Gejala ADHD pada Anak Sering Terlihat Sejak Usia Dini, Orang Tua Harus Lebih Peka
METROJATENG.COM, SEMARANG – Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) menjadi salah satu kondisi perkembangan yang paling sering dijumpai pada anak. Gejala awalnya biasanya mulai tampak sejak usia 3 tahun dan semakin terlihat ketika anak memasuki usia sekolah atau memasuki masa pubertas. Meski begitu, sejumlah kasus baru teridentifikasi ketika seseorang telah beranjak dewasa akibat gejalanya tidak dikenali sejak kecil.
Pakar kesehatan menyebut ADHD ditandai oleh tiga aspek utama, yaitu kesulitan memusatkan perhatian, perilaku hiperaktif, serta tindakan impulsif yang terjadi secara berulang dan konsisten dalam berbagai situasi.
Sebagian anak dengan ADHD mengalami hambatan dalam memproses instruksi dan mempertahankan perhatian, baik di sekolah maupun di rumah. Gejala tersebut antara lain:
-
Mudah terdistraksi saat mengerjakan tugas
-
Terlihat tidak mendengarkan meskipun diajak bicara langsung
-
Sering ceroboh dan kurang memperhatikan detail
-
Kesulitan mengatur kegiatan atau mengikuti arahan
-
Kerap kehilangan barang penting seperti buku pelajaran atau alat tulis
-
Enggan mengerjakan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, misalnya pekerjaan rumah
Jika anak hanya menunjukkan ciri-ciri tersebut tanpa hiperaktivitas, kondisi ini dapat mengarah pada ADHD tipe inatentif.
Perilaku Hiperaktif dan Impulsif
Selain ketidakmampuan mempertahankan fokus, sebagian anak menampilkan perilaku hiperaktif yang tampak jelas dalam kesehariannya. Beberapa contoh perilakunya meliputi:
-
Sulit duduk tenang saat belajar
-
Terus menggerakkan tangan atau kaki
-
Berbicara berlebihan dan sering memotong pembicaraan
-
Tidak bisa bermain dengan tenang
-
Sering mengganggu kegiatan orang lain
-
Tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak
Kondisi ini membuat anak tampak lebih agresif dan tidak sabaran dibanding teman seusianya, meski sering kali mereka tidak menyadari perbedaan perilaku tersebut. Karenanya, sangat penting untuk melakukan identifikasi dini agar anak dapat belajar beradaptasi baik secara akademik maupun sosial. Tanpa penanganan yang tepat, ADHD dapat memicu masalah jangka panjang, termasuk menurunnya prestasi belajar, kesulitan berinteraksi, dan gangguan emosional.
Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak jika perilaku yang muncul mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan masalah perilaku serius, atau memicu stres pada keluarga.
Proses diagnosis dilakukan melalui evaluasi menyeluruh, termasuk wawancara dengan orang tua dan guru, observasi perilaku, serta pemeriksaan berdasarkan pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Diagnosis hanya dapat ditegakkan oleh tenaga profesional, bukan berdasarkan pengamatan pribadi.
Comments are closed.