Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Emas Tak Lekang oleh Waktu, Investasi Favorit Warisan Nenek Moyang, Kini Jadi Penjaga Masa Depan

METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Di tengah banyaknya pilihan investasi, emas tetap menjadi primadona masyarakat Indonesia. Bagi sebagian orang, emas bukan sekadar logam mulia, melainkan warisan nenek moyang yang terbukti ampuh menjaga nilai harta, sekaligus juga menjadi penjaga masa depan.

Seperti yang dilakukan, Eviyanti (58), warga Kelurahan Tanjung Elok, Kecamata Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang sejak lama menjadikan emas sebagai penopang keuangan keluarga. Kebiasaan itu ia warisi dari ibunya yang gemar menyimpan emas secara fisik di rumah. Namun seiring perkembangan zaman, cara menabung emas pun ikut berubah, dari simpanan di kotak kecil, kini beralih ke pegadaian hingga tabungan emas digital yang bisa diakses melalui ponsel.

“Kalau dulu emas disimpan di rumah, sekarang lebih praktis lewat tabungan emas digital. Rasanya lebih aman dan mudah,” ungkapnya, saat datang ke kantor pegadaian untuk mencetak buku tabungan emasnya, Senin (15/9/2025).

Bagi banyak keluarga, emas bukan hanya investasi jangka panjang, melainkan juga penyelamat di saat genting. Begitu pula pengalaman Eviyanti, ketika kedua anaknya masih kuliah. Beban biaya pendidikan yang cukup besar membuatnya harus mencari solusi cepat.

Alih-alih menjual emas, ia memilih untuk menggadaikannya di pegadaian. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Harga emas yang cenderung stabil dan terus naik membuatnya sayang untuk melepas emas secara permanen.

“Kalau dijual, nanti beli lagi sudah lebih mahal. Jadi lebih baik digadaikan, setelah ada rezeki langsung ditebus,” tuturnya.

Lain lagi yang dialami Dyah, warga Purwokerto, yang pernah sampai panik saat lupa tempat penyimpanan emasnya. Ia tidak memiliki brankas khusus di rumah, sehingga hanya menyimpan emas di laci almari.

“Pernah lupa tempat menyimpan emas, karena berpindah-pindah, sudah saya ikhlaskan sebenarnya, tetapi kemudian ketemu di sela-sela baju, langsung saya bawa ke Pegadaian untuk ditabung,” kata Dyah yang mengaku menabung emas untuk biaya umroh.

Caption Foto : Vice President PT Pegadaian Area Purwokerto, Yuly Arsianty. (Foto : Hermiana E. Effendi).

 

Transformasi Pegadaian MengEMASkan Indonesia

Kini, Pegadaian tidak hanya dikenal sebagai tempat menggadaikan barang untuk mendapatkan uang tunai. Lembaga ini telah bertransformasi menjadi penyedia layanan investasi dengan beragam produk yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

Vice President PT Pegadaian Area Purwokerto, Yuly Arsianty, menjelaskan saat ini Pegadaian mengelola dua bidang utama, yaitu pembiayaan dan investasi. Produk yang ditawarkan pun kian beragam, mulai dari kepemilikan emas batangan melalui program Mulia, Tabungan Emas Pegadaian, Mulia Tabungan Emas hingga Deposito Emas.

“Misalnya ada yang ingin membeli emas batangan 10 gram untuk persiapan biaya pendidikan anak. Nasabah bisa cicil sesuai kemampuan, 12 bulan, 24 bulan, bahkan sampai 60 bulan. Keuntungannya, harga emas dikunci sejak awal akad meskipun pembayaran dilakukan bertahun-tahun kemudian,” jelasnya.

Bagi masyarakat yang ingin menabung emas dengan modal kecil, layanan tabungan emas digital menjadi pilihan menarik. Nasabah cukup menyetorkan rupiah yang kemudian langsung dikonversi ke emas. Saldo yang tercatat bukan lagi nominal uang, melainkan kepemilikan gram emas.

“Kalau dulu emas identik harus punya modal besar, sekarang cukup dengan nominal kecil sudah bisa menabung emas, bahkan hanya dengan Rp 10.000, sudah bisa menabung emas. Apalagi lewat aplikasi, semua bisa dilakukan dari rumah,” terang Yuly.

Selain itu, ada pula program Mulia Tabungan Emas, yang memungkinkan nasabah mencicil emas dalam jangka waktu tertentu. Saat kontrak ditandatangani, emas langsung tercatat di tabungan, namun baru bisa diakses setelah pembayaran lunas.

Caption Foto : Pelayanan di kantor pegadaian di Purwokerto. (Foto : Hermiana E. Effendi).

 

Deposito, Tambah Nilai Tambah Emas

Salah satu produk yang kini semakin diminati masyarakat adalah deposito emas. Dengan minimal simpanan 5 gram emas selama satu tahun, nasabah bisa memperoleh tambahan keuntungan 1% emas.

“Deposito emas ini memberikan keuntungan ganda. Selain nilai emas itu sendiri naik, nasabah juga mendapat tambahan emas dari program deposito. Jadi setelah satu tahun, emas yang dimiliki benar-benar bertambah, bukan hanya nilainya saja,” jelas Yuly.

Kondisi inflasi yang kerap melambung, terutama dalam biaya pendidikan, menjadi alasan mengapa investasi emas kian relevan. Nilai uang yang disimpan selama 5–10 tahun akan tergerus inflasi, sementara emas justru meningkat nilainya.

“Dengan investasi emas, kebutuhan di masa depan, terutama pendidikan anak, bisa lebih terjamin. Berbeda dengan uang tunai, emas justru bisa mengimbangi kenaikan biaya hidup,” ungkap Yuly.

Pegadaian area Purwokerto mencatat, pembiayaan emas sampai dengan bulan ini sudah terealisasi hingga Rp 63 miliar, dari target Rp 88 miliar. Dan untuk deposito emas, dari target 29,6 kg, sekarang ini sudah tercapai 23,9 kg. Yuly optimis, sampai dengan akhir Tahun 2025 ini, target tersebut akan tercapai, seiring dengan semakin tingginya minat masyarakat untuk menabung emas. Berbagai sosialisasi dan edukasi juga terus dilakukan Pegadaian Area Purwokerto, mulai dari masuk ke sekolah-sekolah, kampus hingga ke berbagai instansi serta kantor pemerintah.

Sebab, kini menabung emas bukan lagi sekadar tradisi lama, melainkan strategi cerdas menghadapi masa depan. Transformasi layanan Pegadaian yang semakin lengkap dan modern menghadirkan banyak pilihan investasi yang terjangkau bagi semua kalangan.

Melalui berbagai inovasi tersebut, Pegadaian terus berkomitmen untuk “MengEMASkan Indonesia”, menjadikan emas bukan hanya warisan budaya, tetapi juga kunci menuju masa depan yang lebih sejahtera.

Comments are closed.