Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Setya Arinugroho Soroti Ancaman Hidrometeorologi, Dorong Jateng Perkuat Mitigasi Dini

METROJATENG.COM, SEMARANG — Ancaman bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah diperkirakan meningkat pada awal tahun ini seiring munculnya fenomena La Nina lemah. Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Setya Arinugroho menekankan pentingnya penguatan sinergi lintas sektor agar upaya mitigasi tidak lagi bersifat reaktif.

Menurutnya, tingginya curah hujan bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi daerah. Daya dukung lingkungan, tata kelola wilayah, serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem menjadi faktor krusial yang harus dibenahi secara bersamaan.

“Kita tidak bisa lagi memandang bencana hanya sebagai fenomena alam semata. Ini soal tata kelola, kesiapan sosial, serta kemampuan kita beradaptasi dan berkolaborasi,” tegasnya.

Ia menilai pendekatan penanggulangan bencana di daerah perlu bergeser ke arah pencegahan berbasis risiko. Investasi pada mitigasi dini, kata dia, jauh lebih efisien dibandingkan pembiayaan pemulihan pascabencana yang kerap membengkak.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks Nino 3,4 berada pada angka –0,77 yang mengindikasikan La Nina lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Tengah, khususnya daerah pegunungan tengah dan kawasan aliran sungai besar seperti Banyumas, Grobogan, dan Demak.

BMKG juga mengingatkan pola hujan ekstrem saat ini cenderung berdurasi singkat tetapi berintensitas tinggi, sehingga berisiko memicu banjir bandang maupun longsor secara tiba-tiba.

Sejumlah kejadian banjir sejak Februari lalu menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah. Di Kabupaten Grobogan, lebih dari 9.000 keluarga sempat mengungsi akibat genangan yang merendam sekitar 1.842 hektare lahan pertanian. Jalur utama Semarang–Grobogan pun sempat lumpuh. Sementara di Demak, banjir dilaporkan berdampak pada 23.214 jiwa.

Caption Foto : Wakil Ketua DPRD Jateng, Setya Arinugroho. (Foto ; Dok. Tim Setya Ari).

 

Dampak Bencana

Setya Ari menegaskan bahwa dampak bencana tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memukul kondisi sosial ekonomi warga.

“Petani gagal panen, pedagang kehilangan stok, dan anak-anak kesulitan bersekolah. Kerugiannya berlapis dan efeknya panjang,” jelasnya.

Sebagai langkah penguatan mitigasi, Pemprov Jateng memperluas program pengendalian banjir dan rob di wilayah pantai utara melalui pembangunan tanggul laut terpadu, normalisasi sungai, serta perbaikan jaringan drainase perkotaan. Penanaman mangrove di pesisir Demak dan Pekalongan juga terus digencarkan untuk menahan abrasi dan penurunan muka tanah.

Di wilayah rawan longsor, pemantauan lereng kini memanfaatkan sensor real time yang terintegrasi dengan sistem Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah. Pemerintah juga memperketat penataan jalur evakuasi serta pembatasan pembukaan lahan di zona kritis.

Penguatan kapasitas masyarakat menjadi fokus lain yang didorong DPRD. Hingga kini, program Desa Tangguh Bencana (Destana) telah dikembangkan di lebih dari 140 titik rawan, dilengkapi pelatihan evakuasi, manajemen logistik darurat, dan sistem komunikasi warga.

“Kesiapsiagaan bukan hanya soal alat canggih, tetapi soal budaya waspada. Jika masyarakat siap, dampak bencana bisa ditekan jauh lebih efektif,” kata Setya.

Selain itu, pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana), penguatan siskamling berbasis mitigasi, serta pembentukan kader siaga di sekolah turut digulirkan. Pemerintah daerah juga menggandeng perguruan tinggi, relawan, dan lembaga swadaya masyarakat untuk menyusun peta risiko berbasis data geospasial hingga tingkat desa.

Upaya mitigasi kini juga mulai memanfaatkan teknologi, mulai dari pemetaan debit sungai otomatis, pemantauan satelit curah hujan, hingga penggunaan drone untuk mendeteksi titik genangan.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai, keberhasilan penanggulangan bencana sangat bergantung pada kolaborasi multipihak, termasuk keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Penanggulangan bencana tidak bisa berdiri di atas satu lembaga. Semua pihak harus duduk bersama dan bergerak konsisten,” tuturnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk aktif memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan mengikuti arahan BPBD setempat, serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi di media sosial.

“Kesiapsiagaan dimulai dari informasi yang benar. Langkah sederhana seperti membersihkan saluran air bisa menyelamatkan banyak jiwa,” pungkasnya.

Setya Ari berharap semangat gotong royong masyarakat Jawa Tengah tetap menjadi kekuatan utama dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi ke depan.

Comments are closed.