Inflasi di Jateng Masih Dalam Rentang Wajar
Beras, Cabe Rawit, Bawang Merah Masih Jadi Penyumbang Inflasi
METROJATENG.COM, SEMARANG – Laju inflasi di Jawa Tengah sesuai dengan keterangan BPS pada bulan Juni 0,24% (mtm) atau 2,2% (YoY). Inflasi tahunan Provinsi Jawa Tengah masih berada pada rentang sasaran inflasi yaitu 2,5±1%, sehingga masih dalam rentang wajar.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah (KPwBI) Rahmat Dwisaputra menegaskan, meskipun lebih tinggi dari angka nasional, inflasi provinsi ini tetap berada dalam rentang target yang ditetapkan.
Dijelaskan kenaikan harga pada komoditas pangan menjadi pendorong utama yakni kelompok makanan minuman. Selain itu juga adanya peningkatan harga komoditas pangan, mengingat panen raya sudah berlalu sehingga beberapa barang-barang komoditas pangan sudah berkurang. Akibatnya kalau permintaan tetap harganya pasti mengalami peningkatan sedikit.
“Komoditas penyumbang inflasi sampai saat ini masih didominasi beras, cabe rawit, bawang merah, daging ayam ras dan telur ayam ras. Sedangkan penyumbang deflasinya tarif kereta api, bawang putih, bensin, cabe merah dan minyak goreng,” kata Rahmat Dwisaputra pada acara Media Briefing di Semarang, Senin (14/7/2025)
Cabai merah juga kembali mencatat deflasi berkat panen yang masih berlangsung di sejumlah sentra produksi, memastikan pasokan melimpah di pasar.
Selain komoditas pangan, Kelompok Transportasi juga memberikan andil deflasi -0,03% (mtm). Penurunan ini terutama disumbang oleh Tarif Kereta Api dengan andil -0,03% (mtm). Hal ini berkat adanya diskon tiket kereta api kelas ekonomi 30% yang diberlakukan selama Juni dan Juli 2025.
Selain diskon tiket kereta api, penurunan harga bensin non-subsidi oleh PT Pertamina (Persero) per 1 Juni 2025 juga turut meredam tekanan inflasi dari sektor transportasi
Secara spasial di Provinsi Jawa Tengah secara (mtm) kota yang paling tinggi inflasinya adalah Cilacap, sedangkan yang paling rendah inflasinya adalah Tegal. Semarang seperti biasa selalu berada di tengah-tengah. Secara spasial Jawa, yang paling tinggi adalah Yogyakarta, yang kedua DKI Jakarta, Jateng nomor 4. dan yang paling rendah Banten.
Bank Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan daerah yang tergabung dalam Forum TPID Provinsi Jawa Tengah akan terus memperkuat koordinasi dan kerja sama. Berbagai program pengendalian inflasi akan terus digalakkan.
“Program-program ini bertujuan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang/komoditas di Jawa Tengah, sehingga inflasi dapat tetap terjaga di rentang sasaran 2,5±1%,” katanya
Bank Indonesia dan Provinsi Jawa Tengah khususnya Kota Semarang mengendalikan melalui pembentukan Badan Usaha Milik Petani dan Badan Usaha Milik Daerah. (*)
Comments are closed.