Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Ketika Mangrove Menyelamatkan Pesisir Tambakrejo Semarang, Harapan Nelayan Tumbuh Lagi

Kolaborasi warga Tambakrejo dan Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah menumbuhkan kehidupan baru di pesisir Semarang. Dari akar mangrove, lahir harapan, kehidupan, dan masa depan yang lebih baik.

METROJATENG.COM, SEMARANG – Pagi itu, di tepi pantai Tambakrejo, ombak kecil berlari pelan ke bibir laut. Di balik rimbun mangrove yang menari tertiup angin, tampak tangan-tangan warga menanam bibit baru di tanah berlumpur. Setiap cangkul yang menembus lumpur bukan sekadar menanam pohon,  mereka sedang menanam harapan, agar laut yang dulu marah kini menjadi sahabat

Mereka adalah Kelompok CAMAR (Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun). Sejak berdiri pada tahun 2011, kelompok ini menjadi garda terdepan dalam menjaga garis pantai Tambakrejo dari ancaman abrasi dan rob. Dan di tengah perjuangan mereka, hadir Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) yang membawa angin perubahan lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Dari sinilah, kisah sederhana tentang warga pesisir dan perusahaan energi ini menjelma menjadi gerakan besar,  menyelamatkan alam, memperkuat ekonomi, dan menumbuhkan harapan.

“Dulu, setiap kali air laut pasang, rumah saya pasti kebanjiran. Airnya asin, bikin dinding rusak dan ikan di tambak banyak yang mati,” kenang Juraemi, Ketua Kelompok CAMAR, sambil menatap jauh ke arah laut. Ia ingat betul bagaimana kehidupan nelayan di Tambakrejo dulu,  penuh ketidakpastian dan rasa takut setiap kali mendung datang.

Air rob menjadi mimpi buruk warga. Jalan-jalan tergenang, tambak rusak, rumah-rumah lapuk diterjang air asin. Banyak warga memilih pindah. Tapi bagi Juraemi dan beberapa warga yang bertahan, menyerah bukan pilihan.

“Kami hidup dari laut. Kalau laut rusak, ya kami juga hancur,” ujarnya.

Dari tekad itulah CAMAR lahir. Awalnya hanya beberapa orang yang peduli lingkungan, menanam mangrove dengan cara sederhana. Namun semangat mereka perlahan menular. Hasilnya mulai tampak, tanah yang dulu gundul kini hijau, gelombang laut tak lagi langsung menghantam daratan dan rumah-rumah penduduk.

Hadirnya Pertamina Patra Niaga JBT IV melalui program TJSL-nya yang  turun tangan membantu memberi nafas baru, bagi warga Tambakrejo. Pertamina datang bukan hanya dengan memberikan ribuan bibit mangrove, tetapi juga mendampingi warga agar mampu mengelola lingkungan dan ekonomi secara berkelanjutan.

MAGERI SEGORO – Pertamina bersama kelompok CAMAR menanam mangrove di kawasan pesisir pantai Tambakrejo, kelurahan Semang Utara. (redmetrojateng)

 

“Masalah rob dan abrasi ini tidak bisa dibiarkan. Karena itu kami berkolaborasi dengan masyarakat Tambakrejo untuk menanam mangrove, bukan hanya demi lingkungan, tapi juga demi ekonomi mereka,” kata Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah.

Pertamina tidak datang untuk sekadar menanam lalu pergi. Program TJSL ini dirancang jangka panjang, agar warga bisa mandiri menjaga lingkungan sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi.

“Dari mangrove, banyak nilai tambah yang bisa diciptakan. Daunnya bisa jadi sirup, keripik, bahkan pewarna batik alami,” jelas Taufiq.

Kini, lebih dari 150.000 bibit mangrove telah ditanam bersama CAMAR. Setiap batang yang tumbuh menjadi benteng alami bagi pesisir, menahan abrasi, menyejukkan udara, dan menjadi rumah bagi ratusan jenis biota laut.

Ketika Mangrove Menghidupi

Perubahan paling nyata terasa di dapur rumah warga. Mangrove yang dulu hanya dianggap pohon liar kini menjadi sumber rezeki baru.

Di rumah kecilnya, Sitatun, salah satu ibu anggota CAMAR, sibuk menjenur  daun mangrove, sebagai bahan keripik mangrove yang memiliki nilai gizi yang baik. “Dulu saya hanya di rumah bantu suami. Sekarang bisa produksi keripik mangrove sendiri. Kalau ada wisatawan datang, Alhamdulillah laris,” ujarnya sambil tersenyum bangga.

Bersama ibu-ibu lain, Sitatun membuat berbagai olahan dari mangrove mulai dari sirup, keripik, bahkan sabun alami. Mereka juga mendapat pelatihan dari Pertamina tentang cara mengemas, memasarkan, dan menjaga kualitas produk.

Hasilnya  produk-produk CAMAR sering dipesan sebagai oleh-oleh khas Tambakrejo. Ini tentunya membuat pundi-pundi warga Tambakrejo bertambah dan kesejahteraan meningkat, sehingga perekonomian kita ikut terangkat pula.

Selain itu, hasil laut pun meningkat. Akar mangrove yang lebat menjadi tempat ikan dan udang berkembang biak.

“Sekarang ikan lebih banyak. Tambak juga nggak sering rusak,  karena ombak tertahan akar mangrove,” ujar Juraemi.

EDUWISATA MANGROVE – Kawasan pesisir Tambakrejo disulap menjadi eduwisata berkat tanaman mangrove dan pendampingan yang dilakukan Pertamina secara berkelanjutan, sehingga mampu mengangkat perekonomian warga. (tya/redmetrojateng)

 

Eduwisata Mangrove

Pertamina tidak hanya membantu menanam mangrove, tetapi  juga membantu membangun jogging track dan area edukasi lingkungan di tengah hutan mangrove. Dari situ lahirlah Eduwisata Mangrove Tambakrejo, sebuah destinasi yang kini ramai dikunjungi pelajar, mahasiswa, dosen hingga peneliti dari dalam dan luar negeri.

“Dulu siapa yang mau datang ke sini? Sekarang tiap minggu ada rombongan yang belajar soal mangrove,” kata Juraemi sambil menunjukkan papan edukasi hasil kolaborasi dengan Pertamina.

Berbeda dengan Djuraemi, bagi Amron, nelayan yang sudah 30 tahun melaut, wisata mangrove membawa berkah baru. Saat tidak melaut, ia menjadi pemandu wisata, membawa pengunjung menyusuri hutan dengan perahu kayu.

“Kalau lagi nggak melaut, bisa antar tamu. Lumayan buat tambahan dapur. Kadang kalau ramai, sehari bisa dua kali keliling,” ujarnya sambil tertawa.

Kini, Tambakrejo bukan hanya tempat nelayan berjuang mencari ikan, tapi juga tempat anak-anak belajar mencintai alam. Banyak sekolah yang datang untuk kegiatan tanam mangrove, belajar ekosistem, atau sekadar menikmati udara segar di tepi laut.

Program TJSL Pertamina dan CAMAR bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga membangun kemandirian ekonomi dan sosial masyarakat.

Kepala Dinas Kelautan Provinsi Jawa Tengah, Rianu, mengakui  perubahan di Tambakrejo adalah contoh nyata keberhasilan program yang berkelanjutan.

“Menanam itu mudah, tapi merawat itu yang susah. Namun yang luar biasa justru  warga yang mau merawat dan menjadikan mangrove bagian dari kehidupannya. Tambakrejo sudah membuktikannya,” katanya.

Hasilnya abrasi dan rob berkurang drastis. Ekonomi nelayan meningkat karena ada wisata dan produk olahan dari mangrove. Selain itu lingkungan lebih hijau, udara lebih sejuk, dan biota laut kembali berkembang.

Warga kini bangga dengan kampungnya,  yang dulu sering kebanjiran, kini menjadi contoh kampung pesisir hijau di Semarang.

“Penanaman mangrove ini punya multiplier effect. Lautnya selamat, nelayannya dapat tambahan penghasilan, ibu-ibunya punya produk, dan anak-anak punya tempat belajar,” kata Taufiq.

Sementara itu Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, menilai keberhasilan CAMAR dan Pertamina ini patut dijadikan contoh bagi daerah lain. Namun ia mengingatkan, keberlanjutan menjadi kunci.

“Jangan berhenti di sini. Penanaman harus terus dijaga. Kalau semua pihak ikut bergerak, Tambakrejo bisa jadi model nasional,” ujarnya.

Sedangkan  Sony Yuda, Lurah Tanjung Emas, menambahkan,  persoalan rob dan sampah laut memerlukan gerakan bersama.

“CAMAR sudah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah. Tapi mereka tidak bisa terbang sendiri. Kita semua harus ikut,” katanya.

Senja turun perlahan di Tambakrejo. Cahaya oranye matahari menembus sela-sela daun mangrove, menciptakan bayangan indah di atas air yang tenang. Di sana, terlihat anak-anak kecil berlari di atas jalan kayu — tertawa, bermain, tanpa takut air laut datang lagi.

Itulah buah dari perjuangan panjang, warga Tambakrejo memulihkan lingkungan demi  kehidupan yang lebih baik, dan masa depan yang lebih pasti.

“Sekarang kami tidak hanya menanam pohon, tetapi kami juga  menanam masa depan anak-anak kami.” tambahnya.

Bagi Pertamina, inilah wujud nyata dari komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni  menjaga bumi, memberdayakan manusia, dan membangun ekonomi yang ramah lingkungan.  Bagi warga Tambakrejo, mangrove bukan lagi sekadar tanaman pesisir. Mangrove kini  menjadi simbol keteguhan hati, pengikat persaudaraan, dan akar dari kehidupan baru. (tya)

Comments are closed.