Jemunak, Jajanan Khas Magelang yang Hanya Ada di Bulan Ramadhan
METROJATENG.COM, MAGELANG – Bagi generasi zaman now, jajanan jemunak tentu terdengar asing di telinga. Selain merupakan makanan tempo doeloe, jajanan khas Magelang ini juga hanya ada di bulan Ramadhan.
Keunikan jemunak adalah cara membuatnya yang masih menggunakan peralatan tradisional. Ketela pohon diparut lebih dulu sebelum dikukus setengah matang. Lalu, dicampur dengan ketan dan kembali dikukus hingga matang. Selanjutnya, ditumbuk menggunakan lumpang batu dan alu dari kayu. Barulah disajikan di atas daun pisang dengan ditaburi parutan kelapa dan juruh (gula merah cair).
Bagi para orang tua di Magelang, jemunak memiliki filosofi tersendiri, yang bermakna keikhlasan bagi orang yang berpuasa akan membuahkan berkah. Sehingga nama jemunak lahir dari kalimat ‘ujung-ujung ketemu penak’, yang artinya pada akhirnya akan menemui kenikmatan.
Bulan Ramadhan
Salah seorang pembuat jemunak di Desa Gunungpring, Magelang, Ponisih mengatakan, tidak lengkap kalau buka puasa tanpa jemunak. Ponisih merupakan generasi ke lima yang memproduksi jemunak di keluarganya. Namun, ia hanya berproduksi jika Ramadan tiba. Di luar itu, ia tidak berproduksi sekalipun mendapat pesanan dari masyarakat.
“Memasak jemunak kalau di bulan puasa saja. Sekalipun ada pesanan, kalau bulan di bulan Ramadhan, ya saya tolak”, ucapnya.
Selama bulan Ramadhan, Ponisih mengaku, mengolah singkpng sampai 25 kilogram dalam sehari, untuk dibuat jemunak. Dari 25 kilogram singkong tersebut, menghasilkan sekitar 700 bungkus jemunak.
Comments are closed.