Fatayat Banyumanik Dikukuhkan, Perempuan Didorong Tak Sekadar Jadi Penonton Pembangunan Kota Semarang

METROJATENG.COM, SEMARANG – Perempuan tidak cukup hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka perlu ikut berbicara, mengambil keputusan, sekaligus terlibat langsung menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam talkshow bertema “Perempuan Berbicara, Semarang Bergerak” yang digelar bersamaan dengan pengukuhan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Banyumanik serta pertemuan rutin triwulan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kota Semarang di Gedung Balai Diklat Keagamaan Kota Semarang, Minggu (4/10/2026).
Talkshow menghadirkan tiga pembicara, yakni Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah Hj. Tadzkiyatul Muthmainnah, serta dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Dr. Phil. Nuriyatul Lailiyah. Hadir pula Ketua PC Fatayat NU Kota Semarang Hj. Istighfaroh, Ketua Syuriyah dan Tanfidziyah NU Banyumanik, Camat Banyumanik, serta unsur badan otonom NU.
Wali Kota Semarang menegaskan pembangunan kota tidak akan berjalan maksimal jika hanya mengandalkan satu kelompok. Perempuan dan laki-laki, menurut dia, harus berjalan bersama dan memperoleh kesempatan yang setara untuk mengambil peran.
“Perempuan dan laki-laki itu seperti dua sayap burung. Kalau salah satu sayap patah, burung tidak bisa terbang tinggi,” ujar Agustina.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap cara pandang lama yang masih menempatkan perempuan hanya sebagai kanca wingking atau pihak yang berada di belakang laki-laki. Menurut Agustina, perempuan memang memiliki pengalaman biologis yang berbeda, seperti mengandung dan menyusui. Namun, hal itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi ruang perempuan dalam kehidupan sosial maupun pembangunan.
Justru sejumlah karakter yang selama ini dilekatkan kepada perempuan, seperti ketelitian, ketekunan, kemampuan membangun relasi dan empati, dapat menjadi modal penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota. Salah satunya persoalan lingkungan.
Agustina menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam gerakan pengelolaan sampah karena banyak aktivitas pengelolaan rumah tangga bersinggungan langsung dengan persoalan sampah. Karena itu, ia mendorong gerakan pilah sampah dari rumah, termasuk pengembangan bank sampah, maggot, pupuk, hingga berbagai inovasi pengolahan sampah.
Pesannya sederhana: persoalan sampah tidak bisa terus-menerus dibebankan kepada tempat pembuangan akhir. Jika pola pengelolaan tidak berubah, persoalan sampah akan menjadi beban yang semakin besar bagi kota pada masa mendatang.
Perempuan Jangan Hanya Ramai di Organisasi
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tegal sekaligus Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah Hj. Tadzkiyatul Muthmainnah mengingatkan agar organisasi perempuan tidak berhenti pada aktivitas seremonial.
“Fatayat harus menjadi ruang bagi perempuan untuk meningkatkan kapasitas, keberanian dan kemampuan mengambil keputusan,” kata Iin, sapaan akrabnya.
Ia menyebut masih banyak persoalan yang dihadapi perempuan, mulai dari rasa tidak percaya diri, ketimpangan gender, kekerasan fisik dan psikologis, kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender daring, persoalan kesehatan reproduksi, hingga ketimpangan ekonomi. Masalah lainnya adalah masih terbatasnya perempuan yang berani masuk ke ruang publik dan kepemimpinan.
Karena itu, ia menawarkan konsep 5B, yakni Brain, Beauty, Behavior, Brave, dan Believe. Brain berarti perempuan harus terus belajar dan berpikir kritis. Perkembangan teknologi, termasuk media sosial, semestinya tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan.
“Behavior berkaitan dengan karakter dan sikap. Sementara Brave menuntut perempuan berani mencoba, berbicara dan mengambil peran. Adapun Believe berkaitan dengan keyakinan dan kedekatan kepada Allah,” jelasnya. Sedangkan Beauty, lanjutnya, tidak semata-mata persoalan fisik.
Pesan itu menjadi penting di tengah budaya digital yang kerap membuat perempuan terjebak pada standar kecantikan yang sempit, misalnya harus putih, tinggi, langsing, dan memenuhi ukuran fisik tertentu. Padahal, kualitas perempuan tidak semestinya ditentukan hanya dari penampilan.
“Kalau perempuan tidak hadir dalam ruang politik dan pengambilan keputusan, jangan heran jika kebijakan yang lahir juga belum tentu sensitif terhadap persoalan perempuan,” ujarnya.
Karena itu, Fatayat Banyumanik yang baru dikukuhkan didorong tidak hanya menjadi organisasi yang aktif membuat kegiatan, tetapi juga menjadi tempat kader perempuan belajar berbicara, berdiskusi, meningkatkan kapasitas, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin.
Dari Banyumanik ke Jejaring yang Lebih Luas
Dosen Ilmu Komunikasi Undip Dr. Phil. Nuriyatul Lailiyah menambahkan, tantangan perempuan ke depan semakin berkaitan dengan dunia digital, pendidikan, kemampuan berkomunikasi, serta membangun jejaring.
Ia membagikan pengalamannya selama lebih dari dua dekade dalam kegiatan literasi media dan digital bersama anak-anak, sekolah, guru, orang tua maupun komunitas. Menurutnya, organisasi seperti Fatayat memiliki kekuatan karena bersentuhan langsung dengan masyarakat hingga tingkat akar rumput.
Karena itu, jaringan tersebut harus dimanfaatkan untuk membuka akses yang lebih luas, terutama dalam pendidikan. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan Fatayat, termasuk kegiatan pengabdian masyarakat serta pelatihan intensif English Public Speaking bagi kader perempuan.
Bagi Nuriyatul, kemampuan berbicara dan berkomunikasi akan menjadi semakin penting. Perempuan tidak hanya dituntut mampu menjalankan organisasi, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan di ruang publik, membangun jejaring, serta berkomunikasi lintas kelompok.
“Modal dasar perempuan itu keberanian, percaya diri dan sejajar dengan laki-laki. Serta berani menyampaikan ide, gagasan dan membuka jejaring di mana pun. Ini yang mengantarkan saya sampai di kancah internasional,” ungkap akademisi yang lahir dari lingkungan pondok pesantren tersebut.
Pengukuhan Bukan Garis Akhir
Ketua PC Fatayat NU Kota Semarang Hj. Istighfaroh mengatakan penguatan organisasi hingga tingkat anak cabang dan ranting menjadi penting karena berbagai persoalan perempuan dan keluarga justru ditemukan di lingkungan masyarakat paling dekat.
Karena itu, ia berharap kepengurusan baru PAC Fatayat NU Banyumanik mampu menerjemahkan program organisasi menjadi gerakan yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami ingin Fatayat hadir bukan hanya ketika ada kegiatan atau seremoni. Kader harus hadir di tengah masyarakat, mendengar persoalan perempuan dan keluarga, kemudian ikut mencari jalan keluarnya. Pengurus yang baru dikukuhkan harus menjadikan organisasi sebagai ruang belajar, ruang pengabdian sekaligus ruang tumbuh bagi perempuan,” kata Istighfaroh.
Sementara Ketua PAC Fatayat NU Banyumanik Hj. Endang Listyowati, S.Pd menyatakan kepengurusan yang baru dikukuhkan siap menjadikan Banyumanik sebagai ruang tumbuh kader sekaligus tempat lahirnya program-program yang konkret. Tema “Perempuan Berbicara, Semarang Bergerak”, menurutnya, dipilih untuk menegaskan bahwa suara perempuan harus berujung pada tindakan dan perubahan di lingkungan masing-masing.
“Setelah perempuan berbicara, harus ada yang bergerak. Kami ingin kader Fatayat Banyumanik semakin percaya diri menyampaikan gagasan, tetapi juga mampu turun dan bekerja bersama masyarakat. Mulai dari persoalan keluarga, pendidikan, ekonomi perempuan, lingkungan hingga penguatan keagamaan, semuanya bisa menjadi ruang pengabdian Fatayat,” ujar Endang.
Pengukuhan PAC Fatayat NU Banyumanik dengan Hj. Endang Listyowati sebagai ketua akhirnya bukan sekadar penetapan kepengurusan. Ada pekerjaan yang jauh lebih besar setelah seremoni selesai. Fatayat ditantang membuktikan bahwa organisasi perempuan dapat menjadi ruang lahirnya kader yang berani berbicara, memiliki kapasitas, mandiri secara ekonomi, peduli terhadap lingkungan, serta siap masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
Ke depan, keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang digelar. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak perempuan yang setelah tumbuh bersama Fatayat menjadi lebih percaya diri, lebih berdaya, memiliki jejaring yang lebih luas, dan mempunyai keberanian menentukan arah masa depannya sendiri.(eff)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.