Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

BPS Pekalongan Bongkar “Rahasia” Perjalanan Gabah Jadi Beras, Data Penting untuk Ketahanan Pangan

METROJATENG.COM, KOTA PEKALONGAN – Bagaimana perjalanan gabah dari sawah hingga akhirnya tersaji di meja makan warga? Pertanyaan itu coba dijawab Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan melalui Survei Konversi Gabah ke Beras (SKGB) yang baru saja rampung dilaksanakan sepanjang September 2025.

Kepala BPS Kota Pekalongan, Hayu Wuranti, menegaskan survei ini punya peran vital untuk memotret ketersediaan pangan daerah. SKGB fokus menghitung seberapa besar susut yang terjadi saat gabah digiling menjadi beras, sekaligus memantau rantai distribusinya.

“Kalau kita punya produksi gabah sekian ton, berapa persen yang benar-benar jadi beras siap konsumsi? Itu yang kami ukur. Dari petani ke penggilingan, lalu ke distributor, hingga sampai ke masyarakat,” jelas Hayu.

Namun, pelaksanaannya tidak selalu mulus. Tim BPS kerap menghadapi tantangan di lapangan, mulai dari gabah yang sudah ditebas penebas hingga sulitnya mengambil sampel.

“Kadang penebas enggan memberi izin karena takut rugi, jadi petugas harus mengejar sampel sampai ke penggilingan. Belum lagi proses pengeringan, penimbangan ulang, hingga uji kadar air yang memakan waktu dan tenaga,” ungkapnya.

Di Pekalongan, BPS mengambil sekitar 50 sampel petani serta dua lokasi penggilingan. Sebanyak lima petugas diturunkan, termasuk tiga pegawai organik BPS. Setelah data terkumpul, tahap berikutnya adalah evaluasi untuk memastikan hasil benar-benar valid sebelum dikirim ke BPS Provinsi Jawa Tengah.

Selain SKGB, BPS juga rutin menggelar survei ubinan tiap empat bulan sekali guna mengukur produktivitas tanaman pangan di lahan.

“Bedanya, ubinan dilakukan per musim tanam, sedangkan SKGB sifatnya tahunan dan lebih berat pengerjaannya,” tambah Hayu.

Menurutnya, semua survei yang dilakukan BPS saling berkaitan. SKGB berfokus pada konversi gabah ke beras, sedangkan survei konsumsi pangan menakar kebutuhan beras masyarakat. Kombinasi data inilah yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pangan daerah.

“Jika lahan sawah makin berkurang, otomatis produksi gabah juga turun. Dampaknya, ketersediaan beras lokal menyusut dan kita terpaksa mendatangkan dari luar daerah. Nah, data ini penting untuk mengantisipasi kondisi tersebut,” tegas Hayu.

Meski baru selesai September, SKGB di Kota Pekalongan tuntas lebih cepat dari jadwal. Hasil resminya diperkirakan baru bisa diumumkan pada akhir tahun setelah melalui tahap evaluasi berlapis.

“Survei ini akan jadi pijakan penting untuk mengetahui seberapa kuat ketahanan pangan kita. Dari angka produksi gabah hingga beras yang benar-benar siap dikonsumsi masyarakat, semuanya akan jelas,” pungkasnya.

Comments are closed.