Desa Banyuanyar Kian Bersinar: Dari Kampung Susu dan Kopi Menjadi Destinasi Eduwisata Unggulan Boyolali
METROJATENG.COM, BOYOLALI – Berbekal kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal, Desa Banyuanyar di Kecamatan Ampel terus menegaskan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata paling progresif di Boyolali. Terletak di ketinggian 700 meter dan hanya 13 kilometer dari pusat kota, desa ini berkembang pesat menjadi ruang belajar terbuka bagi wisatawan yang ingin mengenal kehidupan pedesaan yang autentik.
Penetapan Banyuanyar sebagai desa wisata pada 5 Februari 2018 menjadi titik awal perubahan besar. Komitmen itu diperkuat tiga tahun kemudian ketika Bupati Boyolali mengukuhkannya sebagai desa wisata rintisan. Sejak saat itu, geliat UMKM, kreativitas warga, hingga pengelolaan potensi alam dan budaya terus tumbuh menjadi kekuatan utama desa.
Mengusung brand “Kampus Kopi” atau “Kampung Susu dan Kopi,” Banyuanyar menawarkan konsep wisata edukatif yang mengajak pengunjung mengenal langsung jantung kehidupan masyarakat. Wisatawan tidak hanya melihat, tetapi juga ikut merasakan dan belajar tentang perkebunan kopi, peternakan sapi, hingga pengolahan biofarmaka—sesuatu yang jarang ditemui dalam paket wisata konvensional.
Pendaftaran dilakukan melalui IKM Kampus Kopi di sekretariat desa wisata, yang menyediakan berbagai paket sesuai minat pengunjung, mulai dari tur singkat hingga kegiatan belajar intensif di berbagai kampung tematik.
Empat Kampung Tematik Berbasis Potensi Lokal
Kedatangan pengunjung biasanya dibuka dengan sambutan Tari Bergodo Lembu Banyuanyar, sebuah pertunjukan energi yang menjadi identitas budaya desa. Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan transportasi wisata seperti jeep, pickup, atau ojek menuju beberapa spot utama:
-
Kampung Biofarmaka (Dukuh Banyumanyar)
Menyajikan pengalaman wellness tourism, wisatawan bisa mempelajari proses pengolahan tanaman herbal, mulai dari penanaman hingga produk siap konsumsi. -
Kampung Madu (Dukuh Brenjeng)
Menawarkan edukasi budidaya lebah madu. Pengunjung dapat melihat proses pembiakan hingga cara panen yang aman dan higienis. -
Kampung Susu Koboi (Dukuh Wangan)
Menampilkan aktivitas peternakan sapi perah dan pengolahan susu menjadi aneka produk seperti yoghurt, pie susu, hingga keju. -
Kampung Jahe “Oma Oveje” (Dukuh Jumbleng)
Wisatawan diajak memahami proses budidaya jahe dan pembuatannya menjadi produk unggulan seperti jahe bubuk dan dodol jahe.
Selain menawarkan pembelajaran, Banyuanyar juga kaya tradisi yang menjadi daya tarik tersendiri. Kenduri Udan Dawet digelar setiap Jumat Pon pada Mongso Papat sebagai doa memohon hujan. Sementara Tradisi Wiwit Kopi, yang berlangsung setiap Kamis Kliwon, menandai dimulainya musim panen kopi dan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.
Dengan kombinasi keindahan alam, kekayaan tradisi, serta konsep wisata edukatif yang kuat, Desa Banyuanyar kini bukan sekadar destinasi liburan, melainkan ruang pembelajaran yang menawarkan pengalaman mendalam tentang kehidupan pedesaan di kaki Gunung Merbabu. Desa ini pun digadang-gadang bakal menjadi model pengembangan desa wisata berbasis potensi lokal di Jawa Tengah.
Comments are closed.