Cuaca Ekstrem Jadi Ujian, Tembakau Magelang Justru Panen dengan Harga Tinggi
METROJATENG.COM, MAGELANG – Di tengah guyuran hujan dan cuaca ekstrem yang melanda wilayah Magelang, para petani tembakau justru memanen optimisme. Bukannya surut, luasan tanam tembakau di daerah ini justru meningkat tajam, menunjukkan semangat dan kecerdikan petani dalam mengolah musim.
Data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang mencatat, hingga Mei 2025, luas lahan tembakau mencapai 3.430 hektare. Angka ini melampaui capaian tahun lalu yang hanya sekitar 3.250 hektare. Bahkan, potensi peningkatan masih terbuka lebar seiring belum ditanamnya sebagian besar area sawah.
“Ini angka sementara, yang sawah masih banyak belum tanam. Biasanya nanti menyusul dengan varietas Madura yang masa tanamnya pendek,” ungkap Widiarto Tri Saksono, Kabid Perkebunan Distanpangan Kabupaten Magelang, Senin (30/6/2025).
Menurut Widiarto, peningkatan luasan ini bukan sekadar kebetulan. Edukasi dari BMKG yang masif rupanya mampu mengubah cara pandang petani terhadap iklim. Mereka kini lebih adaptif dan cermat membaca cuaca.
“Petani kita sekarang pintar membaca musim. Itu buah dari edukasi terus-menerus,” imbuhnya.
Kendati harga jual belum ditetapkan karena masih masa tanam, Dinas Pertanian telah menjalin kerja sama dengan pabrikan rokok lokal di wilayah Ngluwar dan Salam agar hasil panen petani terserap optimal.
Pemerintah juga telah menyalurkan berbagai bantuan seperti pupuk, benih, alat penjemur (rigen), serta oven pengering tembakau dari Pemprov Jawa Tengah untuk mengantisipasi musim penghujan.
“Oven ini sangat membantu saat matahari tak bersahabat,” kata Widiarto.
Optimisme di Tengah Tantangan
Salah satu potret nyata optimisme itu datang dari Tuminah, petani tembakau di Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan. Ia mengungkapkan bahwa tahun lalu tembakau hasil panen awal—disebut rewukan—bisa tembus Rp40.000/kg meski belum dirajang. Kini, ia berharap harga bisa lebih tinggi karena pasokan dari daerah lain kemungkinan menurun akibat cuaca.
“Kalau sekarang, banyak yang enggak tanam. Tapi tanaman saya segar, sekitar dua ribuan batang masih aman meski hujan terus. Dua bulan lagi panen,” tutur Tuminah penuh semangat.
Ia menanam varietas tembakau Gombel yang dikenal berdaun lebar dan tangguh terhadap kondisi cuaca. Dengan strategi tanam tepat dan perawatan ekstra, ia yakin bisa panen sukses meski cuaca tak menentu.
Sebagai langkah antisipasi cuaca ekstrem, Distanpangan Magelang juga mendorong petani menerapkan pola tumpangsari dengan tanaman hortikultura lain untuk memperkecil risiko kerugian.
Dengan semangat petani yang tidak surut diterpa badai dan dukungan pemerintah yang terus mengalir, Magelang tampaknya siap menyambut musim panen tembakau yang bukan hanya menjanjikan hasil melimpah, tapi juga harapan baru bagi sektor pertanian daerah.
Comments are closed.