IPNU–IPPNU Windusari Diminta Rawat Tradisi dan Jawab Tantangan Zaman
METROJATENG.COM, MAGELANG – Kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dituntut mampu menjaga tradisi keilmuan dan akhlak warisan ulama sekaligus menjawab tantangan perkembangan teknologi. Penguatan literasi digital, kepemimpinan, dan kepedulian sosial dinilai penting agar generasi muda NU mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, H. Wibowo Prasetyo, saat menghadiri pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU–IPPNU Kecamatan Windusari masa khidmah 2026–2028 yang dirangkai dengan Haul Massal MWC NU Windusari, Kabupaten Magelang, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026.
Menurut Wibowo, pelantikan pengurus dan penyelenggaraan haul memiliki keterkaitan erat dalam menjaga kesinambungan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU). Haul menjadi momentum mengenang jasa para pendahulu, sedangkan pelantikan kader muda menandai keberlanjutan perjuangan melalui generasi penerus.
“Para kiai telah mewariskan ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian. Tetapi warisan itu tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Harus ada generasi yang mampu menerjemahkannya menjadi tindakan nyata sesuai kebutuhan zamannya. Di sinilah tanggung jawab IPNU dan IPPNU,” ujar Wibowo.
Ia menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah cara generasi muda belajar, bekerja, dan berinteraksi. Di balik peluang yang terbuka, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi palsu, perundungan digital, hingga melemahnya interaksi sosial.
Karena itu, kader IPNU–IPPNU tidak cukup hanya memahami tradisi keagamaan, tetapi juga perlu menguasai literasi digital, berpikir kritis, serta berani mengembangkan gagasan dan inovasi. Kemampuan tersebut harus berjalan beriringan dengan kekuatan akhlak dan kecerdasan sosial.
“Anak-anak muda NU jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya untuk menciptakan kemajuan. Kecerdasan intelektual harus berjalan bersama kecerdasan sosial dan kekuatan akhlak. Itulah yang membedakan kader NU dengan generasi yang sekadar mengikuti arus zaman,” katanya.
Wibowo juga mendorong agar organisasi pelajar tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Menurutnya, IPNU–IPPNU harus menjadi ruang pembentukan kepemimpinan, penguatan solidaritas, dan pengembangan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Ia mengusulkan sejumlah program konkret, mulai dari pendampingan pelajar yang mengalami kesulitan belajar, gerakan literasi, pelatihan keterampilan digital, hingga kepedulian terhadap anak-anak yang berisiko putus sekolah. Program tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi lingkungan sekitar.
“Keberhasilan organisasi jangan hanya diukur dari banyaknya kegiatan atau ramainya acara pelantikan. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak persoalan masyarakat yang mampu dibantu penyelesaiannya. Kalau ada anak yang terancam putus sekolah, kader IPNU–IPPNU semestinya menjadi bagian dari ikhtiar mencari jalan keluarnya,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi sejumlah urusan, termasuk sosial, keagamaan, dan perlindungan anak, Wibowo turut mendorong keterlibatan kader muda dalam pencegahan perundungan, perlindungan anak dari kekerasan, penguatan keluarga, serta pendampingan kelompok masyarakat rentan.
Menurutnya, nilai keagamaan harus diwujudkan melalui kepedulian dan keberpihakan kepada masyarakat yang membutuhkan. Nilai-nilai Islam yang diwariskan para ulama perlu menjadi landasan bagi generasi muda untuk membangun solidaritas dan tanggung jawab sosial.
Sementara itu, Wakil Rais Syuriyah MWC NU Kecamatan Windusari, KH Mardjono, S.Pd., menekankan pentingnya menjaga hubungan generasi muda dengan para kiai dan ulama. Kedekatan tersebut menjadi bagian penting dalam melanjutkan tradisi keilmuan dan menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Menurutnya, kekuatan NU bertumpu pada keterpaduan ilmu, akhlak, dan pengabdian. Ketiga nilai tersebut perlu terus ditanamkan agar generasi muda mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
“Berorganisasi di NU bukan sekadar belajar memimpin, tetapi juga belajar menghormati guru, menjaga adab, memperkuat persaudaraan, dan mengabdi kepada masyarakat. Ilmu yang tinggi harus disertai akhlak yang baik. Inilah bekal utama generasi penerus NU,” ujar KH Mardjono.
Ia menjelaskan, tradisi haul bukan sekadar kegiatan mendoakan para pendahulu, melainkan juga sarana mengenang keteladanan dan perjuangan ulama dalam membangun kehidupan keagamaan serta kebangsaan. Melalui tradisi tersebut, generasi muda diharapkan memahami bahwa keberadaan NU saat ini merupakan hasil pengabdian panjang para ulama dan masyarakat.
Karena itu, KH Mardjono berharap kader IPNU–IPPNU mampu memadukan penghormatan terhadap tradisi dengan semangat belajar dan berkarya. Ia juga mengajak badan otonom serta pengurus NU di tingkat ranting memberikan ruang pembinaan yang lebih luas melalui pendampingan dan keteladanan berkelanjutan.
“Tradisi yang diwariskan para ulama harus menjadi sumber kekuatan untuk melangkah ke depan. Kita tidak boleh kehilangan jati diri, tetapi juga tidak boleh berhenti belajar. Anak-anak muda NU harus mampu menjaga warisan para kiai sekaligus membawa manfaat bagi kehidupan masyarakat,” pesannya.
Pelantikan PAC IPNU–IPPNU Windusari dan haul massal tersebut dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah MWC NU Windusari, para kiai dan alim ulama, pengurus ranting NU, serta sejumlah pimpinan badan otonom NU, di antaranya Muslimat, Fatayat, GP Ansor, Banser, JQH, dan Pagar Nusa.
Dalam kesempatan itu, Wibowo juga mengingatkan pentingnya Hari Santri dalam perjalanan sejarah bangsa. Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak kontribusi ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Jika dahulu perjuangan santri diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajahan, kini semangat tersebut perlu diteruskan melalui upaya mengatasi kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, serta berbagai persoalan yang mengancam masa depan generasi muda.
Wibowo berharap kepengurusan IPNU–IPPNU Windusari masa khidmah 2026–2028 mampu melahirkan kader yang aktif berorganisasi, memiliki kemampuan intelektual, peduli terhadap persoalan sosial, serta berkomitmen terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
“IPNU–IPPNU Windusari harus menjadi organisasi yang bukan hanya besar dalam jumlah anggota, tetapi juga besar dalam gagasan, kuat dalam akhlak, dan nyata dalam pengabdian. Dari Windusari, kita rawat tradisi, siapkan generasi, dan lanjutkan perjuangan untuk umat, bangsa, dan negara,” pungkas Wibowo.(ris)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.