Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Dari Dapur Kecil, Energi Bersih PGN Bawa Perubahan Langit Indonesia Kembali Biru

Babak Baru Gerakan Transformasi Energi Bersih di Indonesia

Dari dapur sederhana di Semarang Timur hingga pabrik besar di Kendal, energi bersih dari gas bumi PGN membawa perubahan nyata, menyalakan kehidupan, menekan emisi, dan menumbuhkan harapan bagi masa depan yang lebih hijau.

 

METROJATENG.COM, SEMARANG –Udara pagi di Semarang Timur masih lembap. Kabut tipis bergelayut di antara atap rumah di kawasan perumahan Rejomulyo. Di kawasan tersebut aroma teh melati bercampur wangi nasi ayam geprek bakar dengan sambal pedas menyeruak dari sebuah rumah sederhana. Dari dapur kecil di rumah itu, suara wajan dan sendok besi berpadu dengan aroma masakan yang menggugah selera.

Di sanalah Arif Sampurna, pemilik Kedai TBot, bersama putrinya Rizkita, mahasiswi jurusan Gizi UIN Walisongo, tengah menyiapkan pesanan 100 kotak nasi ayam geprek. Di atas kompor, api biru menari lembut, bukan dari tabung LPG seperti dulu, melainkan dari jaringan pipa bawah tanah, gas bumi PGN yang kini mengalir ke dapurnya.

“Sekarang masak lebih cepat, nggak repot ganti tabung, hemat juga,” ujar Arif sambil tersenyum kecil, mempersiapkan ayam goreng.

Bagi Arif, nyala api biru itu bukan sekadar sumber panas. Ia adalah tanda perubahan hidup. Dulu, setiap beberapa hari ia harus mengangkat tabung gas berat di tengah sibuknya pesanan. Kini, ia bisa memasak tanpa rasa khawatir gas habis dan harus mencari, karena energi bersih PGN siap melayani 24 jam tanpa henti.

“Dengan gas alam PGN, saya tidak perlu repot mengangkat tabung gas karena  gas bumi PGN lebih praktis, aman, dan harganya juga lebih terjangkau, menyalakannya juga tinggal klik saja dan api biru langsung menyala,” ujarnya.

Tanpa disadari Arif, nyala api di dapurnya adalah bagian dari gerakan besar transformasi energi di Indonesia. Jutaan rumah tangga kini mulai beralih ke gas bumi sebagai langkah nyata menuju masa depan yang lebih bersih.

Melalui program jaringan gas rumah tangga (jargas), PGN sebagai  Subholding Gas Pertamina  menghadirkan energi bersih langsung ke rumah-rumah warga. Hingga kini, lebih dari 800.000 rumah tangga di Indonesia telah menikmati manfaat gas bumi, termasuk sekitar 11.000 hingga 14.000 sambungan di Semarang.

“PGN menjamin pasokan gas selama 24 jam, jadi masyarakat bisa lebih tenang dan produktif,” ujar Aldo Marino, Sales Komersial Industri PGN Area Semarang.

Menurutnya, transformasi ini tak hanya terjadi di dapur-dapur warga, tetapi juga di dunia industri. Banyak perusahaan di Jawa Tengah kini mulai beralih ke gas bumi PGN baik di Kendal maupun Batang.

“Kami juga melayani perusahaan-perusahaan yang beralih ke gas bumi. Industri pun menjadi bagian penting dari perubahan menuju energi bersih,” tambahnya.

ENERGI BERSIH – Api biru PGN, simbol perubahan menuju energi bersih dan langit biru Indonesia.
(tya/redmetrojateng)

 

Urat Nadi Ekonomi Jawa Tengah

Perubahan itu paling terasa di kawasan industri. Di Kendal Industrial Park, pipa-pipa baja membentang di bawah tanah seperti urat nadi baru bagi ekonomi Jawa Tengah. Dari pipa-pipa itu, gas bumi mengalir, memberi kehidupan pada mesin-mesin pabrik yang dulu bergantung pada bahan bakar konvensional.

“Dua tahun lalu, di Kendal belum ada pelanggan gas sama sekali. Tapi kami tidak menyerah. Kami yakinkan para pengusaha bahwa gas alam itu lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan,” kenang Aldo.

Kini, hasilnya terlihat nyata. “Sudah ada 12 industri aktif, dan dalam ­ waktu dekat akan bertambah menjadi 26,” ujarnya bangga.

Aldo mengungkapkan, sejumlah perusahaan besar dari Tiongkok telah menyatakan minat untuk berinvestasi, termasuk perusahaan baterai kendaraan listrik (EV Battery) yang akan membangun pabrik di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).

“Perusahaan ini akan menyerap gas dalam jumlah besar. Kami siap mendukung kebutuhan mereka melalui jaringan pipa yang sudah dibangun,” ungkapnya.

Terkait ketersediaan pasokan gas, lanjut Aldo, masih sangat mencukupi, utamanya yang dipasok dari sumur Jambaran Tiung Biru (JTB) milik Pertamina di Bojonegoro.

“Pasokan terbesar untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur kini berasal dari JTB,” ujarnya.

Di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), gas bumi juga mulai mengalir ke pabrik-pabrik besar seperti keramik Roma dan alat kesehatan Kasta Medis. Bahkan, sebuah perusahaan asal Chili, produsen grinding ball, akan tersambung di akhir tahun ini.

“Ini bukan hanya soal menyalurkan gas, tapi juga menyalakan semangat industri yang lebih hijau,” tutur Aldo dengan mata berbinar.

Dalam tiga tahun terakhir, jaringan gas di Jawa Tengah berkembang pesat, dari hanya 0,2 kilometer menjadi 357 kilometer.

“Setiap meter pipa adalah bukti bahwa transisi energi bukan sekadar wacana. Diam-diam tapi pasti, perubahan sedang terjadi di tanah ini,” katanya.

Tekan Emisi dan Jaga Bumi

Di sisi lain, dampak lingkungan dari gas bumi juga mulai terasa signifikan, seperti udara lebih segar dan langit menjadi biru. Selain itu polusi udara juga mulai berkurang.

Mirza Mahendra, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, mengungkapkan, hingga Agustus 2025, PGN telah menurunkan emisi karbon hingga 24.861 ton CO₂e, melampaui target internal sebesar 19,7%.

“Ini bukan sekadar angka. Setiap ton CO₂ yang berhasil kita tekan, berarti langit  lebih bersih, udara lebih sehat, dan masa depan yang lebih layak untuk anak-anak kita,” ujarnya.

Menurutnya, setiap rumah tangga yang beralih dari LPG ke gas bumi bisa mengurangi emisi karbon hingga 60%.

“Itu artinya, setiap kompor rumah tangga turut menjaga bumi,” kata Mirza.

Upaya PGN tak berhenti di jaringan gas. Guna memberikan nilai tambah, PGN kini tengah mengembangkan proyek biomethane,  energi hijau yang dihasilkan dari limbah pertanian dan peternakan.

Jerami sisa panen, kotoran sapi, hingga tandan kosong kelapa sawit, yang dulu dianggap tak bernilai, kini disulap menjadi energi bersih yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri. Biomethane adalah sinergi antara energi, pangan, dan air.

“Ini bukan hanya soal energi alternatif, tapi juga ekonomi sirkular, di mana petani, peternak, dan masyarakat bisa tumbuh bersama.” katanya.

Di banyak desa, gagasan ini mulai menyalakan harapan baru. Energi bersih kini lahir bukan dari tambang, tetapi dari tanah yang sama yang memberi makan.

“Setiap pipa yang kami pasang, setiap sambungan yang mengalirkan gas, adalah komitmen kami untuk menjaga bumi dan menyalakan harapan,” pungkas Mirza.(tya)

 

Comments are closed.