Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Petani Magelang Antusias Beralih ke Biosaka, Solusi Murah dan Ramah Lingkungan

METROJATENG.COM, MAGELANG – Revolusi sunyi tengah terjadi di ladang-ladang Kabupaten Magelang. Para petani mulai meninggalkan ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia berkat larutan alami bernama biosaka, ramuan dari daun dan rerumputan yang terbukti meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Di balik gerakan hijau ini, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang memainkan peran penting. Lewat bimbingan teknis (bimtek) yang digelar di berbagai desa, mereka mengenalkan cara membuat dan mengaplikasikan biosaka, termasuk di Dusun Tegalrandu, Desa Sukorejo, Kecamatan Tegalrejo.

“Biosaka bukan sekadar pupuk alami. Ini adalah bagian dari transformasi menuju pertanian masa depan yang sehat, murah, dan berkelanjutan,” kata Sekretaris Distan Pangan Magelang, Ade Sri Kuncoro Kusumaningtyas.

Menurutnya, penggunaan biosaka sejalan dengan misi Bupati Magelang untuk menciptakan “Magelang Anyar Gres” dan membangun lumbung pangan berbasis riset serta pertanian organik.

Biosaka terbuat dari ekstrak tumbuhan segar yang diperas dengan tangan menggunakan air sebagai pelarut, tanpa bahan kimia tambahan. Sudah 17 kecamatan di Magelang memanfaatkannya, terutama untuk tanaman padi. Namun di daerah Pakis, petani hortikultura pun menggunakannya untuk kobis dan berhasil meningkatkan ukuran panen.

Salah satu narasumber pelatihan, Muhammad Ansar, petani milenial dari Blitar, mengungkapkan bahwa biosaka mampu mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida hingga 80 persen. “Biosaka adalah gerakan moral menjaga siklus alam. Ini bukan sekadar teknik, tapi juga filosofi hidup bertani selaras dengan alam,” tegasnya.

Keunikan biosaka terletak pada proses pembuatannya. Petani dituntut menggunakan “rasa” saat memeras bahan-bahan alami—menghubungkan kembali manusia dengan alam. Ini yang membuat biosaka tidak bisa diperjualbelikan; harus dibuat sendiri oleh petani sebagai bentuk keterlibatan langsung dan keikhlasan menjaga lingkungan.

Efek nyata dirasakan Ermina Hari Desta Purna Wirawati Prihharsanti, petani organik dari Desa Bringin, Kecamatan Srumbung. Setelah sempat gagal panen cabai akibat serangan hama, ia mencoba biosaka. Hasilnya? Tanamannya selamat dan panen tepat saat harga cabai melonjak.

“Petani lain gagal panen karena hama, kami justru panen dan untung. Biosaka benar-benar solusi,” ujarnya puas.

Gerakan biosaka kini menjadi harapan baru bagi ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem.

Comments are closed.