Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kajian Kemenpar Ungkap Libur Nasional Dongkrak Hotel, UMKM, hingga Wisata Keluarga

METROJATENG.COM, JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memaparkan bahwa libur nasional bukan sekadar jeda kerja, melainkan “mesin penggerak” yang bisa mendongkrak ekonomi dari sektor wisata.

Dalam kajian terbarunya berjudul Dampak Libur Nasional terhadap Sektor Pariwisata, Kemenparekraf memetakan peluang sekaligus tantangan dari euforia libur panjang. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Martini Mohamad Paham, menyebutkan bahwa libur seperti Tahun Baru, Lebaran, Natal, hingga libur sekolah kerap jadi momentum paling ramai untuk pergerakan wisatawan.

“Sayangnya, lonjakan kunjungan wisata belum selalu bisa dikelola dengan baik. Ada destinasi yang kewalahan dengan jumlah pengunjung, ada juga yang masih sepi karena promosi tidak terintegrasi dengan kalender libur nasional,” ujar Martini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menegaskan tren ini. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara menembus 1,02 miliar, naik jauh dari 839,7 juta perjalanan tahun sebelumnya. Lonjakan itu paling terlihat saat libur sekolah dan cuti bersama, yang ikut mengerek tingkat hunian hotel, pendapatan restoran, hingga penjualan tiket atraksi wisata. UMKM lokal pun kecipratan rezeki lewat meningkatnya permintaan kuliner, oleh-oleh, hingga jasa transportasi wisata.

Namun, keberkahan ini datang bersama tantangan klasik: macet, sampah menumpuk, hingga keterbatasan fasilitas umum. Menurut Asisten Deputi Manajemen Strategis Kemenparekraf, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, problem ini tidak bisa diatasi sendiri. “Harus ada sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, sampai masyarakat sekitar destinasi,” ujarnya.

Hasil riset Kemenparekraf pada periode libur sekolah 2025 di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat menunjukkan angka yang cukup mencengangkan. Okupansi hotel naik hingga 60 persen, kunjungan destinasi melonjak 73 persen, sementara pendapatan destinasi bahkan melesat lebih dari 80 persen. Dari sisi sosial, liburan jadi sarana berkumpul bersama keluarga. Hampir 60 persen responden berwisata dengan keluarga, dan 99 persen di antaranya puas dengan pengalaman yang didapat.

Kemenparekraf kemudian merumuskan sejumlah rekomendasi, mulai dari promosi berbasis kalender libur, manajemen kapasitas destinasi, hingga peningkatan kualitas layanan di musim ramai wisata. “Kalau momentum libur bisa dikelola secara terarah, bukan tidak mungkin pariwisata menjadi salah satu motor utama pemulihan ekonomi nasional,” kata Dewi.

Dengan kata lain, libur nasional bukan sekadar waktu santai, tetapi potensi emas yang jika dikelola cerdas bisa menjadi “hari panen” bagi pariwisata Indonesia

Comments are closed.