Di Balik Perjuangan Azalea Melawan Leukimia, JKN Jadi Penyelamat Keluarga Eva
METROJATENG.COM, SENARANG – Wajah mungil Azalea Malika Khairuniswa kini kembali dihiasi senyum. Bocah enam tahun asal Gunungpati, Kota Semarang itu perlahan bangkit setelah hampir dua tahun berjuang melawan leukimia yang sempat membuat keluarganya berada di titik terberat kehidupan.
Bagi Eva Setiawati (35), ibunda Azalea, penyakit yang diderita putri semata wayangnya datang begitu tiba-tiba. Tidak ada yang menyangka anak yang selama ini aktif dan jarang sakit harus menjalani kemoterapi rutin di usia yang masih sangat belia.
“Azalea itu anaknya ceria, tidak pernah rewel dan jarang sakit. Tapi akhir September 2023 dia demam tinggi terus dan tidak sembuh-sembuh,” kata Eva.
Awalnya Eva hanya mengira sang anak mengalami demam biasa. Namun hari demi hari kondisi Azalea justru semakin menurun. Tubuhnya tampak pucat dan lemas hingga akhirnya dibawa ke puskesmas untuk diperiksa.
Hasil pemeriksaan membuat Eva syok. Kadar hemoglobin Azalea sangat rendah dan ia harus segera dirujuk ke RSUP Dr Kariadi Semarang untuk menjalani transfusi darah.
“Setelah transfusi sempat membaik, tapi beberapa minggu kemudian sakitnya muncul lagi,” ujarnya.
Pemeriksaan lanjutan akhirnya mengungkap fakta yang paling ditakutkan seorang ibu. Azalea didiagnosis menderita leukimia dan harus menjalani pengobatan intensif melalui kemoterapi.
Eva mengaku sempat merasa dunia runtuh. Di tengah kesedihan menghadapi penyakit anaknya, persoalan biaya pengobatan juga menjadi beban pikiran tersendiri.
Sebagai keluarga dengan penghasilan suami yang tidak menentu, Eva tak bisa membayangkan besarnya biaya pengobatan leukimia tanpa bantuan jaminan kesehatan.
Beruntung, keluarganya telah terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) melalui skema Universal Health Coverage (UHC) yang dibiayai Pemerintah Kota Semarang.
Program tersebut menjadi penyelamat bagi keluarga Eva dalam menjalani pengobatan Azalea hingga sekarang.
“Kalau tidak ada JKN mungkin kami bingung harus mencari biaya dari mana. Karena pengobatan leukimia itu pasti mahal,” ungkapnya.
Selama menjalani pengobatan, Eva mengaku tidak pernah mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan. Seluruh proses mulai dari pemeriksaan, administrasi, tindakan medis hingga obat-obatan berjalan lancar dan ditanggung Program JKN.
Ia pun merasa lega karena dapat fokus mendampingi putrinya tanpa harus dihantui persoalan biaya rumah sakit.
“Alhamdulillah semuanya sangat terbantu. Saya benar-benar bersyukur ada BPJS Kesehatan dan UHC dari Pemkot Semarang,” katanya.
Kini kondisi Azalea perlahan membaik. Bocah kecil itu sudah kembali bermain dan beraktivitas seperti anak-anak seusianya. Meski demikian, perjuangan belum sepenuhnya selesai karena Azalea masih harus menjalani kemoterapi rutin setiap enam minggu sekali.
Di balik perjuangan panjang itu, Eva menyimpan rasa syukur yang besar. Baginya, Program JKN bukan sekadar jaminan kesehatan, melainkan harapan yang membuat keluarganya tetap kuat menghadapi cobaan.
“Terima kasih untuk BPJS Kesehatan, Pemerintah Kota Semarang, dokter, perawat, dan semua pihak yang sudah membantu pengobatan anak saya,” tutup Eva.Di Balik Perjuangan Azalea Melawan Leukimia, JKN Jadi Penyelamat Keluarga Eva
Wajah mungil Azalea Malika Khairuniswa kini kembali dihiasi senyum. Bocah enam tahun asal Gunungpati, Kota Semarang itu perlahan bangkit setelah hampir dua tahun berjuang melawan leukimia yang sempat membuat keluarganya berada di titik terberat kehidupan.
Bagi Eva Setiawati (35), ibunda Azalea, penyakit yang diderita putri semata wayangnya datang begitu tiba-tiba. Tidak ada yang menyangka anak yang selama ini aktif dan jarang sakit harus menjalani kemoterapi rutin di usia yang masih sangat belia.
“Azalea itu anaknya ceria, tidak pernah rewel dan jarang sakit. Tapi akhir September 2023 dia demam tinggi terus dan tidak sembuh-sembuh,” kata Eva.
Awalnya Eva hanya mengira sang anak mengalami demam biasa. Namun hari demi hari kondisi Azalea justru semakin menurun. Tubuhnya tampak pucat dan lemas hingga akhirnya dibawa ke puskesmas untuk diperiksa.
Hasil pemeriksaan membuat Eva syok. Kadar hemoglobin Azalea sangat rendah dan ia harus segera dirujuk ke RSUP Dr Kariadi Semarang untuk menjalani transfusi darah.
“Setelah transfusi sempat membaik, tapi beberapa minggu kemudian sakitnya muncul lagi,” ujarnya.
Pemeriksaan lanjutan akhirnya mengungkap fakta yang paling ditakutkan seorang ibu. Azalea didiagnosis menderita leukimia dan harus menjalani pengobatan intensif melalui kemoterapi.
Eva mengaku sempat merasa dunia runtuh. Di tengah kesedihan menghadapi penyakit anaknya, persoalan biaya pengobatan juga menjadi beban pikiran tersendiri.
Sebagai keluarga dengan penghasilan suami yang tidak menentu, Eva tak bisa membayangkan besarnya biaya pengobatan leukimia tanpa bantuan jaminan kesehatan.
Beruntung, keluarganya telah terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) melalui skema Universal Health Coverage (UHC) yang dibiayai Pemerintah Kota Semarang.
Program tersebut menjadi penyelamat bagi keluarga Eva dalam menjalani pengobatan Azalea hingga sekarang.
“Kalau tidak ada JKN mungkin kami bingung harus mencari biaya dari mana. Karena pengobatan leukimia itu pasti mahal,” ungkapnya.
Selama menjalani pengobatan, Eva mengaku tidak pernah mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan. Seluruh proses mulai dari pemeriksaan, administrasi, tindakan medis hingga obat-obatan berjalan lancar dan ditanggung Program JKN.
Ia pun merasa lega karena dapat fokus mendampingi putrinya tanpa harus dihantui persoalan biaya rumah sakit.
“Alhamdulillah semuanya sangat terbantu. Saya benar-benar bersyukur ada BPJS Kesehatan dan UHC dari Pemkot Semarang,” katanya.
Kini kondisi Azalea perlahan membaik. Bocah kecil itu sudah kembali bermain dan beraktivitas seperti anak-anak seusianya. Meski demikian, perjuangan belum sepenuhnya selesai karena Azalea masih harus menjalani kemoterapi rutin setiap enam minggu sekali.
Di balik perjuangan panjang itu, Eva menyimpan rasa syukur yang besar. Baginya, Program JKN bukan sekadar jaminan kesehatan, melainkan harapan yang membuat keluarganya tetap kuat menghadapi cobaan.
“Terima kasih untuk BPJS Kesehatan, Pemerintah Kota Semarang, dokter, perawat, dan semua pihak yang sudah membantu pengobatan anak saya,” tutup Eva.. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.