuh, tenaga kerja semakin terampil, anak muda menemukan kesempatan, dan usaha kecil memperoleh dukungan untuk naik kelas.
ISEF memang berlangsung di Jakarta. Namun, nilai sesungguhnya dari keikutsertaan Jawa Tengah akan terlihat ketika para peserta kembali ke daerah dan membawa perubahan dalam pekerjaan mereka.
Sebab, yang paling berharga dari sebuah festival bukanlah apa yang dipamerkan di panggung, melainkan apa yang tetap tumbuh setelah panggung itu ditinggalkan. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.