Puasa dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Tubuh, Otak, serta Kesehatan Mental
METROJATENG.COM, YOGYAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman memaparkan, puasa memiliki sejumlah manfaat yang sangat besar bagi kesehatan fisik, kognisi otak, serta kestabilan mental. Agus merujuk pada hasil penelitian dari Yoshinori Ohsumi, ilmuwan asal Jepang yang memenangkan Nobel di tahun 2016 berkat penemuan pentingnya autofagi dalam tubuh manusia.
“Autofagi adalah mekanisme tubuh untuk memperbarui sel yang telah rusak. Proses ini berlangsung dengan optimal apabila tubuh berpuasa selama lebih dari 12 jam, seperti yang dilakukan selama bulan puasa di Indonesia,” tuturnya.
Agus menambahkan bahwa puasa memiliki pengaruh besar dalam memperkuat sistem imun tubuh, mengatasi infeksi, dan bahkan menurunkan kemungkinan kanker dengan cara menahan pertumbuhan sel yang tidak normal.
Tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, puasa juga berperan penting dalam meningkatkan fungsi otak. Agus menjelaskan bahwa puasa merangsang penghasilan protein bernama brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yang bertugas melindungi otak dari kerusakan. “Secara logika, fungsi otak mereka yang berpuasa akan lebih terjaga dan optimal,” ujarnya.
Agus juga mengaitkan hal tersebut dengan ibadah membaca Al-Qur’an, terutama selama bulan Ramadan. Ia berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an tidak hanya sebatas ibadah semata, tetapi juga berperan sebagai latihan kognitif yang memperkuat koneksi antar sel otak. “Membaca Al-Qur’an memiliki pengaruh positif pada kecerdasan otak,” jelasnya.
Selain itu, Agus memberi contoh bahwa banyak ulama yang mampu menghafal Al-Qur’an hingga usia lanjut berkat kebiasaan membaca dan mengajarkannya.
Lebih jauh lagi, puasa juga mengajarkan disiplin mental. Agus mengingatkan bahwa puasa yang sesungguhnya tidak hanya melibatkan penahan lapar, tetapi juga harus diiringi dengan menjaga kejujuran. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa puasa seseorang tidak diterima jika ia masih berbohong. “Kejujuran adalah salah satu unsur penting dalam puasa. Tanpa itu, puasa kita bisa sia-sia,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya mengendalikan emosi, seperti amarah. Pasalnya, emosi yang tidak terkendali bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. “Penelitian dari Johns Hopkins School of Medicine menunjukkan bahwa pria yang sering marah berisiko tiga kali lebih besar terkena stroke,” tambahnya.
Agus mengajak umat untuk menjalankan puasa dengan niat tulus dan ikhlas, bukan untuk mencari pujian dari orang lain. “Puasa yang sesungguhnya akan membentuk tubuh, otak, dan mental kita menjadi lebih baik. Semoga Ramadan ini membawa kita lebih dekat dengan Allah dan menjadikan kita pribadi yang lebih mulia,” tutupnya.
Comments are closed.