Lumpia Semarang, Ikon Kuliner yang Menjaga Jejak Sejarah Tionghoa di Kota Atlas
METROJATENG.COM, SEMARANG – Kota Semarang tidak hanya dikenal dengan bangunan bersejarah dan panorama pesisirnya. Ibukota Jawa Tengah itu juga menyimpan kekayaan kuliner yang terus dilestarikan lintas generasi, salah satunya lumpia Semarang yang telah menjadi simbol identitas kota.
Kuliner berbentuk gulungan dengan isian rebung ini memiliki akar sejarah kuat dari akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Sejarawan kuliner menyebut, lumpia diperkenalkan keluarga keturunan Tionghoa pada abad ke-19 yang kemudian beradaptasi dengan bahan-bahan lokal hingga memiliki cita rasa khas seperti sekarang.
“Lumpia merupakan contoh keberhasilan akulturasi budaya yang hidup hingga kini. Tidak sekadar makanan, tapi cerminan perjalanan sejarah Semarang,” ujar seorang budayawan Semarang saat ditemui belum lama ini.
Rahasia Kelezatan: Rebung sebagai Bintang Utama
Berbeda dengan lumpia dari daerah lain, lumpia Semarang menggunakan rebung, udang, serta daging ayam sebagai isian utama. Perpaduan rasa gurih dengan tekstur renyah kulit lumpia menjadikannya primadona di kalangan wisatawan.
Lumpia tersedia dalam dua pilihan, yakni basah dengan tekstur lembut dan lumpia goreng yang renyah berpadu saus petis atau sambal pedas manis.
Beberapa sentra kuliner menjadi rujukan wisatawan yang ingin mencicipi lumpia otentik, seperti sentra kuliner di Jalan Pandanaran hingga kawasan Gang Lombok yang sudah turun-temurun menjual lumpia sejak puluhan tahun lalu. Antrean wisatawan hampir selalu terlihat, khususnya di akhir pekan dan musim liburan.
Pedagang mengaku, permintaan lumpia meningkat pesat saat momentum liburan. Banyak yang membeli sebagai oleh-oleh khas Semarang karena keawetannya dapat bertahan hingga beberapa hari.
Tak hanya menjadi ikon budaya, lumpia Semarang turut menggerakkan ekonomi kreatif dan UMKM. Beragam inovasi varian rasa kini bermunculan untuk meraih pasar generasi muda, seperti lumpia keju, jamur, hingga varian pedas yang lebih kekinian.
Dengan kekuatan sejarah, cita rasa, dan ekonomi yang teranyam dalam sepotong lumpia, Semarang membuktikan bahwa kuliner mampu menjadi duta budaya yang menggugah selera dunia.
Comments are closed.