Candi Mendut Direstorasi: Bongkar Atap hingga Rakit Ulang Dinding Batu Kuno
METROJATENG.COM, MAGELANG – Salah satu peninggalan bersejarah kebanggaan Indonesia, Candi Mendut, tengah menjalani proses penyelamatan. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X resmi memulai rehabilitasi besar-besaran terhadap candi Buddha abad ke-9 yang berdiri megah hanya 3 kilometer dari Candi Borobudur itu.
Rehabilitasi yang dijadwalkan rampung pada 2026 ini bukan tanpa alasan. Sejumlah kerusakan serius ditemukan di bagian atap dan dinding candi yang dibangun Dinasti Syailendra pada tahun 824 Masehi tersebut.
“Batu-batu dinding candi mulai melesak ke dalam dan sebagian lainnya justru menggelembung. Ini dipicu oleh pelapukan material serta getaran dari kendaraan besar yang setiap hari lalu lalang di jalan raya di depan candi,” ungkap Eri Budiantoro, Koordinator Rehabilitasi Tahap I dari BPK Wilayah X.
Tak hanya itu, atap Candi Mendut juga mengalami kebocoran serius. Dalam tahap awal restorasi yang berlangsung dari 11 Juni hingga 10 Desember 2025 ini, bagian atap akan dibongkar total. Nantinya, akan ditambahkan lapisan khusus antiair untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat hujan tropis yang deras.
“Untuk dindingnya, kita hanya bongkar bagian kulit luarnya. Tujuannya agar bagian yang menonjol dan melesak bisa diratakan dan dikembalikan ke bentuk aslinya,” tambah Eri.
Menurutnya, kerusakan paling terlihat ada di sisi timur, utara, dan selatan bangunan. Meski belum ditemukan retakan besar, perenggangan nat batu di beberapa titik perlu segera ditangani untuk mencegah risiko runtuh.
Proyek tahap kedua dijadwalkan berlangsung pada 2026. Fokusnya adalah pemasangan kembali atap candi, termasuk stupa utama yang kini belum utuh. Menariknya, proses ini akan merujuk pada dokumentasi rekonstruksi era Belanda.
“Batu-batu atap yang hilang akan dicari dan direkonstruksi ulang, agar wujud Candi Mendut bisa mendekati kondisi saat pertama kali didirikan,” kata Eri, yang juga pernah memimpin pemugaran candi-candi bersejarah lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Proses pemugaran dilakukan nyaris sepenuhnya secara manual, menggunakan tenaga terlatih dan perancah kayu tradisional untuk menopang pengerjaan di ketinggian.
Selama proses restorasi, pengunjung dilarang naik ke area candi demi alasan keamanan. Namun wisatawan tetap bisa menikmati panorama megah Candi Mendut dari pelataran, sekaligus menyaksikan langsung proses pelestarian warisan leluhur yang penuh ketelitian.
Comments are closed.