Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Anggota MPR RI, H.Wastam, Tekankan Gotong Royong dalam Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Pandak

METROJATENG.COM, BANYUMAS – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII, H. Wastam SE, SH, MH, menegaskan pentingnya nilai gotong royong sebagai wujud nyata pengamalan Pancasila dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar MPR RI di Desa Pandak, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Selasa (9/12/2025). Kegiatan ini menjadi sarana edukasi kebangsaan bagi masyarakat desa dalam memperkuat kepedulian sosial dan solidaritas, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan kebencanaan.

Sejak awal kegiatan, antusiasme peserta tampak tinggi. Aula Balai Desa Pandak dipenuhi warga yang ingin memahami lebih dalam makna nilai-nilai kebangsaan, khususnya penerapan Pancasila dalam kehidupan nyata. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai simbol komitmen bersama untuk menjaga persatuan dan rasa cinta tanah air.

Tema “Gotong Royong dalam Penanggulangan Bencana” dipilih sebagai respons atas tingginya potensi bencana alam di berbagai wilayah Indonesia. Tema ini menekankan pentingnya pengamalan Pancasila Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sebagai landasan moral dalam membangun kepedulian sosial dan solidaritas antarsesama.

Pada acara tersebut Wastam menegaskan, bahwa gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan nilai dasar bangsa yang harus terus dihidupkan, terutama dalam situasi darurat seperti bencana alam.

“Ketika bencana terjadi, yang pertama kali bergerak biasanya adalah masyarakat sekitar. Di situlah nilai kemanusiaan dan gotong royong benar-benar diuji,” ujar Wastam di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penentu dalam mempercepat pemulihan dan meringankan beban para korban. Menurutnya, kepedulian, empati, dan solidaritas merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta, Abdul Karim, menyoroti pentingnya kepedulian sosial saat bencana tanah longsor melanda sejumlah daerah seperti Cilacap dan Banjarnegara. Ia menilai bahwa semangat gotong royong harus menjadi refleks bersama ketika ada saudara sebangsa yang tertimpa musibah.

“Bencana mengingatkan kita bahwa sebagai bangsa, kita harus saling menguatkan. Membantu sesama adalah bagian dari jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Wastam menekankan bahwa gotong royong harus dibangun sebagai budaya sehari-hari, bukan hanya muncul saat bencana. Dengan kesiapsiagaan sosial yang kuat, masyarakat dinilai akan lebih tangguh dalam menghadapi berbagai krisis.

Desa sebagai Pilar Kemanusiaan

Menutup kegiatan, Wastam berharap nilai-nilai kemanusiaan dan semangat kebersamaan yang disampaikan dalam sosialisasi ini dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat Desa Pandak. Ia menegaskan bahwa desa memiliki peran penting sebagai fondasi kekuatan bangsa.

“Dari desa, nilai gotong royong bisa tumbuh dan menguat. Jika solidaritas sosial terjaga, maka persatuan dan kemanusiaan bangsa Indonesia akan tetap kokoh,” katanya.

Dengan partisipasi aktif warga dan semangat kebersamaan yang tercermin sepanjang kegiatan, Desa Pandak diharapkan mampu menjadi contoh desa yang tangguh, peduli, dan siap menghadapi tantangan kebencanaan, sekaligus menjadi cerminan nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

Comments are closed.