ADHD Masih Kerap Disalahpahami, Ahli Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini pada Anak
METROJATENG.COM, SEMARANG – Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) masih menjadi isu kesehatan yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Meski tergolong salah satu gangguan perkembangan saraf yang paling banyak ditemukan pada anak, gejalanya sering disamakan dengan perilaku aktif atau kenakalan biasa.
Pakar tumbuh kembang menjelaskan, ADHD terjadi ketika fungsi otak yang mengatur konsentrasi, kendali impuls, dan aktivitas motorik tidak bekerja dengan optimal. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar, berinteraksi dengan orang lain, hingga mengelola emosi. Menariknya, banyak kasus yang baru teridentifikasi saat anak memasuki usia sekolah, bahkan bisa berlanjut sampai dewasa jika tidak ditangani dengan tepat.
Kesalahpahaman ini membuat banyak anak dengan ADHD mendapat stigma negatif, padahal mereka membutuhkan dukungan dan penanganan medis.
Gejala ADHD biasanya berkembang sejak dini dan dapat dikenali melalui tiga kelompok utama, yakni kesulitan fokus, hiperaktivitas yang berlebihan, dan perilaku impulsif. Namun, setiap anak bisa menunjukkan gejala yang berbeda. Karena itu, pemeriksaan oleh profesional menjadi langkah penting sebelum menetapkan diagnosis.
Faktor Risiko Beragam
Meski penyebab pasti ADHD masih diteliti, sejumlah faktor dinilai memiliki kontribusi kuat, di antaranya:
-
Riwayat keluarga atau faktor genetik
-
Ketidakseimbangan zat kimia otak yang memengaruhi fungsi perhatian
-
Perbedaan struktur atau aktivitas tertentu pada bagian otak
Selain itu, kondisi berikut dapat meningkatkan risiko munculnya ADHD:
-
Komplikasi selama kehamilan, seperti stres berat dan kekurangan nutrisi
-
Paparan zat beracun, khususnya timbal, baik saat dalam kandungan maupun masa kanak-kanak
-
Kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol pada ibu hamil
-
Cedera kepala yang mengganggu perkembangan otak anak
-
Lingkungan keluarga yang penuh tekanan atau minim dukungan
Penanganan ADHD bukan hanya soal terapi obat, tetapi juga memerlukan kolaborasi keluarga, tenaga pendidik, dan ahli kesehatan jiwa. Pelatihan perilaku, pendampingan belajar, serta penyesuaian lingkungan sekolah dapat membantu anak meraih kemampuan terbaiknya.
Dengan deteksi dan pendampingan yang tepat, anak dengan ADHD dapat berkembang secara optimal dan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi.
Comments are closed.