Di Tengah Ombak dan Harapan, Pelaut PIS Menjaga nyala Energi dan Merawat Laut Negeri
Mereka mungkin tak dikenal, tapi setiap tetes bahan bakar dan setiap nyala lampu di negeri ini lahir dari kerja keras para pelaut PIS, yang kini tak hanya menyalurkan energi, tapi juga merawat laut Indonesia.
METROJATENG.COM – Di hamparan laut biru yang tampak tenang dari kejauhan, dunia sebenarnya tak pernah benar-benar diam. Angin bisa berubah menjadi badai dalam hitungan menit, ombak bisa menjulang setinggi gedung, dan garis horizon yang terlihat damai bisa saja menyimpan bahaya yang tak terduga.
Di tengah kerasnya samudra itu, ribuan pelaut Indonesia bekerja dalam diam dan kesunyian. tanpa sorot kamera, menjaga energi negeri agar terus menyala.
Mereka adalah kru Pertamina International Shipping (PIS), anak perusahaan Pertamina yang mengemban tanggung jawab besar, memastikan pasokan minyak dan gas sampai ke setiap sudut Indonesia, bahkan ke luar negeri.
“Bayangkan kapal setinggi belasan meter diterpa ombak sembilan meter, satu gelombang saja bisa membuat semua peralatan berantakan,” tutur Captain Andhika Dwi Cahyo, mengenang pelayaran mautnya di perairan Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Kala itu, badai datang lebih cepat dari perkiraan. Langit menghitam, angin menjerit, dan kapal tanker yang ia pimpin berguncang hebat seperti mainan di tangan laut. Selama berjam-jam, ia dan krunya berjibaku memastikan kapal tidak kehilangan arah dan keseimbangan.
“Tak ada pilihan selain bertahan. Kami tahu, di balik setiap ombak, ada keluarga dan jutaan warga Indonesia yang menunggu di rumah.” katanya.
Andhika sudah puluhan tahun mengarungi laut. Ia tahu benar bahwa pekerjaan sebagai pelaut bukan hanya soal teknik navigasi, tapi juga soal keberanian dan keteguhan mental.
“Banyak orang melihat kapal besar, tapi tak pernah membayangkan betapa rapuhnya kita di tengah samudra, karena lengah sedikit bisa berakibat fatal” ujarnya.
Lain lagi dengan Captain Adi Nugroho, yang sudah lebih dari tiga dekade mengabdi di laut. Menurutnya ancaman terbesar bukan hanya badai, melainkan perompak bersenjata.
“Di sekitar Palawan, barat Filipina, sering ada kapal nelayan yang mendekat. Mereka pura-pura menawarkan ikan, tapi sebenarnya membawa senjata laras panjang. Kalau kita tidak waspada, bisa berakibat fatal,” ceritanya.
Setiap pelaut di PIS telah dilatih menghadapi skenario semacam itu. Dari siaga di dek dengan komunikasi radio aktif hingga mengaktifkan citadel, ruang aman untuk berlindung bila serangan benar-benar terjadi.
“Untungnya, kami belum pernah sampai diserang langsung,” katanya. “Tapi ancaman itu nyata.”
Di laut lepas, waktu seolah berjalan berbeda. Tidak ada batas antara siang dan malam, hanya ritme kerja, shift, dan suara ombak. Mereka bekerja dalam sistem yang presisi menjaga kapal tanker yang membawa bahan bakar jutaan liter tetap aman, stabil, dan tepat waktu.
“Kami tidak bisa salah. Kalau di laut kamu salah, risikonya nyawa. Bagi kami, tugas selesai kalau energi sampai ke tempat tujuan, Itu saja sudah cukup membanggakan.” katanya.
Pelaut Perempuan Tangguh PIS
Di laut tidak hanya laki- laki yang berjuang membawa energi untuk jutaan orang. Namun di tengah dominasi laki-laki, Eka Retno Ardianti, seorang 3rd Officer muda, menembus batas yang dulu dianggap tabu
“Saya suka traveling, suka laut, dan suka tantangan. Jadi waktu kecil, saya sudah bercuta-cita ingin jadi pelaut.” katanya tersenyum.
Namun jalan menuju laut tak semulus yang dibayangkan. Orang tuanya sempat menolak keras keputusan itu.
“Mereka takut. Katanya, pekerjaan ini keras, tidak cocok untuk perempuan,” katanya.
Tapi Eka berkeras menjadi pelaut. Belajar keras dan membuktikan diri pada orangtua, menjadi pelaut wanita bukan hal yang aneh. Kini ia menjadi bagian dari generasi baru pelaut perempuan yang perlahan mengubah wajah industri maritim Indonesia.
Di kapal, ia tak merasa dibedakan. “Yang dilihat itu kemampuan, bukan gender,” tegasnya.
Namun PIS, kata Eka, juga memastikan, lingkungan kerja tetap aman bagi kru perempuan. Dari fasilitas, waktu istirahat, hingga sistem pelaporan, semua diatur agar pelaut perempuan bisa bekerja dengan tenang.
“PIS itu fair. Saya bisa bekerja dengan nyaman, dan tetap punya ruang untuk berkembang.” katanya.

Pelaut Indonesia kini mulai dikenal di jalur pelayaran internasional. Keuletan, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi membuat mereka dihormati oleh rekan-rekan dari berbagai negara.
“Pelaut kita tidak kalah dari luar negeri,” ujar Captain Andhika, yang kini bertugas di kapal Pertamina Gas 1.
“Cuma memang, kita perlu terus update soal regulasi global dan kemampuan bahasa Inggris. Itu kuncinya.”
Senada dengan AndhikaCaptain Adi menambahkan, “Dunia pelayaran sekarang serba digital dan penuh istilah teknis dalam bahasa Inggris. Kalau tidak terus belajar, kita bisa tertinggal.”
Meski begitu, mereka sepakat bahwa pelaut Indonesia memiliki keunggulan, ketangguhan dan semangat gotong royong.
“Di laut, kita belajar arti kerja sama yang sesungguhnya,” tambah Andhika.
Menurut Muhammad Baron, Corporate Secretary PIS , PIS bukan hanya sekadar perusahaan pelayaran. Ia adalah urat nadi distribusi energi nasional, menghubungkan kilang-kilang minyak, terminal LPG, hingga pelabuhan-pelabuhan kecil di pulau terluar.
“Bayangkan dari Sabang hingga Merauke, dari Natuna hingga Nusa Tenggara, kapal-kapal PIS berlayar tanpa henti memastikan bahan bakar sampai ke tangan rakyat,” katanya.
Perusahaan ini kini mengelola lebih dari 5.300 pelaut, baik yang bekerja langsung maupun tidak langsung.
Dalam catatan terbaru, PIS mencatat 40,5 juta jam kerja aman tanpa fatalitas (zero fatality)..Capaian ini menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam menjamin keselamatan kerja di laut.
“Keselamatan itu harga mati. Bagi kami, pelaut bukan hanya tenaga kerja, tapi aset bangsa. Mereka lah yang memastikan energi sampai ke seluruh penjuru negeri.” tambahnya.

Ekspansi Tanpa Henti
Dalam lima tahun terakhir, PIS melakukan transformasi besar-besaran. Tak hanya memperkuat armada, tapi juga memperluas jaringan bisnis ke luar negeri.
Dari 106 kapal yang dimiliki, 58 kapal mendapat skor “sangat baik” dalam Ship Inspection Report (SIRE) standar internasional yang menilai keamanan dan kelayakan kapal. Hasilnya 161 miliar liter minyak, produk BBM, dan LPG berhasil didistribusikan oleh armada PIS ke seluruh penjuru negeri maupun mancanegara.
“Semua itu berkat kerja keras para pelaut kita. Mereka adalah garda depan energi Indonesia.” kata Baron.
Menyinggung kemampuan dalam bahasa Inggris dalam berkomunikasi yang sering menjadi kendala, Baron menyampaikan sebenarnya bukan kendala, melainkan tantangan. Saat ini PIS telah memiliki 65 rute pelayaran internasional, sehingga kemampuan berbahasa Inggris menjadi keharusan bagi awak kapal.
Untuk itu, perusahaan telah menetapkan standar minimum kemampuan bahasa Inggris melalui Marlin Test sebagai bagian dari proses rekrutmen. Selain itu, PIS juga menyediakan pelatihan tambahan, baik secara offline maupun online, untuk meningkatkan kompetensi bahasa Inggris para awak kapal. Bahkan PIS berkolaborasi dengan Manning Agent dalam melakukan rekrutmen untuk memenuhi kebutuhan crew di seluruh kapal milik.
Sumber rekrutmen berasal dari pelaut lulusan sekolah pelayaran maupun pelaut berpengalaman, dengan kriteria yang ditetapkan perusahaan berdasarkan STCW dan Company Requirement sesuai jabatan masing-masing. Dengan standar tersebut, awak kapal PIS diharapkan siap untuk berlayar di berbagai perairan dunia, tentunya dengan dukungan personel shorebase yang solid.
“Selain tantangan Bahasa inggris, pelaut kami juga perlu menghadapi tantangan seperti menjaga kepatuhan terhadap regulasi secara internasional maupun nasional yang terus diperbaharui, perkembangan teknologi kapal yang terus berkembang termasuk teknologi ramah lingkungan, sistem digitalisasi baik sistem permesinan di kapal maupun digitalisasi data yang dapat disampaikan ke shorebased,” tambahnya.
Era digitalisasi di atas kapal bukan lagi masa depan, melainkan kenyataan yang sudah berlangsung saat ini. Tantangan lain yang tentunya dihadapi yaitu kondisi perairan dimana kapal kami yang berlayar tidak hanya di Indonesian water tetapi world wide serta kondisi geopolitik yang dampak berdampak pada rute kapal.
Sesuai prosedur perusahaan, pelaut PIS memiliki Perjanjian Kontrak Laut dengan durasi bekerja diatas kapal selama 5–9 bulan, 5 bulan untuk Senior Officer, 7 bulan untuk Junior Officer, dan 9 bulan untuk Rating.
Sesuai ketentuan yang ada, telah dipersyaratkan durasi jam kerja dan jam istirahat crew yang mengacu pada ketentuan Maritime Labour Convention. Setelah memenuhi minimum jam istirahat, pelaut biasanya dapat memanfaatkan waktu luang untuk berkumpul di mess room atau recreation room. Sebagian juga berolahraga atau melakukan video call dengan keluarga, karena kapal telah dilengkapi dengan akses internet yang memadai.
Pelaut PIS Tangguh Hadapi Bahaya
“Apabila crew telah selesai menjalani masa perjanjian kerja laut atau masa tugas di atas kapal, crew dapat turun ke darat dan melaksanakan masa istirahat yang berdurasi sekitar 1-2 bulan untuk selanjutnya dapat dibertugas kembali ke kapal,” katanya.
Ditambahkan jumlah awak kapal, termasuk Nakhoda, bervariasi tergantung pada ukuran dan jenis kapal. Namun, secara gambaran umum, jumlah crew di atas kapal berkisar sekitar 19-25 orang.
Pelaut PIS dikenal tangguh oleh pelaut asing , tak heran lebih 90 rute domestik dan 65 rute internasional pelayaran sudah dilalui. Bahkan wilayah berbahaya yang dilalui kapal PIS sudah tak terhitung jumlahnya, antara lain wilayah dengan high risk disekitar somalia ataupun wilayah terjadinya perang/konflik,” ungkapnya.
Untuk seluruh rute pelayaran tersebut, perusahaan telah melakukan mitigasi risiko dan menerapkan langkah-langkah preventif demi memastikan keamanan kapal. Dengan sistem pengamanan yang komprehensif, kapal-kapal PIS tetap beroperasi dengan aman di berbagai wilayah, untuk membawa energi, seperti LPG, BBM atau barang lainnya.
Kapal-kapal PIS saat ini mengangkut berbagai jenis muatan, seperti minyak produk, minyak mentah, LPG, dan bahan kimia (chemical).
Adapun Durasi pelayaran dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya menyrut Baron sangat bervariasi, mulai dari hitungan hari hingga bulan, tergantung rute dan jenis muatan.
Sementara durasi crew bertugas di atas kapal membawa energi berkisar 5-9 bulan atau menyesuaikan masa berlaku Perjanjian Kerja Laut yang telah ditandatangani.
Ketika masa berlaku Perjanjian Kerja Laut tersebut berakhir, crew akan digantikan oleh awak kapal lainnya yang telah disiapkan melalui sistem rotasi yang terencana dan termonitor sesuai prosedur Perusahaan.

Di balik kisah heroik para pelautnya, PIS juga menaruh perhatian besar pada laut sebagai sumber kehidupan. Melalui inisiatif BerSEAnergi untuk Laut, perusahaan ini aktif menjaga ekosistem biru Indonesia, PIS menanam 525 fragmen terumbu karang di Pantai Letan, Desa Morella, Maluku Tengah, bekerja sama dengan komunitas lingkungan Seasoldier.
Kawasan ini dikenal kaya akan keanekaragaman hayati laut dan menjadi jalur penting distribusi energi nasional.
Direktur Manajemen Risiko PIS, Eka Suhendra, menegaskan, tanggung jawab perusahaan bukan hanya menyalurkan energi, tetapi juga menjaga kelestarian alam.
“PIS bertekad melayani bangsa sekaligus melestarikan lingkungan yang menjadi tulang punggung kehidupan anak cucu kita. Dengan menanam karang, kami bukan hanya membangun rumah bagi biota laut, tapi juga memastikan masa depan laut tetap lestari,” ujarnya.
Sejak 2024, PIS telah menanam 35.000 mangrove, 3.200 lamun, dan 3.100 fragmen terumbu karang di berbagai wilayah Indonesia. Ini bukti konsistensi perusahaan dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Langkah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 13 (penanganan perubahan iklim), 14 (konservasi ekosistem laut), dan 17 (kemitraan global).
Hidup di laut berarti hidup dalam keterbatasan. Tak ada sinyal kuat, tak ada pusat perbelanjaan, bahkan waktu pun kadang kehilangan maknanya. Namun bagi para pelaut, laut justru mengajarkan banyak hal, kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur.
“Kalau kamu bisa bertahan di laut, kamu bisa bertahan di mana pun,” kata Andhika.
Bagi Eka, laut memberinya kebebasan dan makna. “Di laut, saya merasa hidup. Saya bisa melihat matahari terbit dan tenggelam di tempat yang berbeda setiap hari. Rasanya luar biasa.”
Meski begitu, di balik keindahan itu selalu ada rasa rindu. Rindu pada daratan, pada keluarga, pada suara anak-anak di rumah. Tapi semua itu menjadi bahan bakar semangat bagi mereka untuk terus berlayar.
Mereka tak selalu mendapat sorotan. Tak ada tepuk tangan atau sambutan megah setiap kali kapal mereka bersandar. Namun berkat tangan-tangan mereka yang tak kenal lelah, api di kompor rumah tetap menyala, lampu jalan tetap terang, dan pesawat di langit tetap bisa terbang.
Di tengah gelombang, mereka adalah penjaga yang tak terlihat simbol dedikasi, disiplin, dan ketahanan. Setiap ombak yang mereka hadapi adalah pengingat bahwa energi bukan sekadar soal bahan bakar, tapi soal pengorbanan manusia di baliknya.
“Laut itu keras, tapi dari laut, saya belajar tentang arti keteguhan dan tentang bagaimana menjaga nyala untuk negeri.” ungkapnya. (tya)
Comments are closed.