Keterbatasan Tak Halangi Mimpi Ade Soelistyowati Rebut Pasar Dunia
Produk Olahan Singkong "Yammy Babeh" Mampu Bersaing di kancah Internasional
Keberhasilan Ade Soelistyowati mengekspor singkong olahan “Yammy Babeh” membuktikan keterbatasan bukan penghalang memberikan inspirasi ke masyarakat luas untuk maju dan berprestasi di kancah internasional.
METROJATENG.COM, SUKABUMI – Ade Soelistyowati, perempuan tangguh penyandang tuna rungu kini menjadi sorotan dunia. Berkat singkong olahan yang dibuatnya, ia berhasil merebut pasar dunia, di tengah keterbatasan dan kesibukannya merawat suami yang tengah berjuang melawan stroke.
Ade berhasil membawa produk olahan singkong khas Sukabumi, Cassava Crackers “Yammy Babeh”, ke pasar internasional. Mimpi Ade dengan segala keterbatasannya, akhirnya terwujud, karena ribuan bungkus camilan renyah hasil tangan dinginnya siap dikirim ke Brunei Darussalam.
Tepat Pada 9 Oktober 2025, Ade menatap bangga ke arah kontainer 20 kaki yang terparkir di halaman Gedung Juang 45 Sukabumi siap dikirim ke Brunei Darussalam, dengan nilai transaksi mencapai USD 18.000, atau sekitar Rp 288 juta.
Bagi banyak orang, angka itu mungkin sekadar statistik. Namun bagi Ade, kontainer itu adalah simbol perjalanan panjang, dari kesunyian yang ia jalani sejak lahir, dari tatapan ragu orang-orang di sekitarnya, hingga akhirnya suara keberhasilannya bergema lintas negara.
Meski baru pengiriman pertama, dan akan berlanjut dengan pengiriman berikutnya, ini membuktikan keterbatasan tidak menghalangi para difabel untuk berkarya dan terus berkarya mengharumkan Indonesia di kancah dunia
Perjalanan Ade dimulai beberapa tahun lalu, di tengah keterbatasan yang sering membuat langkahnya tersandung. Dengan keterbatasan pendengaran, komunikasi sehari-harinya mengandalkan bahasa isyarat dan tulisan. Namun di balik kesunyian itu, ia menyimpan semangat dan mimpi yang tak pernah padam.
“Saya ingin membuktikan, bahwa kami, para difabel, bisa berdiri sejajar dengan siapa pun,” ujar Ade dalam bahasa isyarat, diterjemahkan oleh asistennya.
Kalimat sederhana itu menjadi mantra hidupnya. Bersama suami, Ade mendirikan PT Gemilang Agro Inovasi, sebuah usaha kecil yang mengolah singkong lokal Sukabumi menjadi camilan modern. Mereka menamai produknya “Yammy Babeh”, nama unik yang mencerminkan semangat muda dan cita rasa universal.
Usaha Yammy Babeh diawali dengan keinginan Ade yang melihat hasil bumi singkong di Sukabumi, yang melimpah. Singkong yang melimpah ini akhirnya dibuat keripik dengan rasa berbeda dari keripik biasa.
Melihat potensi pasar yang besar, Ade dari dapur kecilnya dan dengan alat seadanya serta kompor yang kadang rusak, bahkan listrik yang padam, tak pernah membuat ade kehilangan semangat. Di sela merawat suami yang sakit, ia tetap menggoreng, mengemas, dan mengirim pesanan. Hari-harinya diisi dengan keheningan yang produktif. Dari keheningan justru melahirkan karya membanggakan, karena olahan singkongnya mampu bersaing di kancah internasional.
Jatuh bangun dalam memulai usaha sering dirasakan Ade, hingga kemajuan dirasakan ketika ia bergabung bergabung dalam Pertamina UMK Academy 2025, program pembinaan UMKM yang digagas PT Pertamina (Persero) untuk mendorong wirausaha lokal naik kelas.
Melalui kelas Go Online, Ade belajar digital marketing, manajemen keuangan, hingga standar ekspor. Meski memiliki keterbatasan, Ade dengan tekun memperhatikan arahan dan bimbingan mentor Pertamina,sehingga berhasil membawa Yammy Babeh disukai masyarakat Sukabumi.
“Pertamina memberi saya sayap. Dulu saya hanya bisa bermimpi produk saya dikenal di luar kota. Sekarang, saya bisa melihatnya terbang ke luar negeri,” ungkap Ade lirih.
Melalui pendampingan intensif, produknya dikurasi hingga memenuhi standar internasional. Kemasan dibuat lebih modern, proses produksi diatur sesuai kaidah higienitas, dan strategi pemasaran digital diperkuat. Tidak berhenti di situ, Ade juga menjadi aggregator produk berbasis mangrove, seperti kapsul, teh, dan bubuk mangrove, yang kini tengah dijajaki untuk ekspor ke Korea Selatan.
Berkat ketekunannya , Ade juga berhasil memberdayakan para tetangga untuk bergabung mengolah singkong menjadi makanan yang enak dan disukai banyak orang. Ditemani 10 orang karyawan tetap dan 25 siswa magang dari SMA Sukabumi, Ade menumbuhkan ekosistem usaha yang inklusif. Di tempat produksinya, semua orang memiliki ruang untuk belajar, tumbuh, dan percaya pada diri sendiri.
Kepercayaan masyarakat atas olahan singkong yang dibuatnya membuat Ade semakin percaya diri, dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pada 9 Oktober 2025 di halaman Gedung Juang 45, bendera merah putih berkibar dengan gagah menyambut ekspor perdana Yammy Babeh ke Brunai Darusalam.
Ratusan orang hadir, termasuk pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, hingga pelaku UMKM lainnya. Mereka datang bukan sekadar melepas ekspor produk, tetapi untuk menyaksikan kisah inspiratif yang lahir dari keberanian dan ketulusan dan kecintaanya terhadap Indonesia.
Pada hari istimewa itu, Menteri UMKM RI Maman Abdurahman menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semangat Ade dan UMKM difabel di Indonesia.
“Keberhasilan ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Pemerintah akan memprioritaskan pelaku usaha disabilitas agar lebih berdaya saing di tingkat global.” katanya.
Ade yang berdiri tenang, memandangi kontainer yang akan diberangkatkan dengah wajah penuh rasa haru, bangga, dan bersyukur atas apa yang telah dicapainya. Namun ekspor ke Brunai bukanlah ekspor terakhir, tetapi akan ada ekpor-ekspor lainya ke berbagai negara tetangga.
Pemberdayaan Inklusif
Fadjar Djoko Santoso, Vice President Corporate Communication Pertamina, menegaskan, bagi Pertamina, ekspor perdana “Yammy Babeh” bukan sekadar capaian bisnis, tetapi perwujudan semangat pemberdayaan inklusif.
“Setiap individu memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada ekonomi bangsa. Keberhasilan UMKM binaan seperti PT Gemilang Agro Inovasi menunjukkan inklusivitas, inovasi, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.” ungkapnya.
Ditambahkan hingga Oktober 2025, delapan UMKM binaan Pertamina telah menembus pasar ekspor berkelanjutan, dari Asia hingga Timur Tengah.
Setelah kesuksesan di Brunei, Ade juga bersiap tampil di Trade Expo Indonesia (TEI) 15-19 Oktober 2025. Ajang ini memberi kesempatan Ade untuk memperkenalkan identitas lokal Sukabumi ke dunia.

“Setiap kali produk saya dibuka di luar negeri, saya ingin mereka tahu, ini adalah karya tangan anak bangsa,” tulis Ade di secarik catatan yang disertakan dalam kemasan produknya.
Hal ini dilakukan karena keberhasilan PT Gemilang Agro Inovasi bukan hanya soal omzet atau ekspor. Ini tentang makna perjuangan di balik setiap bungkus Yammy Babeh. Tentang seorang perempuan yang belajar mendengar lewat hati, tentang suami yang tetap tersenyum meski tubuhnya tak sekuat dulu, dan tentang anak-anak muda yang belajar bahwa bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tapi menciptakan nilai.
Di tempat produksi, Ade berinteraksi dengan karyawan menggunakan bahasa isyarat, sesekali tertawa ketika mereka salah memahami gerakannya.
“Di sini, kami belajar untuk saling memahami, bukan sekadar mendengar, jadi teruslah belajar dan raih cita-citamu setinggi langit,” jelas Ade dalam bahaya isyarat.
Meski berhasil mengekspor Yammy Babeh, Ade tahu jalan di depan masih panjang. Namun hari itu, untuk pertama kalinya, kesunyian yang ia miliki berubah menjadi kekuatan yang bersuara paling lantang.
Dari tangan-tangan kecil di Sukabumi, lahirlah cita rasa besar untuk dunia. Dan dari seorang perempuan difabel, lahirlah inspirasi bahwa tidak ada keterbatasan yang mampu membungkam tekad untuk maju.(tya)
Comments are closed.