Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Misteri Pohon Kembar Di Pemalang : Antara Kisah Cinta Dan Gerbang Dunia Gaib

METROJATENG.COM, PEMALANG — Di antara perbukitan dan jalan raya yang menghubungkan Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, berdiri sepasang pohon randu raksasa yang sudah berusia puluhan tahun. Masyarakat setempat menyebutnya “Pohon Kembar Sikasur” atau “Randu Jajar”, karena letaknya yang sejajar di tepi jalan Desa Sikasur, Kecamatan Belik.

Bagi pengendara yang melintas, pemandangan dua pohon besar ini tampak menakjubkan sekaligus misterius. Batangnya besar, tingginya mencapai lebih dari 40 meter, dan akarnya mencengkeram kuat tanah di sisi jalan. Namun, di balik keindahan alam itu, tersimpan kisah dan mitos yang diwariskan dari generasi ke generasi — kisah tentang cinta, kesetiaan, dan dunia tak kasat mata.

Legenda Sepasang Kekasih yang Menyatu dalam Pohon

Menurut cerita warga, dahulu kala di kawasan itu hidup sepasang kekasih muda dari dua keluarga berbeda. Cinta mereka tulus, namun ditentang karena perbedaan status sosial. Karena tak sanggup berpisah, keduanya memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara tragis di tempat yang kini berdiri pohon kembar itu.

Tak lama setelah kejadian itu, tumbuh dua pohon randu besar yang berdiri sejajar, seolah melambangkan pasangan yang tak pernah terpisahkan. Warga kemudian menyebut keduanya Randu Lanang” (pohon jantan) dan “Randu Wedok” (pohon betina).

“Mitosnya, kalau ada pasangan yang lewat di antara kedua pohon itu sambil berniat tulus, hubungan mereka akan langgeng,” ujar Mbah Karsiman (68), sesepuh Desa Sikasur yang juga penjaga situs tersebut. “Tapi kalau lewat sambil main-main atau bicara tidak sopan, bisa kena sial.”

Bagi masyarakat sekitar, kisah cinta tragis ini bukan hanya dongeng. Mereka percaya, roh pasangan itu masih menjaga tempat tersebut hingga kini. Karena itu, warga selalu menjaga sikap ketika melewati lokasi itu, terutama saat malam hari.

Gerbang Dunia Gaib dan Pantangan Tak Tertulis

Selain legenda cinta, Pohon Kembar Sikasur juga dipercaya sebagai pintu gerbang menuju dunia gaib. Banyak warga yang mengaku melihat penampakan atau mengalami kejadian aneh di sekitar lokasi.

Warga percaya, di antara dua pohon itu terdapat “lorong tak terlihat” yang menjadi tempat keluar masuk makhluk halus penjaga wilayah. Karena itu, masyarakat membuat pantangan tidak tertulis: siapa pun yang lewat tidak boleh membunyikan klakson keras, tidak boleh berbicara kasar, atau menebang ranting pohon tanpa izin sesepuh desa.

Bahkan sopir truk dan bus yang sering melintas di jalur Pemalang–Purbalingga mengaku selalu menurunkan kecepatan saat melewati titik tersebut. “Rasanya beda saja, seperti ada hawa dingin yang tiba-tiba datang,” kata Joko (42), sopir bus antarkota yang sering melintas di sana.

Setiap akhir pekan, sejumlah pengunjung dari luar daerah datang untuk melihat langsung keunikan pohon kembar ini. Ada yang datang sekadar berfoto, ada pula yang ingin “merasakan energi mistisnya”.

Beberapa pengunjung bahkan membawa bunga atau dupa kecil sebagai bentuk penghormatan. Meski demikian, warga setempat menegaskan bahwa tempat itu bukan lokasi ritual atau pesugihan. “Kami hanya menjaga dan menghormati peninggalan alam ini. Tidak ada unsur klenik,” tegas Kepala Desa Sikasur.

Bagi sebagian wisatawan, sensasi melintas di bawah dua pohon raksasa itu memang menimbulkan kesan tersendiri. Jalan yang sedikit menurun, pepohonan rindang, dan angin sejuk dari perbukitan membuat suasana terasa magis. Apalagi saat senja, ketika sinar matahari menembus sela-sela daun, menciptakan pemandangan indah namun misterius.

Comments are closed.