Indonesia Green Building Festival 2026 Digelar di Yogyakarta
*Solusi Bangun Indonesia Dorong Material Rendah Karbon
METROJATENG.COM, YOGYAKARTA- Dampak perubahan iklim yang semakin terasa, mulai dari peningkatan suhu hingga perubahan pola cuaca, menjadi tantangan yang turut memengaruhi arah pembangunan di Indonesia. Di tengah kebutuhan gedung dan infrastruktur yang terus meningkat, sektor konstruksi kini dituntut tidak hanya menghasilkan bangunan yang fungsional dan berkinerja baik, tetapi juga mampu menekan dampak terhadap lingkungan serta jejak karbon.
Upaya mendorong pembangunan rendah karbon menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 Indonesia. Karena itu, penerapan prinsip bangunan hijau dan penggunaan material yang lebih ramah lingkungan menjadi bagian dari transformasi sektor konstruksi menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Komitmen tersebut turut didorong PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), melalui penyelenggaraan Indonesia Green Building Festival 2026 – Bangun Indonesia: Yogyakarta Chapter. Kegiatan yang bekerja sama dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) tersebut digelar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Senin (14/9/2026).
Yogyakarta menjadi kota kedua dalam rangkaian Indonesia Green Building Festival 2026 yang diselenggarakan SIG dan GBCI di lima kota besar di Indonesia. Rangkaian tersebut mencakup Bandung, Yogyakarta, Makassar, Denpasar, dan Surabaya.
Mengusung tema “Living Net Zero”, kegiatan tersebut menghadirkan praktisi bidang konstruksi dan arsitektur, regulator, serta akademisi. Para narasumber membagikan perspektif dan pengalaman mengenai berbagai pendekatan dalam mewujudkan bangunan yang lebih ramah lingkungan, efisien, serta rendah karbon.
Ketua GBCI Yogyakarta, Daud Tjondrorahardja, mengatakan penerapan konsep bangunan hijau perlu menjadi bagian dari ekosistem pembangunan secara menyeluruh. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar prinsip keberlanjutan dapat diterapkan secara lebih luas.
“Keterlibatan industri bahan bangunan, perencana, pengembang, pemerintah, akademisi, hingga masyarakat menjadi penting agar prinsip keberlanjutan dapat diterapkan secara lebih luas sekaligus memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi dalam jangka panjang,” ujar Daud.
Seminar Indonesia Green Building Festival 2026 juga menjadi forum untuk membahas integrasi inovasi material dengan desain dan performa bangunan dalam mendukung konstruksi rendah karbon. Diskusi mencakup berbagai tantangan dan peluang penerapan bangunan hijau, mulai dari aspek kebijakan, perencanaan dan desain, hingga pemilihan material.
Product Advocacy Specialist SIG, Arief Sutanto, menilai industri bahan bangunan memiliki peran penting dalam memperluas penerapan prinsip bangunan hijau. Menurutnya, pengembangan desain dan performa bangunan perlu berjalan beriringan dengan inovasi material yang mendukung target pembangunan rendah karbon.
“Kolaborasi dan inovasi menjadi sangat penting dalam mendorong transformasi sektor konstruksi menuju pembangunan yang lebih rendah karbon. Pencapaian Net Zero Emission membutuhkan aksi kolektif yang dilakukan secara konsisten dan terintegrasi, termasuk melalui penggunaan material yang lebih ramah lingkungan serta penerapan solusi konstruksi yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan sejak tahap perencanaan, mulai dari bahan bangunan yang rendah karbon,” kata Arief.
Untuk menghadirkan produk dan solusi rendah karbon, Solusi Bangun Indonesia telah menjalankan berbagai inisiatif dalam proses produksinya. Upaya tersebut antara lain melalui pemanfaatan bahan baku dan bahan bakar alternatif, peningkatan efisiensi energi, hingga penggunaan energi terbarukan.
Langkah tersebut juga berjalan beriringan dengan pengembangan produk dan solusi bahan bangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi serta tren pembangunan berkelanjutan. Kebutuhan terhadap infrastruktur yang lebih ramah lingkungan mendorong penggunaan material dan solusi konstruksi yang tidak hanya mampu mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga tetap memiliki performa dan durabilitas optimal.
Solusi Bangun Indonesia juga memiliki berbagai solusi konstruksi untuk menjawab kebutuhan dan kondisi lingkungan yang beragam. Produk dan solusi tersebut mencakup semen tipe khusus, solusi stabilisasi tanah, serta inovasi beton seperti ThruCrete, beton berpori yang membantu mengurangi genangan dengan memungkinkan air meresap ke dalam tanah.
Selain itu terdapat SpeedCrete, inovasi beton cepat kering yang ditujukan untuk mendukung percepatan pekerjaan, termasuk perbaikan jalan. Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi konstruksi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pembangunan dan aspek keberlanjutan.
“Kami ingin memastikan setiap langkah yang kami lakukan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan jejak karbon sekaligus mendukung Indonesia mencapai target Net Zero Emission 2060,” tutur Arief.
Dukung Pembangunan Gedung Hijau di UGM
Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan juga tercermin melalui dukungan Solusi Bangun Indonesia pada sejumlah proyek konstruksi di Yogyakarta, salah satunya Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
GIK UGM menjadi salah satu contoh bangunan super creative hub yang telah memperoleh sertifikasi Bangunan Gedung Hijau dari GBCI setelah dinilai mengimplementasikan prinsip-prinsip bangunan hijau melalui GREENSHIP GBCI.
Selain GIK UGM, Solusi Bangun Indonesia juga mendukung pembangunan sejumlah gedung lainnya di lingkungan UGM yang telah memperoleh sertifikasi GREENSHIP. Di antaranya Smart and Green Learning Center, Engineering Research and Innovation Center, Integrated Forest Farming Learning Center, serta Advanced Pharmaceutical Science Learning Center.
Sementara itu, Teaching Industry Learning Center saat ini masih berada pada tahap design recognition. Adapun Animal Science Learning Center, Agrotropica Learning Center, Dental Learning Center, dan Field Research Center telah melalui tahap final assessment dengan peringkat GOLD.
Berbagai proyek tersebut menunjukkan bahwa penerapan prinsip bangunan hijau tidak hanya berkaitan dengan desain bangunan, tetapi juga mencakup pemilihan material, efisiensi sumber daya, performa bangunan, hingga upaya mengurangi dampak lingkungan sepanjang siklus pembangunan.
Melalui kolaborasi antara industri, pemerintah, akademisi, praktisi, pengembang, dan masyarakat, penerapan konstruksi rendah karbon diharapkan semakin luas. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem konstruksi yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan saat ini tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan untuk masa mendatang.(ris)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.