Menembus Selat Hormuz, Perjuangan Pelaut Pertamina Menjaga Pasokan Energi Negeri.
Keselamatan Kru Tetap Jadi Prioritas Utama
KONFLIK geopolitik mengubah pelayaran menjadi pertaruhan keselamatan. Di tengah gangguan GPS dan ketidakpastian di Selat Hormuz, Rizqi Rafif berusaha menenangkan kru. Delapan jam terasa panjang, hingga akhirnya mereka berhasil melewati kawasan berbahaya itu dengan selamat.
METROJATENG.COM, SEMARANGLaut tak selalu menawarkan ketenangan. Bagi Rizqi Rafif, perwira kapal Pertamina Pride, hamparan air yang biasanya menjadi bagian dari rutinitas pelayaran berubah menjadi ruang penuh ketidakpastian ketika kapal yang dia awaki dengan 22 kru harus berjuang bertaruh nyawa melintasi Selat Hormuz, kawasan strategis yang dibayangi ketegangan konflik geopolitik.
Bagi pelaut, ombak besar, angin kencang, dan cuaca ekstrem merupakan bagian dari keseharian. Mereka terbiasa menghadapi perubahan cuaca, menempuh perjalanan panjang, dan bekerja jauh dari keluarga. Namun, kali ini tantangannya berbeda. Ancaman konflik membuat setiap keputusan navigasi harus diperhitungkan dengan cermat.
“Bagi para pelaut, ombak besar, angin kencang, dan cuaca ekstrem merupakan bagian dari keseharian. Namun kali ini, tantangan yang mereka hadapi jauh berbeda. Konflik geopolitik di kawasan membuat setiap keputusan navigasi harus diambil dengan penuh kehati-hatian, salah sedikit nyawa taruhannya,” ungkap Rizqi.
Ketegangan semakin terasa ketika GPS mengalami gangguan atau jamming. Gangguan ini membuat hampir seluruh kru kapal merasa cemas dan khawatir, karena salah perhitungan sedikit bisa fatal akibatnya.
Di tengah kawasan yang situasinya sulit diprediksi, gangguan sistem navigasi membuat Rizqi merasakan was was. Ketidakpastian itu bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga menyangkut keselamatan seluruh orang di atas kapal.
Para kru kapal juga menceritakan tantangan berbeda yang mereka alami, mulai dari pemilihan jalur di tengah kondisi yang dinamis hingga gangguan terhadap sistem GPS yang memerlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh tim navigasi.
“Kami sempat khawatir. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan harus mengikuti pihak yang mana. GPS juga mengalami jamming. Bisa dibilang kami sangat beruntung dapat melewati semuanya dengan selamat,” ungkap Rizqi.

Dalam situasi seperti itu, rasa takut menjadi sesuatu yang manusiawi. Namun, Rizqi menyadari dirinya tak boleh larut dalam kecemasan. Sebagai perwira kapal, ia harus tetap menjaga fokus sekaligus memastikan rekan-rekannya tidak kehilangan ketenangan.
Ia pun berusaha menguatkan para kru dengan kalimat sederhana yang lahir dari keyakinan dan harapan.
“Jangan takut, tetap tenang dan berdoa, pasti Allah akan memberikan jalan terbaik,” katanya menguatkan para kru.
Kalimat itu menjadi pegangan di tengah ketidakpastian. Rizqi mengajak rekan-rekannya untuk bersabar, tetap waspada, menjalankan prosedur keselamatan, dan tidak membiarkan kepanikan menguasai pikiran.
Ia sendiri bukan tanpa rasa takut. Gangguan GPS membuatnya was was, tetapi tanggung jawab menuntutnya untuk tetap berpikir jernih. Di tengah situasi yang tak sepenuhnya dapat dikendalikan, ia berusaha menjaga agar kecemasan tidak menjalar dan mengganggu konsentrasi kru.
Bagi Rizqi, doa bukan berarti menyerah pada keadaan. Doa berjalan beriringan dengan ikhtiar: tetap menjalankan tugas secara profesional, saling mengingatkan, serta mengambil keputusan dengan penuh kehati-hatian.
Di tengah luasnya laut, ketika ancaman tak selalu terlihat dan keadaan dapat berubah sewaktu-waktu, ketenangan menjadi bagian penting dari perjuangan mereka.
Delapan Jam Terasa Panjang
Selat Hormuz bukan jalur laut biasa. Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu merupakan salah satu jalur penting perdagangan energi dunia. Ketika konflik membayangi kawasan tersebut, kapal-kapal yang melintas harus menghadapi situasi yang menuntut kewaspadaan tinggi.
Bagi kru Pertamina Pride, perjalanan melintasi selat itu berlangsung sekitar delapan jam, empat jam di antaranya merupakan fase paling kritis.
Delapan jam mungkin terdengar singkat dibandingkan perjalanan laut yang bisa berlangsung berminggu-minggu. Namun, dalam situasi penuh ketidakpastian, waktu terasa berjalan lebih lambat. Setiap keputusan harus dipikirkan matang-matang, sementara keselamatan seluruh kru menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Rizqi dan rekan-rekannya harus tetap berkonsentrasi di tengah gangguan navigasi dan situasi yang menegangkan. Mereka tidak memiliki kendali atas perkembangan konflik, tetapi harus memastikan kapal dapat melewati kawasan tersebut dengan selamat.
Di balik pekerjaan yang menuntut disiplin tinggi itu, para pelaut tetaplah manusia biasa. Mereka memiliki keluarga, orang-orang yang menunggu di rumah, serta harapan sederhana untuk kembali dengan selamat setelah menuntaskan tugas.
Berkat perjuangan dan doa para pelaut Pertamina, pada 8 Juli 2026, Pertamina Pride akhirnya berhasil melewati Selat Hormuz. Kapal tersebut kemudian tiba di perairan sekitar Cilacap pada 24 Juli 2026.
Kelegaan tergambar dari ungkapan Rizqi setelah kapal berhasil keluar dari kawasan tersebut.
“We are happy to be finally out of Hormuz,” ujarnya, yang disambut ucapan syukur dari seluruh kru kapal.
Kalimat singkat itu menyimpan rasa syukur setelah melewati perjalanan yang tidak mudah. Ada ketegangan yang harus dihadapi, rasa was was yang mesti dikendalikan, serta tanggung jawab yang terus melekat hingga kapal benar-benar meninggalkan kawasan berisiko.
Keberhasilan itu bukan hanya tentang kapal yang berhasil mencapai tujuan. Ada kelegaan karena seluruh kru dapat melewati situasi tersebut dengan selamat.

Pengalaman serupa juga dialami kru kapal Gamsunoro. Kapal milik Pertamina International Shipping (PIS) itu melintasi Selat Hormuz pada 25 Juni 2026 melalui rute selatan dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Setelah berhasil melewati kawasan tersebut, Gamsunoro melanjutkan tugas melayani pelanggan pihak ketiga di perairan Singapura. Namun, ingatan tentang situasi menegangkan selama pelayaran tentu tidak mudah hilang begitu saja.
Daryl Josua Makaminang, perwira tiga atau third officer di kapal Gamsunoro, mengakui, situasi perang saat itu menimbulkan kekhawatiran bagi para kru.
“Kami tentu cukup khawatir dengan situasi perang saat itu. Syukur kami dapat melewati Selat Hormuz dengan selamat,” tambah Daryl dengan wajah penuh senyum karena berhasil kembali dengan selamat.
Senyum itu menjadi gambaran kelegaan setelah menghadapi situasi yang tidak menentu. Di baliknya, ada kesadaran bahwa perjalanan yang mereka jalani bukan sekadar rutinitas pelayaran, melainkan pengalaman yang menguji kesiapan, kewaspadaan, dan keteguhan seluruh kru.
Sehari setelah Gamsunoro melintasi Selat Hormuz, terjadi serangan terhadap kapal lain di kawasan tersebut. Peristiwa itu memperlihatkan betapa dinamisnya situasi keamanan yang harus dihadapi kapal-kapal yang melintas.
Dua kapal, dua perjalanan, tetapi menghadapi tantangan yang serupa: menuntaskan tugas di tengah konflik yang tidak mereka kendalikan.
Para kru tidak dapat menghentikan perang atau menentukan perkembangan situasi geopolitik. Yang bisa mereka lakukan adalah tetap waspada, menjalankan prosedur keselamatan, saling menguatkan, dan berharap dapat melewati perjalanan dengan selamat.

Keselamatan Kru di Atas Segalanya
Bagi perusahaan, keberhasilan kedua kapal melewati Selat Hormuz bukan semata-mata kabar baik tentang kelancaran operasional. Di baliknya, ada keselamatan manusia yang menjadi perhatian utama.
Direktur Utama PIS, Surya Tri Harto, menegaskan keselamatan kru merupakan prioritas perusahaan.
“Keselamatan kru adalah prioritas kami, bahkan sebelum kargo dan aktivitas operasional,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan, di balik operasional kapal yang menopang rantai pasok energi, terdapat tanggung jawab besar untuk melindungi orang-orang yang bekerja di laut.
Komisaris Utama PIS, Anwar Saadi, juga menyampaikan kelegaan karena seluruh kru yang terlibat dalam pelayaran tersebut berada dalam keadaan sehat dan tetap tersenyum setelah melewati situasi sulit.
Senyum itu mungkin terlihat sederhana. Namun, setelah menghadapi ketidakpastian, senyum menjadi gambaran kelegaan yang sulit diterjemahkan dengan angka operasional.
Sebab, keberhasilan pelayaran tidak hanya diukur dari sampainya kapal di tujuan. Ada ukuran lain yang jauh lebih mendasar: seluruh kru kembali dalam keadaan selamat.
Setelah melewati fase berisiko, Gamsunoro menjalani pembersihan lambung kapal. Sementara itu, Pertamina Pride menjalani pembersihan bagian bawah kapal di dalam air sebagai persiapan untuk pelayaran berikutnya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rutinitas pemeliharaan kapal. Bagi para kru, pengalaman melintasi Selat Hormuz akan menjadi bagian dari perjalanan profesional yang tak mudah dilupakan.
“Di laut, seorang pelaut terbiasa berhadapan dengan cuaca, gelombang, dan perjalanan panjang. Namun, ketika konflik membayangi jalur pelayaran, tantangannya menjadi berbeda. Ancaman tidak selalu dapat diperkirakan, sementara keputusan harus tetap dibuat dengan kepala dingin,” katanya. (tya)
Comments are closed.