Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Petani Boyolali Rasakan “Kemerdekaan Baru” Lewat Harga Gabah Stabil dan Akses Pupuk Lancar

METROJATENG.COM, BOYOLALI – Di tengah gegap gempita perayaan HUT ke-80 RI, para petani di Boyolali punya cara tersendiri memaknai arti kemerdekaan. Bagi Jarwanto (47), petani asal Desa Manggis, kemerdekaan bukan hanya soal mengibarkan bendera merah putih di halaman rumah, melainkan juga soal harga gabah yang tidak lagi merugikan, akses pupuk yang semakin lancar, serta dukungan alat mesin pertanian yang membuat hasil panen meningkat.

“Sekarang kami bisa lebih tenang. Harga gabah stabil, pupuk tidak lagi susah dicari, dan ada bantuan mesin yang membuat kerja lebih cepat,” ujar Jarwanto.

Awal tahun 2025 sempat menjadi masa sulit bagi petani. Harga gabah jatuh ke Rp6.000/kg, bahkan mengingatkan Jarwanto pada tahun-tahun sebelumnya ketika harga anjlok hingga Rp4.500/kg saat panen raya. Kondisi ini membuat banyak petani bingung, antara menjual gabah dengan harga rendah atau menimbun dengan risiko kualitas menurun.

Namun titik balik datang setelah Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang pengadaan dan pengelolaan gabah/beras dalam negeri. Kebijakan ini menjadi tameng harga agar tetap stabil sekaligus menjaga stok beras nasional.

“Dulu kami takut panen banyak tapi harga jatuh. Sekarang harga gabah basah bisa Rp7.500/kg. Itu sangat menguntungkan. Saya merasa diperhatikan,” ungkap Jarwanto.

Angin Segar untuk Petani Jagung

Kenaikan harga tidak hanya dirasakan oleh petani padi. Komoditas jagung juga mengalami perbaikan. Jika sebelumnya harga standar jagung hanya Rp5.500/kg, kini bisa mencapai Rp5.800/kg. Angka tersebut meski terlihat kecil, sangat berarti bagi petani.

“Kalau jagung naik seratus atau dua ratus rupiah per kilo, itu sudah terasa sekali. Apalagi kalau panennya sampai beberapa ton,” jelas Jarwanto.

Selain stabilisasi harga, pemerintah juga memperkuat dukungan melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Jarwanto mengaku, dengan adanya pompa air, kultivator, dan perbaikan saluran irigasi, produktivitas sawahnya ikut terdongkrak.

“Dulu satu hektare hanya bisa panen lima sampai enam ton. Sekarang bisa tujuh ton. Itu bedanya kalau ada bantuan pompa air dan irigasi yang lancar,” ujarnya dengan wajah sumringah.

Comments are closed.